Kala Cita-cita Terkendala Biaya


Oleh : Mila Sari, S.Th.I

Tuntutlah ilmu meski ke negeri China, begitulah salah satu ungkapan yang terkenal yang mendorong kita mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Karena cerdas adalah sesuatu yang penting dan harus diusahakan agar kelak menjadi manusia yang bermartabat dan dapat membawa perubahan kearah yang lebih baik lagi.

Dalam rangka mencapai visi di atas, banyak upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah. Salah satunya adalah Program SDM  yang telah disiapkan oleh Kemenristek Dikti lewat beasiswa Bidikmisi sebagai Program Indonesia Pintar (PIP) dan Program Keluarga Harapan (PKH). Namun masih banyak masyarakat kurang mampu dan memiliki potensi yang belum bisa merasakan program ini. (risetdikti.go.id)

Sementara itu, menurut berita yang dirilis dari detik.com , Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta kepada para penerima beasiswa alias Awardee dari negara tidak mengkhianati Indonesia. Pernyataan itu disampaikan saat pembukaan acara Serasehan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tahun 2019 di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jum'at malam (15/3/2019)

"Jangan khianati Republik Indonesia. Terima kasih saja tidak cukup, berikan dalam bentuk pemikiran,  kerja keras dan yang paling penting berikan hati anda hanya untuk Indonesia," kata Sri Mulyani. (detik.com).

Meski ada upaya dari pemerintah untuk membantu masyarakat memudahkan biaya pendidikan lewat jalur beasiswa ini, namun upaya ini tidaklah maksimal karena beasiswa yang diberikan tidak merata, hanya sebagian kecil dari peserta didik saja. Tidak semua peserta didik yang tidak mampu secara ekonomi dan berprestasi mendapatkan beasiswa Bidikmisi dan Dikti atau sejenisnya yang memang diluncurkan oleh pemerintah, jumlahnya penerimanya dibatasi. Misalnya, dari tahun 2011 sampai 2015 saja jumlah penerima beasiswa Bidikmisi perangkatannya hanya 130 Mahasiswa/i saja.

Sementara itu, jumlah beasiswa yang diberikan tidak cukup untuk memenuhi segala kebutuhan kuliah. Contohnya, Mahasiswa angkatan 2011 hanya mendapat beasiswa sebanyak Rp. 6.000.000 persemesternya dan itu untuk memenuhi seluruh kebutuhan perkuliahan, mulai dari SPP, biaya fotocopy, beli buku , dan kebutuhan lainnya yang masih rentan kurang untuk menutupi segala kebutuhan kuliah selama satu semester.

Ditambah lagi, bila telah mendapat beasiswa Bidikmisi , maka Mahasiswa yang bersangkutan tidak boleh mengurus beasiswa yang lain dengan alasan agar dapat memberi peluang bagi yang lainnya. Beasiswa akan diberikan selama 4 tahun bila dapat mempertahankan IP minimal 3,0. Bila tidak, maka akan diberikan teguran dan bila juga tidak mampu maka beasiswanya akan ditarik dan dialihkan pada mahasiswa yang lain yang berprestasi.

Bantuan biaya beasiswa yang diberikan oleh pemerintah hingga saat ini masih tidak cukup dan kurang merata. Seharusnya dari segi biaya bisa mencukupi dan penyalurannya merata kepada mereka yang membutuhkan dan memang berprestasi. Atau pemerintah mempermudah dengan biaya pendidikan yang murah. Ditambah lagi, penyaluran yang tidak tepat waktu dan mengulur-ngulur, semakin mempersulit Mahasiswa untuk mendapatkan haknya.

Seharusnya biaya pendidikan di Indonesia bisa dipangkas, tidak semahal sekarang sehingga siapapun bisa mengenyam pendidikan untuk mencapai cita-citanya. Jangan sampai karena terkendala biaya, pada akhirnya banyak diantara anak bangsa yang putus pendidikannya. Dan yang lebih parah, menjadi pengangguran karena tidak memiliki ijazah.

Mahalnya biaya pendidikan bisa dikatakan karena pemerintah abai terhadap kesejahteraan dan kebutuhan rakyat. Negara bertanggung jawab penuh terhadap pemenuhan hajat hidup rakyatnya, termasuk pendidikan. Sedangkan untuk memenuhi hajat hidup tersebut, negara bisa mendapatkannya dari berbagai macam bentuk pendapatan negara atau bisa diambil dari hak kepemilikan umum yang kita miliki, yaitu berupa sumber daya alam misalnya. Sumber daya alam seharusnya dikelola oleh negara dan kemudian hasilnya diperuntukkan guna memenuhi hajat hidup rakyat, termasuk pendidikan. Sehingga rakyat bisa mengenyam pendidikan dengan mudah tanpa harus terkendala biaya. 

