Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Generasi Muda Melek Politik? Why Not!


Ilustrasi


Oleh : Renita (Pegiat Literasi)

"Politik adalah cara merampok dunia. Politik adalah cara menggulingkan kekuasaan, untuk menikmati giliran berkuasa." - W.S. Rendra.


Ungkapan tokoh tersebut sepertinya cukup mewakili pandangan masyarakat terkait fenomena politik. Ya, politik selama ini memang dianggap sebagai aktivitas kotor yang menyuguhkan berbagai intrik dalam rangka mencapai syahwat kekuasaan. Tak heran, banyak masyarakat yang anti berpolitik dan cenderung menarik diri dari hal-hal berbau politik, termasuk generasi muda. Namun demikian, benarkah politik hanya mengurusi cara meraih kekuasaan semata? 


Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengungkapkan, berdasarkan hasil survei suara anak muda tentang isu-isu sosial politik bangsa pada Maret 2021, tingkat intoleransi isu-isu politik pada anak muda lebih tinggi dibandingkan dengan intoleransi terhadap praktik ritual sosial keagamaan. Beliau memaparkan, jika seorang non-muslim menjadi presiden, anak muda yang menyatakan keberatan sebanyak 39 persen, tidak keberatan 27 persen dan sisanya 28 persen menjawab tergantung. Namun, apabila non muslim mendirikan tempat ibadah di lingkungannya, 62 persen anak muda menyatakan tidak keberatan, keberatan 16 persen dan 18 persen menjawab tergantung (republika.co.id, 21/03/2021).


Sementara itu, hasil survei Indikator Politik Indonesia juga menunjukkan, sebanyak 64,7 persen anak muda tidak terlalu yakin bahwa partai politik atau politisi di Indonesia  mewakili aspirasi masyarakat. Anak muda yang menilai para politisi cukup baik dalam mendengarkan aspirasi sebanyak 25,7 persen. Selain itu, hasil survei juga menunjukkan sebanyak 54 persen anak muda masih percaya terhadap partai politik, sama sekali tidak percaya parpol sebanyak 7 persen dan 3 persen anak muda menyatakan sangat percaya pada parpol (merdeka.com, 21/03/2021).


Jika kita cermati, survei diatas menunjukkan bahwa generasi muda saat ini masih terombang-ambing dalam melihat pentingnya perubahan politik. Minimnya wawasan terhadap sistem politik alternatif juga turut andil dalam mengerdilkan perannya terhadap arah perubahan politik. Padahal, kebimbangan terhadap masa depan politik, justru semakin membuat mereka terjebak dalam harapan semu demokrasi. 


Tak dimungkiri, sebagian besar pemuda hari ini memang mengganggap politisi dan partai tak mampu menyelesaikan persoalan yang mendera negeri ini. Sayangnya, mereka masih menggantungkan harapannya pada penyempurnaan praktik demokrasi sebagai solusi. Kenyataanya, jika kita melihat sepak terjang penerapan demokrasi, tampak sekadar jargon-jargon kosong hanya untuk memperdaya generasi muda. 


Inilah realitas pemuda saat ini, sebagian mereka tak lagi memiliki idealisme untuk menentukan arah perjuangan politik. Masa depan bangsa tak lagi jadi perhatian. Sistem demokrasi memang telah memelintir makna politik sedemikian rupa menjadi sesuatu yang kotor dan hanya tentang perebutan kekuasaan semata. Jadilah mereka generasi apolitis. Kepekaan dan kesadaran politiknya lenyap serta mudah disetir oleh kepentingan yang ada. 


Jika pun masih ada yang peduli, perubahan yang diserukan masih dalam tataran pergantian rezim ala demokrasi. Tentu semua itu tidak akan menghasilkan perubahan berarti. Sebab, demokrasilah yang secara nyata telah menyebabkan berbagai kerusakan di negeri ini. 


Faktanya, menjadikan praktik politik demokrasi sebagai solusi permasalahan negeri adalah suatu hal yang mustahil. Sebab, sistem ini sengaja diformat bukan untuk melakukan perubahan, melainkan hanya pergantian rezim semata. Padahal, bergantinya rezim tidak otomatis merubah kebijakan secara mendasar, yang ada hanya tambal sulam kebijakan. Maka, adanya perubahan hakiki merupakan suatu keharusan, bukan hanya mengganti rezim tapi juga mengganti sistem yang diterapkannya. Jalan perubahan pun bukan melalui demokrasi, karena demokrasi terbukti gagal dalam memberikan solusi. 


