Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Neoliberalisme & Neoimperialisme: Ancaman Nyata


Perkara penting yang kerap dilakukan negara-negara imperialis untuk mengokohkan penjajahan mereka di dunia Islam adalah penyesatan politik (tadhlil as- siyasi), terutama dalam dua hal yaitu penyebab persoalan di Dunia Islam dan solusi yang sesungguhnya. Akibatnya, umat Islam sering keliru dalam menentukan siapa sesungguhnya yang menjadi musuh mereka, apa ancaman sejati yang menikam mereka.

Saat ini, penyesatan politik yang gencar dilakukan Barat dan para penguasa bonekanya adalah mengangkat ISIS sebagai ancaman dunia, termasuk Dunia Islam. Berbagai monsterisasi dan dramatisasi dilakukan untuk menunjukkan seakan-akan terorisme yang dicitrakan oleh ISIS adalah musuh nyata dunia, termasuk kaum Muslim. Seakan-akan ISIS-lah yang menjadi pangkal kekacauan dunia.

Isu ISIS ini pun dieksploitasi untuk membenarkan terorisme Amerika. Dengan alasan memerangi ISIS, Amerika leluasa menyerang wilayah-wilayah Irak dan Suriah. Belang Amerika pun terbongkar karena ternyata target serangan Amerika bukan hanya ISIS, tetapi juga kelompok-kelompok mujahidin di Suriah yang selama ini berseberangan dengan Amerika.

Para pengusa di negeri-negeri Islam pun, seolah memiliki legitimasi politik, untuk kembali bekerjasama dengan Amerika dengan satu alasan: memerangi terorisme. Penguasa Yordan, Saudi Arabia, Turki, Irak dan negara-negara Teluk lainnya—atas nama koalisi bersama melawan ISIS—berkerja serius memuluskan politik penjajahan Amerika di kawasan Timur Tengah.

Amerika dan para penguasa bonekanya juga mengeksploitasi perang melawan ISIS, juga apa yang mereka tuding sebagai kelompok radikal dan ekstremis. Tujuannya adalah untuk menghentikan proyek umat Islam global: menegakkan Khilafah Islamiyah ‘ala Minhaj an-Nubuwah. Dengan mengeksploitasi beragam tindakan ISIS yang tidak sepenuhnya mewakili Islam, mereka bermaksud menyerang konsep-konsep penting dalam Islam seperti syariah, khilafah dan jihad fi sabilillah.

Amerika dan para penguasa bonekanya di Dunia Islam berharap—dengan memberikan citra jelek terhadap syariah, khilafah dan jihad fi sabilillah—akan menghentikan keinginan umat yang semakin kuat bagi tegaknya Khilafah Islamiyah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah yang jelas mengancam kekuasan jahat mereka. Di sisi lain dengan eksploitasi ancaman ISIS, mereka berharap menutupi kegagalan sistem Kapitalisme yang diterapkan di negeri-negeri Islam.
Namun, semua tindakan mereka pasti gagal. Amerika dan para penguasa bonekanya tidak akan bisa menghentikan proyek besar umat Islam untuk menegakkan Khilafah Islam yang akan menerapkan syariah secara kaffah. Penyesatan politik yang mereka lakukan justru membongkar topeng mereka sendiri: menunjukkan standar ganda dan kebohongan mereka.

Saat penguasa Yordania menyerang target ISIS di Suriah dan Irak, saat diberitakan seorang pilotnya dibakar hidup-hidup, umat Islam malah bertanya, kemana Raja Abdullah penguasa Yordania selama ini, saat ribuan umat Islam di Ghaza yang dekat dengan negara itu, dibakar hidup-hidup oleh bom-bom berdaya rusak tinggi teroris Yahudi? Demikian pula saat diktator Mesir, as-Sisi, mengirim pesawat tempurnya untuk membombardir apa yang diklaim sebagai target ISIS di Libya karena telah membunuh warga Kristen Mesir, umat Islam malah bertanya tentang kekejaman yang dilakukan diktator as-Sisi sendiri. Saat penguasa diktator ini membantai ribuan pendukung al-Ikhwan di lapangan ar-Rabi’ah, di mana letak kemanusiannya terhadap rakyat?