Penyerahan sumber daya alam kepada pihak asing ataupun swasta merupakan kebijakan yang keliru dan salah besar karena akan mendzalimi rakyat disebabkan terampasnya hak-hak mereka. Maka negara harus menarik kembali sumber daya alam yang sudah diserahkan kepada pihak investor, agar dikelola sendiri sehingga hasilnya bisa dimanfaatkan untuk kemaslahatan ummat agar kesejahteraan bisa tercapai, termasuk kesejahteraan dalam bidang pendidikan. Terlebih, Indonesia merupakan negara maritim dan kaya akan sumber daya alam, maka dipastikan pemerintah akan mudah memenuhi hajat hidup rakyat dan menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan untuk menunjang hal tersebut.

Dalam Islam, menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban yang mesti ditunaikan bagi setiap muslim. Dengan tujuan membentuk kepribadian Islam, menguasai tsaqafah Islam dan menguasai ilmu kehidupan (sains dan teknologi kehidupan) agar manusia dapat menjalankan perannya di muka bumi sebagai Khalifah yang akan memakmurkan bumi. 

Sehingga atas dasar inilah, maka negara bertanggung jawab dalam menjamin pendidikan bagi warga negaranya. Memastikan setiap warga negara mendapatkan hak pendidikannya. Sehingga kita dapati dalam sepanjang sejarah Islam dibangun banyak sekolah, masjid dan perpustakaan dalam rangka terpenuhinya kebutuhan pendidikan bagi setiap warga negara yang hidup di bawah naungan Daulah Islam.

Menyediakan berbagai sarana pendidikan dengan laboratorium, auditorium, gedung pertemuan, asrama, perumahan dosen, kamar mandi, ruang makan, taman rekreasi, rumah sakit, semuanya bebas biaya. Guna memberi kesempatan seluas-luasnya bagi setiap warga negara melanjutkan kehidupan ke jenjang tertinggi dengan sebaik mungkin.

Sehingga pada masanya, Islam menjadi mencusuar dunia terlebih dalam bidang pendidikan karena besarnya kecintaan Khalifah dan Kaum Muslimin terhadap dunia pendidikan. Melakukan berbagai observasi dan penemuan-penemuan penting yang bermanfaat bagi dunia hingga saat ini selama hampir mencapai 14 abad.

Belum lagi kesejahteraan dan gaji para pengajar dan apresiasi terhadap karya, menjadikan dunia Islam nomor satu di dunia pendidikan tanpa ada tandingan. Semua itu dilakukan atas dasar taqwa kepada Allah SWT yang menjanjikan kemuliaan atas orang-orang yang berilmu dan bertaqwa. Melahirkan ilmuwan-ilmuwan hebat yang hingga saat ini namanya masih hidup, sedangkan ilmu dan karya mereka dijadikan rujukan dalam kemajuan dunia hingga saat ini. Diantaranya ;
  • Al-Khawarizmi penemu angka nol, bilangan, dan peletak dasar kemajuan numerik dan data
  • Ibnu Sina sebagai bapak kedokteran pertama di dunia dengan karya fenomenalnya kitab Al-qanun, sebagai kitab rujukan para dokter ahli saat ini
  • Ibnu Abbas Firnas, peletak dasar ilmu pembuatan pesawat terbang
  • Fatimah Al-Fihry, pendiri universitas pertama di dunia
  • Aisyah binti Abu Bakr, perempuan cerdas yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasul saw
  • Maryam Astroloby, Al-Kindi, Al-biruni, Bukhari, Muslim, Ibnu Abbas dan masih banyak lagi sederetan nama intelektual muslim yang nama mereka terukir indah dengan tinta emas sejarah, yang tak akan pudar meski terhalang zaman karena ilmu dan karya yang mereka miliki di masa lalu. Yang dengan itu semua dunia bergerak ke arah kemajuan, dan manusia mengenal berbagai hal. Menguasai banyak bidang ilmu, tsaqafah dan faqih fiddin dalam satu waktu.

Itu semua tak kan hanya tinggal cerita dan pendidikan yang layak bukanlah hal Utopis untuk diraih, terlebih karena alasan biaya. Karena sudah selayaknya negara bertanggung jawab untuk hal ini dengan mengelola sumber daya alam dengan sebaiknya dan hasilnya difungsikan untuk kemaslahatan umat, termasuk untuk terpenuhinya jaminan pendidikan bagi setiap individu warga negara.

Maka sudah selayaknya kita bangkit dari keterpurukan melawan kebodohan dan segala bentuk kemustahilan akan tercapainya tujuan pendidikan. Tentunya dengan memahami Islam sebagai pemecah atas segala persoalan kehidupan. Memahamkan kepada sesama bahwa hanya Islam satu-satunya yang bisa membawa kita kepada arah kebangkitan, dengan menerapkan Syari'atnya secara sempurna dalam kehidupan ini, sehingga kesejahteraan dalam kehidupan dapat tercapai dan mewujud nyata. Wallahu 'alam Bu shawwab. [vm]

Belum ada Komentar untuk "Kala Cita-cita Terkendala Biaya"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...