Sejatinya, ketidakpahaman generasi muda terhadap politik justru akan semakin mengokohkan hegemoni kapitalis dalam menelikung peran pemuda. Padahal, pemuda adalah harapan bangsa, di pundaknya segala asa bisa diwujudkan. Terlebih, dengan adanya bonus demografi yang akan menghampiri Indonesia, tentu potensi pemuda menjadi satu-satunya harapan masa depan bangsa. Selayaknya generasi muda terutama generasi muslim menjadi pemeran utama dalam perjuangan politik. 


Maka, generasi muda Islam harus mengenal dan melek politik Islam agar benar-benar mendapat gambaran dan harapan perubahan hakiki. Wajib pula bagi pemuda Islam paham politik Islam agar bisa menghadapi tantangan kekinian yang bisa membelokkan mereka dari perubahan hakiki. Sebab, saat politik tidak diatur oleh syariah Islam, melainkan oleh sistem demokrasi kapitalis, maka asas manfaatlah yang diutamakan. Politik hanya dijadikan jalan untuk mempertahankan kekuasaan serta mendapat keuntungan semata.


*Islam Memandang Politik*

Dalam Islam, politik merupakan sebuah aktivitas kebaikan dan kemuliaan. Politik dalam Islam bukanlah aktivitas kotor yang identik dengan perebutan kekuasaan seperti halnya sistem demokrasi saat ini. Arti politik dalam Islam adalah pengurusan dan pemeliharaan berbagai urusan umat dari ranah pribadi sampai ranah pemerintahan dengan syariat Islam. Islam dan politik bagai dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, alasannya :

Pertama, Islam merupakan agama yang memiliki seperangkat aturan menyeluruh terkait berbagai aspek kehidupan. Sebab, Islam bukanlah agama yang hanya mengurusi urusan ibadah ritual dan akhlak semata. Aturan Islam juga mengatur terkait mu’amalah seperti politik, sosial, budaya, pendidikan dan sebagainya. Islam pun mengatur masalah hukum persanksian (uqubat) maupun pembuktian dalam pengadilan Islam (bayyinah).

Kedua, merujuk kepada apa yang dipraktikkan oleh Rasulullah Saw saat menjadi kepala negara Islam di Madinah. Sangat jelas, bahwa Islam dan politik tak bisa dipisahkan. Pada saat itu Rasulullah berperan sebagai kepala negara, sebagai qadhi (hakim) dan panglima perang. Selain itu, Rasul juga mengatur keuangan dalam Baitul Mal, mengirimkan berbagai utusan ke luar negeri untuk menyerukan Islam, juga menerima utusan dari para pemimpin di sekitar Madinah. 

Sebagai contoh, pada masa Rasulullah Saw, Masjid Nabawi bukan hanya digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah ritual, tetapi juga menjadi tempat Rasulullah melakukan diskusi dan musyawarah dengan para sahabat dalam rangka mengurusi urusan umat, termasuk merancang strategi perang. 

Inilah urgensi menyatukan Islam dengan politik. Sebagaimana dikemukankan oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Al-Iqtishad fi al- I’tiqad, mengungkapkan  “Agama dan kekuasaan bagaikan dua saudara kembar. Agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak punya pondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak memiliki penjaga niscaya akan musnah”.

Peran politik generasi  muda dalam Islam yaitu sebagai tonggak penerus kepemimpinan Islam. Mereka menyelaraskan pola pikir dan pola sikapnya dengan aturan Islam. Demikian pula aktivitas politik yang dilakukan di tengah masyarakat dalam rangka mewujudkan penerapan Islam dalam semua lini kehidupan. 

Demikianlah Islam memosisikan politik dalam posisi yang begitu mulia. Sebab, Islam merupakan agama yang sangat memahami urgensi politik. Namun, bukan politik yang dijadikan tujuan, akan tetapi politik hanya sebagai sarana untuk merealisasikan tujuan yang lebih agung dan lebih mulia yakni kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Tidakkah kita merindukan Islam kembali diterapkan?

Allah Swt. berfirman, “Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”(Q.S. al-Maidah [5]: 50).

Wallahu A’lam Bish Shawwab

Posting Komentar untuk "Generasi Muda Melek Politik? Why Not!"

close