Para penguasa Arab juga dipertanyakan kemana mereka saat rezim Bashar Assad membantai rakyatnya sendiri yang diperkirakan telah menewaskan lebih dari 200 ribu orang. Mengapa mereka tidak melakukan apa-apa saat Assad menggunakan bom-bom kimia untuk memberangus rakyatnya sendiri? Sikap mereka yang bersegera menyerang ISIS karena sejalan dengan Amerika, sementara hanya diam saat umat Islam di Ghaza, Suriah dibantai, telah mengokohkan kejahatan mereka di mata umat Islam. Mereka tidak lain para pelayan hina negara kafir Amerika.

Mereka akan gagal karena umat Islam saat ini merasakan langsung berbagai penderitaan akibat sistem Kapitalisme liberal yang diterapkan di negeri mereka. Ini tampak dari maraknya kemiskinan, pengangguran, kelaparan, kurang gizi, kriminalitas, korupsi, dll di negeri-negeri Islam. Penderitaan rakyat ini akan menggagalkan propaganda perang melawan terorisme.

Seperti di Indonesia, sangat menggelikan saat rezim penguasa menjadikan radikalisme dan terorisme sebagai ancaman besar untuk Indonesia. Padahal di depan mata, berapa banyak rakyat yang terbunuh karena miskin, lapar, atau menjadi korban krimalitas akibat kebijakan liberal penguasa negeri ini.

Liberalisme juga telah merampas hak rakyat. Kekayaan alam negeri Islam yang merupakan milik rakyat dengan kebijakan liberalisme justru dirampok oleh negara-negara imperialis melalui perusahan-perusahaan asing. Berapa banyak pula hak rakyat yang dirampas melalui korupsi yang merajalela? Belum lagi berbagai kebijakan seperti liberalisasi migas yang berujung pada pencabutan subsidi untuk rakyat, telah menambah penderitaan rakyat. Beban rakyat pun semakin berat ketika pajak dijadikan sabagai masukan utama dari rezim neo-liberal ini.

Kegagalan Barat untuk melakukan penyesatan politik ini ditegaskan Amir Hizbut Tahrir dalam pidatonya saat Pembukaan Konferensi Khilafah di Istanbul, 3 Maret 2015. Di antara kutipan pidato Syaikh Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah antara lain:

Namun, sebagaimana mereka gagal dalam sarana-sarananya sebelumnya, kali ini mereka pun gagal dan akan terus gagal dengan izin Allah. Masyarakat telah memahami Khilafah yang syar’i. Mereka sudah mampu membedakan Khilafah yang syar’i dengan Khilafah yang diklaim..

Sesungguhnya Khilafah yang haq itu adalah Khilafah yang melindungi darah, kehormatan dan harta serta memenuhi dzimmah (perjanjian), mengambil baiat dengan keridhaan dan pilihan sendiri, bukan dengan penindasan dan paksaan. Orang-orang berhijrah kepada Khilafah dengan penuh rasa aman bukan malah lari darinya dengan ketakutan.

Alhasil, ajakan berjuang bersama-sama oleh Amir Hizbut Tahrir dalam konferensi bulan Maret lalu di Istanbul perlu kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Al-Alim Syaikh Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah menyatakan, “Berjuanglah untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam di muka bumi dengan mengembalikan Daulah al-Khilafah ar-Rasyidah. Berdiam diri dari hal itu adalah dosa besar, kecuali untuk orang yang menghiasi diri dengan perjuangan.”

Allahu Akbar! [Farid Wadjdi] [www.visimuslim.com]

Posting Komentar untuk "Neoliberalisme & Neoimperialisme: Ancaman Nyata"

close