Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Generasi Emas Pembangun Peradaban Berkualitas


Oleh : Viki Nurbaiti Muswahida, S.Pd
(Tentor Ganesha Operation)

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjadikan isi dari sebuah Negara tersebut berkualitas. Tak hanya dari segi keterampilan namun juga diukur dari pola pikir (‘aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) untuk mencetak generasi yang cakap dan bermartabat. Jika kita bercermin dari bangsa-bangsa yang dianggap besar saat ini seperti jepang sebagai negeri para teknokrat atau sebagian negeri-negeri barat yang menjadi negara industri, maka akan kita temui bagaimana nahkoda mereka mampu membawa kapal peradabannya menjadi armada yang dianggap hebat, tangguh dan tak tergoyahkan. Lantas, siapa yang mewujudkan semua itu kalau bukan generasi yang ada didalamnya? Siapa dan apa yang memimpin pola pikir dan pola sikap mereka sehingga mereka dengan tangguh membangun negeri mereka yang sebagian besar dari kita silau karenanya?

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat mahsyur di mata dunia. Berbagai  julukan pun disematkan untuk bangsa ini, antara lain: The Big Mouslem Population, negara agraris, negara maritim, jamrud kathulistiwa, Heaven Earth, negara seribu pulau, paru-paru dunia, dan lain sebagainya. Seharusnya negeri kita menjadi bangsa yang besar dan mampu memimpin dunia. Tetapi lihatlah kenyataannya pada saat sekarang yang melanda ibu pertiwi kita tercinta, sejuta permasalahan menimpa negeri. Pemberitaan media tak pernah kosong dari peristiwa memiriskan yang melanda negeri ini. Parahnya, mayoritas permasalahan sekarang melanda para generasi muda pembangun peradaban, antara lain; kejahatan dan kekerasan seksual, sodomi, LGBT, tren seks bebas remaja, krisis identitas. Survei KPAI menyebutkan, 97% siswa SMA menonton atau mengakses situs pornografi, 92,7% siswa telah melakukan ciuman, bercumbu dan seks oral, 62% siswa pernah melakukan hubungan badan dan 21,2% pengguguran kandungan. Sangat disayangkan jika potensi yang dimiliki pemuda bobrok dan rusak karena pengaruh lingkungan yang menganut sistem kebebasan berperilaku, sosial media dan dampak dari globalisasi yang tak terfilter. 

Sesungguhnya generasi muda adalah intelektual yang memiliki potensi penting dalam pilar peradaban. Potensi intelektualitasnya adalah modal penting untuk membangun dan meninggikan peradaban mulia. Merekalah yang merancang tonggak sejarah kehidupan suatu bangsa, merekalah yang mewarnai dan menentukan profil suatu bangsa, sehingga nasib suatu bangsa akan lahir dari komunitas intelektual yang mulia pula. Mereka mengusulkan banyak sekali solusi dalam banyak topik seperti: politik, ekonomi, sains dan teknologi. Untuk itu negara harus memiliki kebijakan yang tepat dalam menyiapkan para intelektual untuk mengoptimalkan peran strategisnya tersebut.

Sebagai negara yang penduduknya mayoritas muslim dan memiliki bonus demografi usia produktif yang besar, maka didalamnya terdapat intelektual muslim. Intelektual muslim adalah generasi muda yang diberikan keistimewaan oleh Allah SWT untuk menggunakan kecerdasan dan kapabilitas intelektualitasnya untuk mengambil pelajaran (ulul albab) dari sejarah umat manusia, termasuk belajar dari generasi gemilang masa kejayaan islam. Mereka diberikan kesempatan oleh Allah untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Karena ilmu yang dimiliki tersebut, islam memberikan posisi/ kemuliaan dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu, selama ilmu tersebut disandarkan pada keimanan yang benar kepada Allah SWT (QS. Az-Zumar: 9).

Para intelektual muslim harus mampu menyatukan pola pikir (‘aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) dalam mengembangkan keilmuannya membangun peradaban. ‘Aqliyah (pola pikir) adalah cara yang digunakan untuk memikirkan sesuatu; yakni cara mengeluarkan keputusan hukum tentang sesuatu, berdasarkan kaidah tertentu yang diimani dan diyakini seseorang. Pilar yang digunakan intelektual muslim adalah aqidah aqliyah islam. Mereka harus paham akan posisi dirinya terhadap Sang Pencipta yakni sebelum menjadi intelektual adalah menjadi hamba Allah. Sehingga kepakaran yang diraih nantinya akan diperuntukkan sesuai tuntutan kompetensi yang diinginkan islam, yaitu untuk menyelesaikan permasalahan dan mewujudkan kemaslahatan (kesejahteraan) umat. Intelektual yang seperti inilah yang mulia dihadapan Sang Pencipta, yaitu umat yang bertakwa. Intelektual harus paham benar untuk apa alam semesta ini diciptakan, apa yang terkandung didalam alam semesta ini, bagaimana mengeksplorasikannya, mengelola dengan benar dan memanfaatkannya dengan amanah untuk kelangsungan hidup manusia, dengan bersinergi melibatkan para pakar dari bidang ilmu lain akan terciptalah bangsa yang berkembang diatas kehidupan yang rahmatan lil’alamin. 

Sedangkan nafsiyah (pola sikap) adalah cara yang digunakan seseorang untuk memenuhi tuntutan gharizah (naluri) dan hajat al-adhawiyah (kebutuhan jasmani); yakni upaya memenuhi tuntutan tersebut dengan kaidah yang diimani dan diyakini. Jika pemenuhan naluri dan kebutuhan jasmani dilaksanakan dengan sempurna berdasarkan aqidah islam, ketika seseorang menuntut ilmu ditujukan untuk beribadah, maka dengannya kita bisa mengeksplor kekayaan alam semesta yang telah dihamparkan oleh Allah SWT. dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya hasilnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan jasmani menuju rahmatan lil’alamin, bukan hanya ditujukan untuk kepentingan personal atau hanya pada para pemilik modal. Tetapi jika tujuan tersebut ditinggalkan, akan melahirkan generasi yang justru meningkatkan kuantitas problematika umat.

Intelektual harus berkaca dan menjadikan teladan ilmuwan-ilmuwan muslim masa kekhilafahan dulu. Mereka mampu menghafal al-qur’an, ribuan hadist, dan mengamalkan kandungan al qur’an untuk temuan-temuan ilmiah dan mampu menghadirkan kedunia karya-karya terbaik. Negara juga memiliki peran untuk menciptakan ketakwaan pada diri setiap individu dan melakukan kontrol sosial dimasyarakat untuk mentaati syariat islam. Sehingga tercipta keselarasan antara individu, kontrol sosial dan negara. Inilah saatnya intelektual muslim menyatukan visi dan misi hidupnya. Visi hidupnya yang pertama sebelum menjadi intelektual adalah menjadi hamba Allah, yang dihadirkan kedunia untuk menjadi yang terbaik, untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya untuk bangsa Indonesia saja, tetapi untuk seluruh dunia. Selain itu, intelektual muslim memiliki tanggung jawab mengingatkan manusia, menyuruh yang makruf dan mencegah yang munkar dan membuktikan keimanan kepada Allah. Inilah saatnya mereka duduk bersama untuk mengintegrasikan dan mensinergikan seluruh potensi yang mereka miliki, untuk menyelesaikan problematika umat diseluruh negeri dan mengukir peradaban emas dengan menyatukan ilmu, iman, amal, aqidah, akhlak dan jihad. [VM]

Posting Komentar untuk "Generasi Emas Pembangun Peradaban Berkualitas"

close