Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perang di Masa Rasulullah Saw. [Bagian 2]


Ketiga belas: Perang Badar III.

Perang ini terjadi pada bulan Dzul Qa’dah tahun 4H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 1500 pasukan infantri dan 10 pasukan dengan berkendara menghadapi 2000 infantri kaum musyrikin dan 50 pasukan berkendara yang dipimpin oleh Abu Sufyan.

Orang-orang Mekah datang untuk menyerang Madinah. Ketika sampai di wilayah Zharan atau Asfan, Rasulullah mengetahui kedatangan mereka, maka beliau pun menyiapkan pasukan untuk menghadang mereka. Abu Sufyan yang mengetahui kesiapan kaum muslimin pun kembali dan mengurungkan penyerangan.

Lemahnya mental musuh-musuh Rasululllah sesuai dengan sabda beliau,

نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ

“Aku ditolong dengan kegentaran musuh sejauh perjalanan satu bulan.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Keempat belas: Perang Dumatul Jandal.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 5H. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 1000 orang sahabatnya menghadapi kabilah-kabilah musrik di wilayah Dumatul Jandal, sebuah daerah dekat wilayah Syam.

Perang ini dilatar-belakangi oleh kabilah-kabilah musyrik di Dumatul Jandal yang melakukan perampokan bagi orang yang melewati daerah mereka dan menggalang kekuatan untuk menyerang Madinah.

Para ahli sejarah berselisih apakah terjadi kontak senjata pada perang ini atau tidak. Ibnul Jauzi dalam Tarikh al-Muluk wa al-Umam menyatakan terjadi kontak senjata. Sedangkan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, menukil dari Ibnu Ishaq berpendapat tidak terjadi kontak senjata.

Ash-Shalabi dalam karyanya Shalahuddin al-Ayyubi wa Juhuduhu fi Qaadha ala ad-Daulah al-Fatimiyah wa Tahriri Baitil Maqdis mengatakan inilah kontak pertama umat Islam dengan orang-orang Salib (orang Nasrani). Karena Dumatul Jandal dekat wilayah Syam yang dikuasai Romawi yang berama Nasrani.

Kelima belas: Perang Bani Musthaliq.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Sya’ban tahun 5H. Perang ini terjadi di daerah Muraisi’, karenanya Perang Bani Musthaliq disebut juga dengan Perang Muraisi’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 700 pasukan infantri dan 30 pasukan berkuda menghadapi orang-orang Bani Musthaliq yang dipimpin oleh al-Harits bin Abi Dharar.

Sebab terjadinya perang ini adalah orang-orang Bani Musthaliq berencana menyerang kaum muslimin. Nabi mengutus Buraidah bin al-Hashib untuk menanyakan kepada al-Harits tentang pernyataan perang tersebut. Dan berita tersebut benar sebagaimana adanya. Nabi pun dengan cepat merespon hal itu dengan terlebih dahulu melakukan penyerangan. Perlu diketahui, Bani Musthaliq adalah sekutu Mekah saat Perang Uhud.

Perang ini dimenangkan oleh kaum muslimin dengan satu orang sahabat gugur di medan jihad. Sementara 10 orang dari Bani Musthaliq tewas dan sisanya menjadi tawanan.

Keenam belas: Perang Ahzab atau Perang Khandaq.

Mayoritas ahli sejarah dan maghazi berpendapat, perang ini terjadi pada bulan Syawal tahun 5H. Sementara al-Waqidi berpendapat perang ini terjadi pada tanggal 3 Dzul Qa’dah tahun 5H. Adapun Ibnu Saad berpendapat bahwa perang ini terjadi pada tanggal 4 Dzul Qa’dah 5H. Ada juga yang berpendapat perang ini terjadi pada tahun 4H. Imam Ibnul Qayyim lebih memilih pendapat mayoritas ulama.

Perang Ahzab adalah perang melawan sekutu orang-orang musyrik Mekah, musyrik luar Madinah, dan dibantu oleh Yahudi. Mereka semua secara serentang melakukan penyerangan terhadap Kota Madinah. Total jumlah mereka adalah 10.000 orang, dengan dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb. Sementara kaum muslimin berjumlah 3000 orang dengan dipimpin oleh sebaik-baik panglima perang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perang ini dipicu oleh beberapa orang Yahudi Madinah yang menyeru Mekah dan kabilah-kabilah musyrik lainnya untuk bersekutu menginvasi Madinah. Mengetahui kabar yang sangat berbahaya ini, kaum muslimin membangun parit (Bahasa Arab: Khandaq) sebagai benteng pertahanan dari serangan sekutu besar ini.

