Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Paham: Pengerahan Pasukan Brimob pada 4 November Berlebihan

Pasukan BRIMOB POLRI
Pusat Advokasi Hukum dan HAM (Paham) Indonesia menyebutkan rencana Kapolri mengerahkan pasukan Brigade Mobil (Brimob) ke Jakarta terkait aksi unjuk rasa pada 4 November dinilai kurang tepat dan berlebihan. Menurut Sekjen Paham, Rozaq Asyari, semestinya Kapolri cukup menggerakkan pasukan Sabara, bukan Brimob. 

"Biasanya di masing-masing polda ada dua kompi, sedangkan pada Polres ada satu pleton. Untuk mengamankan penyampaian pendapat dimuka umum atau unjuk rasa, itu tugas mereka”, ujar Rozaq dalam siaran persnya yang diterima Republika.co.id, Ahad (30/10).

Menurutnya, bila yang diturunkan pasukan Brimob seolah akan ada skenario caos. “Kalau Brimob yang di gerakkan, ini berarti yang bekerja adalah satuan PHH. Seolah yang bakal terjadi adalah kerusuhan, padahal aksi 4 November sebenarnya bentuk dukungan masyarakat kepada Polri untuk menegakkan hukum. Jadi kegiatan tersebut sebenarnya dukungan moril terhadap kinerja polri, sebaiknya jangan di respons terlalu berlebihan” paparnya.

Namun Rozaq menghormati keputusan Kapolri tersebut, tentunya ada pertimbangan khusus sehingga langkah tersebut diambil. Namun dia mengingatkan agar aparat tidak bertindak berlebihan, tidak perlu represif apalagi pakai instruksi tembak di tempat. Aksi penyampaian pendapat di muka umum itu, katanya, dilindungi oleh undang-undang, jadi polisi harus mengayomi dan mengamankan kegiatan tersebut,” ujarnya.

“Sekali lagi perlu disadari bahwa aksi mereka adalah bentuk kepercayaan terhadap Polri, sehingga masyarakat lebih memilih tidak main hakim sendiri, melainkan menyerahkan persoalan ini kepada penegak hukum,” ujarnya. [VM]

Sumber : ROL

Posting Komentar untuk "Paham: Pengerahan Pasukan Brimob pada 4 November Berlebihan"

close