Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemuda: Tekad, Harapan, dan Kekuatan


Oleh: A. Adam Syailindra
(Youth and Movement Watch)

Pemuda di setiap umat adalah tulang punggung yang membentuk komponen pergerakan. Karena mereka memiliki kekuatan yang produktif dan kontribusi (peran) yang terus-menerus. Dan pada umumnya, tidaklah suatu umat akan runtuh, karena masih ada pundak para pemuda yang punya kepedulian dan semangat yang membara. Pemuda muslim memiliki peran penting dan posisi strategis, untuk membangkitkan mereka agar berperan sesuai dengan apa yang diharapkan dari mereka, dan agar menjadi penjaga bagi agama mereka (Islam) terhadap apa yang hampir (mengenai kepadanya).

Sungguh berbeda kondisi para remaja di zaman ini dengan zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Remaja masa kini tenggelam dengan tsunami pergaulan bebas dan weternisasi. Perilaku mereka tak lagi meneladani sang Rasulullah namun Boys Band dan artis-artis ngetop. Tak sampai disitu, wabah “alay” pun menjangkiti, lebih parah lagi diantara mereka ada yang bangga bertingkah seperti banci.

Usia pemuda adalah ia yang telah berusia antara 15-24 tahun. Kalau di Afrika dikatakan pemuda itu jika ia sudah berusia 15-35 tahun.  Menurut UU no.40 tahun 2009 tentang Kepemudaan, usia pemuda antara usia 16-30 tahun. Kalau menurut saya pribadi sih, dikatakan pemuda apalagi pemuda super ia yang berusia 15-79 tahun. Kenapa 15 tahun ? dan kenapa 79 tahun? Ya, karena ia telah memiliki kekuatan fisik dan kemampuan mengindera persoalan dinamika umat. 

Jika merujuk pada sejarah Islam. Ada seorang pemuda yang telah ikut dalam ekspedisi militer yakni Usamah bin Zaid (anak dari salah satu komandan perang Islam yakni Zaid bin Harisah). Diusianya yang 15 tahun saja ia ngeyel ikut dalam Perang Khandaq. Bahkan diusianya yang belum genap 20 tahun Usamah bin Zaid telah dipercaya sebagai komandan perang untuk menaklukkan Romawi. Sedangkan saat itu dipasukan yang dipimpinannya masih ada sahabat Rasulullah sekelas Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. 

Nah sekarang kenapa saya memasukkan usia 79 tahun dikatakan sebagai “pemuda”?  Walau pun kita tahu bahwa usia 79 tahun yang termasuk usia senja, tapi yang saya masukkan adalah dari sisi semangat dan kegigihan. Dalam tinta sejarah Islam, ada sebuah kisah dimana seorang sahabat Rasulullah SAW yakni Saad bin Waqqash mampu menyalakan api jihad untuk melakukan pergerakan pembelaan Islam di usia yang sudah senja. 

Hingga dengan keberanian dan kesholehannya Saad bin Waqqash diberikan keistimewaan Allah SWT, yakni ia seorang laki-laki yang do’anya dikabulkan Allah SWT, seorang laki-laki yang lesatan anak panahnya sangat tepat dan juga seorang digdaya dengan izin Allah karena ia dan pasukannya mampu melintasi sebuah sungai deras dengan kuda yang ditunggangi untuk menghadapi perlawanan pasukan Persia. 

Ya itu dilakukan karena Saad bin Waqqash adalah seorang pemuda yang memiliki semangat dan jiwa ke kegigihannya mampu membakar semangat Islam dan panggilan jihad fisabilillah. Jadi, kalau sekarang ada pemuda yang usianya 16 tahun (ya kira-kira kalau sekarang yang SMA & SMK) hingga 30 tahun kalau gak mau gerak dan gak mau bertindak untuk perubahan yang lebih baik, bisa kita sebut pemuda ‘pasif’. 

Saudaraku kaum pemuda, kenangan pahit yang sulit terlupakan adalah ketika musuh-musuh Islam berhasil meruntuhkan kepemimpinan Umat Islam Turki Utsmani -yang memang sudah sekarat- pada tanggal 3 Maret 1924 lewat tangan antek penjajah Musthafa Kemal Attaturk, setelah itu umat Islam benar-benar seperti anak-anak ayam kehilangan induk. Umat Islam benar-benar kehilangan kesatuan komando. Dampaknya, di internal umat Islam semakin menjamurnya perpecahan dan perselisihan yang sulit diketengahkan. Pemikiran ashabiyyah (Berbangga dengan kelompok masing-masing) dan nasionalisme semakin menggurita  sehingga menghilangkan ikatan Islam yang sejati yaitu Ikatan atas dasar akidah. Hal tersebut ditambah lagi faktor eksternal, seperti kolonialisme bangsa barat yang telah menghisap negeri kaum muslimin. Semua itu benar-benar telah membuat kita porak-poranda, kehilangan wibawa dan Izzah dihadapan bangsa-bangsa lain. Benar-lah apa yang telah Rasulullah sabdakan tentang keadaan umat sepeninggalnya :

“Hampir tiba masanya segenap bangsa-bangsa mengerumuni kamu (Kaum Muslimin) sebagaimana orang-orang bersatu mengerumuni makanan di atas piring. “Maka ada seseorang bertanya kepada Rasulullah “Apakah karena sedikitnya keadaan kami pada waktu itu ?” Beliau menjawab , “Bahkan kamu pada waktu itu banyak jumlahnya tetapi seperti buih diatas air bah. Allah mencabut rasa ketakutan dalam dada-dada musuh-musuh kalian dan mencampakkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahn. “Lalu seseorang bertanya “Ya Rasulullah apakah Al Wahn itu ?” Beliau menjawab “Cinta dunia dan takut mati” (HR Abu Dawud dan Baihaqi)

Benarlah apa yang Rasulullah sabdakan kini, umat Islam jumlahnya diatas satu milyar jiwa. Tetapi jumlah yang banyak itu amat tak berarti dihadapan musuh-musuh Islam. Bagaimana kita dapat melihat di bumi palestina, Iraq, Afrika Tengah, Pakistan dll kita dengan jumlah sebegitu besar tak mampu memberi pukulan berarti terhadap kaum kafir yang mengusik umat Islam. Sementara disisi lain umat Islam masih berpecah belah, saling serang antar kelompok, disibukkan ke pembahasan yang sifatnya cabang dan jauh dari ide-ide yang revolusioner.

Tetapi Alhamdulillah saudaraku, panggung sejarah kaum muslimin tak pernah padam dari upaya para aktivis, pembaharu dan orang-orang luar biasa yang hadirnya mampu menjadi pelita ditengah  kegelapan. Berjuang mengembalikan kepemimpinan Islam dan mengibarkan panjinya di pentas dunia. Sigap melawan gempuran kaum kafir dari segala sisi baik dengan pemikiran hingga mengobarkan jihad fisabilillah ke dalam dada-dada kaum muslimin. Membuat kaum kafir bergetar kuda-kudanya.  Meskipun mungkin diantara mereka tidak merasakan hasil kerjanya di dunia yaitu kejayaan Islam. Namun, mereka telah berjasa besar menanam benih-benihnya  kepada generasi selanjutnya sehingga kita bisa merasakan karya tulis dan kobaran semangat mereka meski tidak sezaman dengannya. Semoga Allah membalas jasa mereka yang luar biasa, mengampuni kekeliruannya dan ditempatkan ditempat yang mulia di sisiNya. Aamiin. [VM]

Posting Komentar untuk "Pemuda: Tekad, Harapan, dan Kekuatan "

close