Walaupun dikepung dan diserang selama satu bulan, kaum muslimin berhasil bertahan. Musuh pun kembali dengan tangan hampa, tanpa kemenangan.

Ketujuh belas: Perang Bani Quraizhah.

Perang ini terjadi pada bulan Dzul Hijjah tahun 5H. Saat Rasulullah membersihkan diri sepulangnya dari Perang Ahzab, Malaikat Jibril datang menemui beliau dan mengatakan, “Apakah engkau sudah meletakkan senjata? Demi Allah, kami para malaikat masih memanggul senjata-senjata kami. Keluarlah menuju mereka”. Rasulullah bertanya, “Kepada siapa?” “Kesana”. Kata Jibril menunjuk kea rah perkampungan Bani Quraizhah. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berangkat menuju Bani Quraizhah (HR. Bukhari).

Yahudi Bani Quraizhah memiliki peran sentral atas terkepungnya kaum muslimin selama 1 bulan dalam Perang Ahzab. Merekalah yang melobi orang-orang musyrik untuk menyerang Madinah, padahal Bani Quraizhah telah mengadakan perjanjian damai dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perang ini berakhir dengan kemenangan kaum muslimin. Dari pihak kaum muslimin gugur 4 orang sahabat dan 200 lainnya luka-luka. Sementara dari 400 orang Yahudi ada yang tewas da nada pula yang ditangkap.

Kedelapan belas: Perang Bani Lihyan

Perang ini terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 6 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 200 orang sahabatnya menghadapi Bani Lihyan yang membunuh 10 orang sahabat Rasulullah.

Mendengar kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang Bani Lihyan pun lari.

Kesembilan belas: Perang Dzi Qard atau al-Ghabah.

Perang ini terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 6 H. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 500 orang sahabatnya menghadapi Uyainah bin Hishn al-Fazari bersama pasukan berkuda dari orang-orang Ghathafan. Pasukan ini menyerang peternakan Rasulullah dan membunuh seorang dari Bani Ghifar dan menawan istrinya.

Orang-orang Ghathafan ini pun pergi melarikan diri. Dan akhirnya sang wanita tawanan berhasil datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan selamat.

Pada 680-an seorang pendeta bernama John Bar Penkaye yang sedang menyusun sejarah dunia termenung tentang ihwal penaklukkan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Ia bertanya-tanya, “Bagaimana bisa, orang-orang tanpa senjata, berkuda tanpa baju baja dan perisai, berhasil memenangkan pertempuran… dan meruntuhkan semangat kebanggaan orang-orang Persia?” Ia semakin terenyak, “hanya dalam periode yang sangat singkat seluruh dunia diambil alih orang-orang Arab; mereka menguasai seluruh kota yang dikuasai benteng, mengambil alih pengawasan dari laut ke laut, dan dari timur ke barat –Mesir, dari Crete ke Cappadocia, dari Yaman ke Pegunungan Kaukasus, bangsa Armenia, Syiria, Persia, Biyzantium, dan seluruh wilayah di sekitarnya.” (Kennedy, 2008: 1).

Apa yang membuat penaklukkan muslim Arab begitu mencengangkan dengan efek permanennya yang terjadi dalam Bahasa dan agama? Apa yang membuat wilayah-wilayah taklukkan yang multikultural dari segi Bahasa dan agama menjadi berbaur dan menyatu?

Anda akan dengan mudah menjawab dua pertanyaan di atas jika mengikuti tulisan ini dari awal. Ya, perang yang dilakoni oleh umat Islam berbeda dengan perang-perang lainnya. Ya, cara umat Islam memperlakukan musuh, tawanan, dan daerah taklukkanlah membuat hati-hati manusia tunduk sebelum mereka wilayah mereka ditaklukkan.

