Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

We Cannot Be Silent


Penderitaan umat semakin meningkat, seiring dengan kebangkitan umat dalam usahanya untuk membebaskan diri dari hegemoni kolonial yang telah dialaminya sejak terpecah belahnya negeri-negeri muslim. Anda melihat tragedi demi tragedi yang menimpa umat Islam. Ini Riil. Dari rahim penderitaan akibat kapitalisme, harapan terus tumbuh pada akhir era imperialism modern yang menindas.

Karena faktor kebijakan Barat yang mengerikan, lebih dari 500.000 pria, wanita dan anak-anak telah meninggal di Suriah oleh rezim Assad, lebih dari setengah penduduk Suriah telah melarikan diri dari negara yang dilanda perang dan penduduk lainnya tinggal yang mengerikan. hidup antara peluru dan bom. Alih-alih membantu Muslim yang tidak berdaya ini, rezim Saudi telah memulai perang proxy baru di Yaman mewakili AS, yang meninggalkan ribuan orang mati dan jutaan orang di ambang kelaparan, kematian dan kehancuran.

di sisi lain, Qatar, menjadi salah satu negara terkaya di dunia, tidak bergerak maju untuk membantu saudaranya. Ironisnya, mereka mengizinkan AS untuk mendirikan pangkalan militer terbesar mereka di wilayah mereka sendiri dari mana pesawat AS meluncurkan untuk menyebarkan pembunuhan dan penghancuran di kalangan umat Islam di Irak, Afghanistan, Suriah dan Yaman.

Sementara jeritan muslim Yaman, Suriah, Burma, Afghanistan, Irak, belum mampu ditolong oleh penguasa Muslim. Arab Saudi dan sekutu-sekutunya telah memboikot Qatar tapi mereka tidak pernah memboikot keadaan kriminal entitas Yahudi karena kejahatan perang mereka yang terus-menerus terhadap Muslim Palestina dan juga tidak pernah berjanji untuk mengumumkan perang melawan kekuatan kolonial barat, yang merupakan teroris nomor satu Dunia.

Inilah realitasnya. Negeri-negeri muslim adalah negeri-negeri yang kaya SDM dan SDA, pertanyaan sebenarnya yang perlu ditanyakan adalah bagaimana mungkin negara kaya dan begitu banyak sumber daya, menjadi sangat miskin dalam tataran praktis, contohnya Yaman. Adalah penguasa di atas tanah Muslim tidak berhasil memanfaatkan kekayaan begitu besar bagi bangsanya. Ironis, jika tanah-tanah kaum muslimin dikelola oleh para tiran yang ditempatkan oleh kekuatan kapitalis.

Selain lemahnya integritas penguasa yang tidak berpihak pada rakyat serta faktor ketidakstabilan politik yang masih ada, alasan mendasar mengapa kemiskinan ada di dunia Muslim adalah karena pelaksanaan keseluruhan gagasan kapitalis yang sangat membatasi distribusi kekayaan. 

IMF dan Bank Dunia dan kebijakan penyesuaian struktural mereka yang terkenal di negeri-negeri ‘berkembang’ secara langsung membantu beberapa masalah ekonomi yang mendasarinya. Solusi umum yang diberikan oleh institusi semacam itu adalah keterlibatan dalam sektor perdagangan untuk keluar dari kemiskinan. Kenyataannya, ada sejumlah kendala yang dihadapi, yang memastikan negara-negara berkembang tidak akan pernah mencapai tingkat di mana mereka dapat bersaing dengan negara-negara maju.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa negeri-negeri muslim dalam dominasi politik Barat dan dunia Arab bukanlah pengecualian untuk masalah dominasi politik ini. Sudah diketahui para pemerhati politik bahwa rezim Arab Saudi, sebagai mitra dekat rezim Amerika, telah bekerjasama selama puluhan tahun untuk memastikan kepentingan politik dan ekonomi Amerika tetap terjaga di Timur Tengah dan sejak awal abad ini, dan Qatar telah menjadi fokus utama bagi politik Inggris agar tetap dalam orbit politiknya.

Melalui Saluran TV Al-Jazeera Qatar terus-menerus mengekspos kebijakan AS dan menyerang agen Amerika di wilayah tersebut atas instruksi Inggris, dan rezim Arab Saudi bekerja atas instruksi AS untuk mencegah agen Inggris mencampuri rencana Amerika di wilayah ini. Maka, perseteruan Qatar dengan Arab Saudi tidak ada kaitannya dengan terorisme. Melainkan sebenarnya persaingan antara AS dan Inggris untuk mengendalikan ladang minyak dan wilayah Timur Tengah lainnya yang penting secara strategis.

Waktunya telah tiba bagi kaum muslim untuk bangkit kembali sesuai dengan jalan Rosulullah saw., sebuah jalan yang akan membebaskan dunia Muslim dari kebijakan luar negeri yang tunduk dan politik palsu dan menghancurkan lingkaran perang terus menerus. Membebaskan umat dari penghancuran dan penghinaan, merdeka dari penjajahan secara hard power maupun soft power. Serta yang terpenting, jalan yang akan mengembalikan kemuliaan umat dan menjunjung tinggi kedamaian dunia dan akhirat. 

Allahumma shali ‘alaa sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aali sayyidina sayyidina Muhammad

Penulis : Umar Syarifuddin (Pengamat Politik Internasional)

Posting Komentar untuk "We Cannot Be Silent"

close