Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jangan Salah Pilih Teman!

Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab (ku).Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Alquran ketika Alquran itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia (TQS al-Furqan [25]: 27-29).

Memilih teman dalam kehidupan bukan perkara yang sepele. Dari temanlah, seseorang banyak belajar dan meniru. Tak aneh, teman memberikan pengaruh besar bagi kebiasaan, kegemaran, karakter, pandangan hidup, ideologi, bahkan agama seseorang. Oleh karena itu, memilih teman yang baik merupakan keharusan. Sebab, teman yang baik dapat menuntun kepada jalan yang benar. Sebaliknya, teman yang jahat hanya akan menjerumuskan kepada kesesatan, penderitaan, dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.

Ayat ini memberitakan tentang penyesalan seseorang karena salah dalam memilih teman.

ilustrasi

Menyesal

Allah SWT berfirman: Yâ waylatâ laytanî lam attakhidz Fulân[an] khalîl[an] (kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku [dulu] tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab[ku]). Dalam ayat sebelumnya telah diberitakan tentang ungkapan penyesalan orang zalim di akhirat. Dia menyesal karena ketika di dunia tidak berada di jalan bersama Rasul.

Ayat ini kemudian melanjutkan ungkapan penyesalan mereka. Disebutkan ayat ini: Yâ waylatâ. Kata waylatâ berasal dari kata wayl. Menurut al-Khazin, kata wayl merupakan kata celaan yang dinyatakan ketika terjadi bala’ (musibah, bencana). Dengan demikian, frasa Ya waylata, sebagaimana diterangkan al-Syaukani, merupakan kutukan terhadap dirinya atas kecelakaan yang terjadi.

Kemudian dilanjutkan dengan kalimat berikutnya: laytanî. Kata layta mengandung makna tamanniy. Yakni harapan atau keinginan terhadap sesuatu yang mustahil atau amat sulit terjadi. Sehingga, kalimat itu menunjukkan makna penyesalan. Perkara yang disesalkan olehnya adalah kesalahannya telah menjadikan Fulan sebagai khalîl ketika di dunia.

Sebagaimana dinyatakan al-Syaukani, kata Fulân adalah kinayah bagi nama seseorang. Sedangkan khalîl –sebagaimana diterangkan Imam al-Qurthubi—adalah al-shâhib wa al-shadîq (sahabat dan teman). Masih menurut mufassir tersebut, yang dimaksud dengan Fulan di sini adalah Umayyah. Tidak disebutkan namanya secara terang agar hal itu tidak dikhususkan dan dibatasi hanya untuk dia saja. Akan tetapi, mencakup semua orang yang mengerjakan perbuatan yang semisalnya.

Menurut Mujahid dan Abu Raja—sebagaimana dikutip al-Qurthubi—yang dimaksud Fulan di sini adalah setan. Alasannya, dalam lanjutan ayat disebutkan: Wa kâna al-syaythân li al-insân khadzûl[an] (dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia). Pendapat yang sama juga dikemukakan al-Samarqandi dalam tafsirnya, Bahr al-‘Ulûm.

Kemudian dalam ayat berikutnya disebutkan: Laqad adhallanî ‘an al-dzkri ba’da idz jâ`anî (dia telah menyesatkan aku dari Alquran ketika Alquran itu telah datang kepadaku). Kalimat ini menjelaskan mengapa dia menyesal telah memilih Fulan sebagai teman dekatnya. Disebutkan bahwa Fulan tersebut telah menyesatkan dia dari al-dzikr setelah datang kepadanya.

Yang dimaksud dengan al-dzikr di sini adalah Alquran. Demikian penjelasan Ibnu Katsir, Ibnu Jarir al-Thabari, dan lain-lain. Sedangkan frasa: Ba’da idz jâ`anî berarti setelah sampainya Alquran kepadaku.

Diterangkan al-Alusi, disebutkannya al-lâm al-qasamiyyah (yakni kata laqad), untuk menunjukkan mubâlaghah (ungkapan hiperbolik) dalam menjelaskan kesalahannya dan menampakkan penyesalan dan kerugiannya. Artinya, “Demi Allah, sungguh dia telah menyesatkan aku dari dzikrullah, nasihat Rasululullah SAW, kalimat syahadat, dan Alquran.”