Penulis sepenuhnya menyadari, hal ini akan sulit dipahami oleh para pembaca. Karena kita menyaksikan pemberitaan tentang dunia Arab, melulu bermuatan negatif. Sadar tidak sadar, otak kita “dicuci” hingga di antara kita sampai bertanya-tanya, mengapa Islam diturunkan di Arab? Lalu jawaban pun terlontar, diturunkan Islam di sana saja tingkah mereka masih demikian, bagaimana kalau Islam tidak turun di sana. Media telah berhasil mencuci otak kita. Dan kita pun tidak mengimbanginya dengan membaca sejarah kita, sejarah kaum muslimin.

Dalam artikel ke-3 ini, penulis akan mencuplikkan peperangan Rasulullah dari perang yang ke-20 hingga ke-27.

Kedua puluh: Perang Hudaibiyah.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzul Qa’dah tahun 6 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama 1400 orang sahabatnya hendak menunaikan umrah. Sesampainya di Hudaibiyah mereka dihalangi oleh orang-orang Quraisy. Lalu terjadilah perjanjian damai.

Kedua puluh satu: Perang Khaibar.

Perang besar ini terjadi pada bulan Muharam tahun ke-7 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 1400 orang pasukan infantri dan 20 pasukan berkendara menghadapi 10.000 orang Yahudi Khaibar yang dipimpin oleh Kinanah bin Abi al-Haqiq.

Sebelumnya, orang-orang Yahudi telah memerangi umat Islam pada Perang Uhud dan Ahzab. Kemudian dari Khaibar, mereka berencana menyerang Madinah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mendahului rencana mereka. Dan Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin.

Dalam perang ini, 50 orang sahabat Nabi terluka dan 18 gugur di medan tempur. Sementara dari pihak Yahudi 93 orang tewas.

Kedua puluh dua: Perang Wadi al-Qura.

Perang ini terjadi pada bulan Muharam tahun 7 H. Setelah tuntas menghadapi Yahudi di Khaibar, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 1382 orang sahabatnya menghadapi Yahudi Wadi al-Qura. Perang ini berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dan 11 orang Yahudi tewas.

Kedua puluh tiga: Perang Dzatu ar-Riqaq.

Perang ini terjadi pada bulan Muharam tahun 7 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 400 orang sahabatnya menghadapi pasukan sekutu orang-orang musyrik dari Bani Ghathafan, Bani Muharib, Bani Tsa’labah, dan Bani Anmar.

Perang ini dilatar-belakangi oleh seruan Bani Ghathafan kepada sekutu-sekutunya untuk berangkat menyerang umat Islam di Madinah. Namun, setelah mengetahui kaum muslimin telah bersiap meladeni mereka, mereka pun lari dan tercerai-berai.

Kedua puluh empat: Penaklukkan Kota Mekah.

Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun 8 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 10.000 orang sahabatnya untuk menyerang Mekah yang telah membatalkan perjanjian damai di Hudaibiyah. Mekah memerangi Bani Bakr yang merupakan sekutu Nabi dalam perjanjian tersebut.

Peristiwa ini berakhir dengan menyerahnya orang-orang Mekah. Akhirnya, setelah 8 tahun berpisah, Rasulullah kembali menginjakkan kaki beliau di tanah kelahirannya tersebut.

Kedua puluh lima: Perang Hunain atau Perang Awthas atau Perang Hawazin.

Perang ini terjadi pada bulan Syawal tahun 8 H/630 M. Kaum muslimin memiliki pasukan yang begitu besar, karena orang-orang Mekah telah menjadi bagian dari keluarga kaum muslimin. Saat itu, Rasulullah memimpin 12.000 sahabatnya untuk menghadapi sekutu orang-orang Hawazin, Tsaqif, Bani Muiz, Bani Hilal, dll.

Perang ini dilatar-belakangi kekhawatiran orang-orang Hawazin setelah mendengar umat Islam menaklukkan Mekah. Setelah Mekah jatuh, mereka menyangka kaum muslimin akan memerangi mereka. Mereka pun menyiapkan pasukan untuk menyerang umat Islam terlebih dahulu. Mendengar kabar tersebut Rasulullah mengirim mata-matanya menuju Hawazin dan akhirnya beliau siapkan 10.000 pasukan yang ikut bersama beliau dalam penaklukkan Mekah ditambah 2000 pasukan dari Mekah.

Kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran ini. Namun karena kecerobohan kaum muslimin di awal perang, mereka menderita kerugian yang cukup besar dengan 6 orang gugur di medan perang dan 6000 lainnya terluka. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala,

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah: 25)

ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَنْزَلَ جُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At-Taubah: 26).

Sementara dari pihak orang-orang musyrik 71 orang tewas terbunuh.

Kedua puluh enam: Perang Thaif

Perang ini terjadi pada bulan Syawal tahun 8 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 12.000 pasukannya menghadapi Bani Tsaqif di Thaif. Rasulullah mengepung perkampungan mereka dan akhirnya mereka menyerah dan memeluk Islam.

Kedua puluh tujuh: Perang Tabuk.

Perang Tabuk terjadi pada bulan Rajab tahun 9 H. Sebelumnya, pada Jumadil Awal tahun 8 H, Romawi cukup dibuat terkejut dengan perlawanan umat Islam di Perang Mu’tah. Akibat dari peperangan itu, kabilah-kabilah Arab yang dijajah Romawi mulai berani melakukan pembangkangan. Dalam Perang Mu’tah juga, gugur sahabat-sahabat dekat Rasulullah dan panglima Perang Mu’tah: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahahradhiallahu ‘anhum.

Untuk membuat perhitungan terhadap umat Islam, Romawi merencanakan menyerang Madinah. Kabar tersebut sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau siapkan 30.000 sahabatnya menghadapi negara adidaya Romawi itu di Tabuk.

Peristiwa ini berakhir tanpa kontak senjata, karena orang-orang Romawi enggan menghadapi kaum muslimin di Tabuk, mereka lebih senang jika Rasulullah dan pasukannya mendatangi benteng mereka di Syam. Padahal Rasulullah telah beberapa hari menunggu kedatangan mereka di Tabuk.

Hal ini semakin menambah kewibawaan Negara Islam Madinah di hadapan Romawi dan bangsa Arab secara umum.

Penutup

Demikianlah di antara peperangan yang terjadi di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, khususnya yang beliau pimpin secara langsung. Dari kisah peperangan ini, kita bisa melihat sosok manusia sekaligus utusan Allah yang memiliki kemampuan yang begitu komplit.

Tidak ada seorang pemimpin yang menguasai seluruh bidang dengan begitu detilnya, kecuali beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memiliki kemampuan manajerial yang utuh dalam bidang pemerintahan, ekonomi, militer, dll. Membaca kisah-kisah peperangan beliau, penulis merasakan takjub yang luar biasa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengorganisir pasukannya sedemikian rupa dan pengenalan beliau terhadap medan pertempuran sangat detil.

Lihatlah di Uhud, beliau tempatkan pasukan-pasukan pada pos-pos yang sangat strategis, beliau mampu melakukannya dengan timing yang tepat sebelum orang-orang Mekah tiba di Uhud sehingga musuh tidak mampu berbuat apapun. Jika pasukan pemanah tidak melanggar perintah beliau, kemenangan di Uhud pun akan diraih dengan mudah. Demikian juga apa yang terjadi di pada Perang Bani Lihyan, Rasulullah tidak membiarkan sahabatnya mengejar orang-orang Bani Lihyan hingga ke balik bukit. Karena beliau tahu, medan tersebut akan mengakibatkan pasukan Islam terlihat oleh orang-orang Mekah, dan Mekah akan menyangka kalau umat Islam akan menyerang mereka. Ketika Mekah merespon, jumlah umat Islam di Perang Bani Lihyan tidak akan sanggup menghadapi mereka.

Mudah-mudahan tulisan yang singkat ini dapat menjadi pembelajaran bahwa perang umat Islam sangat jauh berbeda dengan apa yang dicitrakan oleh media-media Barat. Mudah-mudahan tulisan yang singkat ini menjadikan cinta kita kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kian bersemi.

Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Sumber:
– Hisyam, Ibnu. 2009. as-Sirah an-Nabawiyah. Beirut: Dar Ibn Hazm.
– Kennedy, Hugh. 2008. The Great Arab Conquests. Tangerang: Pustaka Alfabet.
– al-Hakawty.net
– Islamstory.com

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07) [www.visimuslim.com]

Posting Komentar untuk "Perang di Masa Rasulullah Saw. [Bagian 2]"

close