Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Standar Ganda: Demokrasi Hanya memberi Hak untuk Demo


Oleh : Umar Syarifudin 
(Syabab Hizbut Tahrir Indonesia)
Tidak asap kalau tidak ada api. Masyarakat berencana menggelar demo besar menuntut pengusutan terhadap Gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahaja Purnama yang dituding menodai agama Islam. Demo itu akan dilakukan usai salat Jumat dengan berjalan dari Masjid Istiqlal menuju Istana Presiden. 

Pengamat sosial politik Joko Prasetyo menyayangkan pernyataan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian yang melarang umat Islam mengadakan demonstrasi besar-besaran pada 4 Nopember 2016 mendatang. “Kapolri seakan tidak tahu akar masalahnya mengapa para ulama dan umat Islam hendak demonstrasi besar-besaran pada 4 November mendatang!” ungkapnya kepada suaranasional, Rabu (26/10/2016). Mereka aksi, ungkap Joko, karena berkali-kali dipingpong oleh pihak kepolisian dalam kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Ahok. (http://suaranasional.com/2016/10/26/ngeri-ini-upaya-pihak-tertentu-gagalkan-demo-besar-4-november-2016/ .)

Umat Islam mengecam karena ‘diamnya’ penguasa adalah kebijakan yang tidak adil. Jika ada orang yang ingin mengorbankan tenaga, waktu dan jiwa mereka dan membela al Qur’an mereka dicegah menerapkannya sesuai hokum al Qur’an. Pemerintah kini menunjukkan sekali lagi bahwa mereka tidak peduli urusan rakyatnya, dan justru menunjukkan kemampuan untuk berusaha ‘meredam suara’. Ini tidak mengejutkan karena inilah demokrasi. Sikap rezim Jokowi yang tidak pro rakyat, membuktikan sejauh mana kebangkrutan ‘revolusi mental’. Umat Islam telah bangun, mereka memiliki para pembelanya yang teguh di garis depan, intervensi negara-negara yang lebih kuat sekalipun tidak bisa menghentikan mereka dari berjalan di jalan kebangkitan umat Islam dan membebaskannya dari segala bentuk subordinasi, penjajahan dan kelemahan. 

Kaum liberal? kalangan liberal sangat  intoleran terhadap implementasi Islam di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim. Dalam beberapa kasus, kaum liberal berusaha merealisasikan propaganda syariahphobia sedemikian rupa sehingga memojokkan umat Islam. Mereka menutup mata terhadap fakta dan argumentasi yang ada. Tanpa malu-malu, mereka membela habis-habisan pihak-pihak yang membuat masalah dengan kaum Muslim. Caranya dengan membalik fakta dan menimpakan kesalahan pada kaum Muslim. Wajar jika kemudian bisa disimpulkan suara-suara kaum liberal tentang toleransi itu ada kepentingannya. Mereka tidak netral. Mereka memiliki tujuan untuk menyudutkan Islam.

Mereka tidak ingin kaum Muslim hidup dengan Islam, karena itu berarti mengubur peradaban Barat yang sedang mereka bangun. Mereka hanya toleran terhadap kaum Muslim yang mau hidup dengan peradaban Barat, yakni melepaskan Islam dari kehidupan. di berbagai negara, bahwa media, kebijakan dan para pemimpin politik, yang terencana dan terstruktur melakukan demonisasi (menjelek-jelekan) Islam. Banyak Muslim  melakukan serangan balik untuk meluruskan, namun non-Muslim tidak terpengaruh dengan pelurusan tersebut. Sebuah riset di Amerika menyebutkan penyebab islamofobia bukanlah tindakan terhadap kaum Muslim. Penyebab yang sebenarnya adalah propaganda menentang Islam. Seseorang memang tidak lahir dengan membawa kebencian terhadap orang lain. Yang membuat dia membenci kaum Muslim adalah karena propaganda. Juga pada abad pertengahan, orang Barat ketika itu memang tidak lahir dengan membawa kebencian. Namun, di gereja-gereja ketika itu sering dikampanyekan serangan terhadap Islam dan Nabi saw. Bagaimana dengan sekarang?

Bukan rahasia lagi bahwa Barat dalam mewujudkan kepentingan politik imperialismenya, menciptakan iklim di Indonesia berupa ancaman terorisme ‘Islam’ yang diklaimnya sendiri dan juga bahaya kebebasan berekspresi. Barat ingin memerangi terorisme, di samping juga ingin menjaga kebebasan bersama dengan penguasa liberal dan yang lainnya. Mereka adalah orang-orang yang sedang memerangi terorisme, dan mereka juga adalah para pelindung “kebebasan”, khususnya “kebebasan berekspresi dan pers”. Ini adalah standar ganda.

Sebagian masyarakat terbius oleh ide demokrasi. Mereka seolah dibuai oleh janji-janji manis yang selalu digaungkan oleh para pengusungnya. Mereka mengira, sistem demokrasi akan membawa mereka pada kehidupan yang lebih baik. Padahal kenyataannya tidaklah demikian.

Sebagian kaum Muslim masih meyakini dan memilih demokrasi sebagai sebuah jalan perubahan. Ini karena mereka memahami demokrasi hanya sebagai sebuah alat untuk mewujudkan suatu perubahan. Namun faktanya, demokrasi tidak bisa dijadikan jalan untuk perubahan. Sebaliknya, para penikmat demokrasi menjadi korban dari demokrasi itu sendiri. 

Demokrasi hanyalah sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan agar bisa menerapkan syariah Islam. Namun, tujuan tersebut disembunyikan dengan cara tidak menyampaikan di panggung-panggung kampanye ataupun tidak dimasukan ke dalam visi ataupun misi dari gerakan tersebut. Alasannya, jika masyarakat tahu itu, mereka tentu tidak akan memilih karena masih menginginkan sistem sekular sekarang.

Kasus penistaan al qur’an saat ini dalam pencarian solusi tidak hanya harus berakhir dengan ditangkapnya pelakunya. Karena kebebasan adalah pondasi dalam demokrasi, krisis saat ini harus mendorong rakyat untuk mempertimbangkan kembali seluruh dasar pandangan mereka pada kehidupan. Dan Islam datang sebagai rahmat bagi umat manusia; bukan sebagai filsafat atau metafisika, tapi satu solusi praktis sebagai akibat dari aqidah dan sistem Islam, yang dapat diuji dan dirasakan oleh semua manusia. [VM]

Posting Komentar untuk "Standar Ganda: Demokrasi Hanya memberi Hak untuk Demo"

close