Dengan demikian, ayat ini memberitakan tentang adanya orang yang menyesal di akihrat karena salah memilih teman. Pasalnya, teman itu telah menyesatkan dirinya.

Menurut al-Khazin, hukum ayat ini berlaku umum untuk semua teman dekat dan dua orang saling mencintai yang berkumpul dalam kemaksiatan kepada Allah SWT. Dari Abu Musa al-Asy’ari, Nabi SAW bersabda: “Perumpamaan teman duduk orang yang shalih dan orang yang jahat adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, boleh jadi dia memberimu, engkau membelinya, atau setidaknya kamu mencium bau harumnya. Sedangan pandai besi, boleh jadi membuat bajumu terbakar, atau engkau mencium bau yang tidak sedap (HR al-Bukhari).

Demikian juga dengan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang tergantung agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah seorang dari kalian memperhatikan, dengan siapa dia berteman dekat.” (HR Abu Dawud). Juga hadits dari Abu Said a-Khudri, Rasulullah saw bersabda: “Janganlah berteman kecuali dengan orang Mukmin, dan janganlah makan makananmu kecuali orang yang bertakwa (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi).

Semua hadits itu menunjukkan betapa besar pengaruh teman terhadap seseorang. Maka sungguh tepat pernyataan Malik bin Dinar –sebagaimana dikutip al-Qurthubi— yang berkata, “Sesungguhnya, jika engkau memikul batu bersama orang-orang yang baik, itu lebih baik daripada kamu memakan roti bersama orang-orang jahat.”

Setan Menelantarkan Manusia

Kemudian ayat ini diakhiri dengan firman-Nya: Wa kâna al-syaythân li al-insân khadzûl[an] (dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia). Menurut al-Khazin, yang dimaksud dengan setan di sini adalah semua pembangkang yang membangkang dan menentang jalan Allah, baik dari kalangan jin atau manusia. Dikemukakan juga oleh al-Qurthubi, semua yang mencegah dari jalan Allah dan ditaati dalam maksiat kepada Allah adalah setan bagi manusia.

Ditegaskan ayat ini bahwa terhadap manusia, setan tersebut khadûl[an]. Kata tersebut merupakan bentuk mubâlaghah dari kata al-khidlân (tidak memberikan pertolongan. Artinya, tidak memberikan bantuan dan pertolongan ketika dibutuhkan oleh orang-orang yang menduga diberikan pertolongan. Demikan penjelasan Syihabuddin al-Alusi. Itulah dilakkukan setan terhadap manusia. Diterangkan al-Qurthubi, semua setan menelantarkan (orang yang disesatkan) ketika turun azab dan musibah.

Menurut al-Sa’di, kandungan ayat ini sebagaimana dberitakan dalam firman Allah SWT: Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih (TQS Ibrahim [14]: 22).

QS Ibrahim [14]: 22 ini jelas menunjukkan bahwa setan sama sekali tidak menolong orang yang disesatkannya. Lebih dari itu, setan tersebut justru menyalahkan pengikutnya, mengapa mereka mau mengikuti seruan dan ajakannya.

Sungguh malang nasib orang-orang yang mengikuti ajakan dan bujukan setan. Di akhirat kelak, mereka menyesal dengan penyesalan luar biasa. Mereka hanya bisa mengutuki dirinya sendiri mengapa telah salah memilih teman dekat. Teman yang lebih diikuti daripada petunjuk Allah SWT yang telah datang kepadanya. Teman yang mampu membujuknya sehingga lebih memilih ide-ide kufur daripada syariah dari Allah SWT yang benar dan lurus. Teman yang membuatnya berpaling dari Islam kepada sistem dan ide kufur. Teman yang sesungguhnya adalah musuh yang nyata baginya. Allah Swt berfirman: Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa (TQS al-Zukhruf [43]: 67).

Semoga kita dijauhkan dari keadaan tersebut. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.[Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

Posting Komentar untuk "Jangan Salah Pilih Teman!"

close