Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjauhi Karakter Sufahâ’



Oleh: Ustadz Irfan Abu Naveed (Mudir Cinta Quran Center)


Islam hadir untuk menunjuki manusia ke jalan kebenaran. Namun sayang, di tengah terang-benderangnya jalan kebenaran, ada di antara manusia yang memilih jalan kesesatan, bahkan aktif menyebarkan kesesatannya. Padahal petunjuk Allah SWT adalah sebenar-benarnya petunjuk:

قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠

Katakanlah, “Sungguh petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Sungguh jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi Pelindung dan Penolongmu (QS al-Baqarah [2]: 120).

Kalimat qul inna hudalLâhi huwa al-hudâ dalam bentuk al-uslûb al-khabari al-thalabî, dengan sisipan satu tawkîd (penegasan), menegaskan bahwa sebenar-benarnya jalan petunjuk adalah petunjuk Allah, yakni Islam itu sendiri. Informasi ini Allah tegaskan setelah Allah mengisyaratkan sepak terjang mereka yang berada di atas millah yang menyimpang (al-yahûd wa al-nashârâ) dalam firman-Nya:

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ ١٢٠

Tidak akan pernah ridha kepadamu (Muhammad) kaum yahudi dan Nasrani hingga engkau mengikuti agama mereka (QS al-Baqarah [2]: 120). 

Penyair bertutur:


عَجِبْتُ لِقوْمٍ أَضَلُّوْا السَّبِيْلَ *


وَقَدْ بَيَّنَ الله سبل الْهُدَى


فَمَا عَرَفُوْا الْحَقَّ لماَ اسْتَبَانَ *


وَلا أَبْصَرُوْا الْفَجْرَ لما بَدا

Aku heran kepada kaum yang tersesat jalan/Sungguh Allah telah menjelaskan jalan petunjuk

Mereka tak mengenal kebenaran yang terang-benderang/Tidak pula melihat fajar yang terbit

Apa motifnya? Salah satu yang paling kentara adalah demi memunguti kotoran dunia:

أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا بِٱلۡأٓخِرَةِۖ فَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمُ ٱلۡعَذَابُ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ ٨٦

Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat. Tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong (QS al-Baqarah [2]: 86).

Allah SWT mengumpamakan perbuatan mereka dengan kiasan yang dipinjam (al-isti’ârah al-tamtsîliyyah); membeli kesesatan dengan petunjuk. Merugilah perniagaan mereka. Ini untuk menunjukkan betapa mengherankannya keadaan mereka. Sebabnya, lazimnya manusia berniaga untuk meraih keuntungan:


أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلضَّلَٰلَةَ بِٱلۡهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَٰرَتُهُمۡ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ ١٦


Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. Tidaklah beruntung perniagaan mereka dan ti daklah mereka mendapat petunjuk (QS al-Baqarah [2]: 16).

Tak kalah memprihatinkan adalah mereka yang mendukung kesesatan demi dunia yang dicicipi orang lain, Imam Abu Hamid al-Ghazali (w. 505 H) dalam Ihyâ’ ‘Ulûm as-Dîn (I/53) menyitir keadaan mereka:


عجبت لمبتاع الضلالة بالهدى*


ومن يشتري دنياه بالدين أعجب


وأعجب من هذين من باع دينه*


بدنيا سواه فهو من ذين أعجب


Aku heran kepada orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk/dan kepada siapa saja yang membeli dunianya dengan agama, aku lebih heran

Lebih mengherankan lagi dari dua hal ini, siapa saja yang menjual agamanya untuk dunia orang lain/Ini yang lebih mengherankan daripada keduanya

Al-Quran dan Hadis Nabawi pun menyingkap karakter mereka di balik predikat as-safîh (singular) dan as-sufahâ’ (plural) untuk menyelamatkan umat dari penyesatan mereka. Karena itu umat wajib memiliki kesadaran mengidentifikasi mereka:

1. Berada di Atas Kesesatan dan Kebatilan.

Ar-Raghib al-Ashfahani (w. 502 H) dalam Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân (hlm. 234) mendeskripsikan karakter mereka, “Perbuatan as-safah (kepandiran) digunakan untuk menggambarkan rendahnya diri seseorang karena kurangnya akal (baca: rendahnya pemikiran) dalam perkara-perkara duniawi maupun ukhrawi.”

Hal itu sebagaimana ditunjukkan al-Quran yang menggambarkan mereka sebagai kaum yang tersesat, tidak memahami jalan kebenaran (syariah Allah) dan hikmah di baliknya, sebagaimana firman-Nya:


أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعۡلَمُونَ ١٣

Ingatlah, sungguh merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak mengetahuinya (QS al-Baqarah [2]: 13).


۞سَيَقُولُ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَ ٱلنَّاسِ مَا وَلَّىٰهُمۡ عَن قِبۡلَتِهِمُ ٱلَّتِي كَانُواْ عَلَيۡهَاۚ قُل لِّلَّهِ ٱلۡمَشۡرِقُ وَٱلۡمَغۡرِبُۚ يَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ١٤٢

Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah, “Kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS al-Baqarah [2]: 142).

Dalam ayat ini, Allah SWT menggambarkan adanya kaum sufahâ’ yang tidak memahami syariah-Nya. Allah SWT mengisyaratkan bahwa kaum sufahâ’ hakikatnya menyimpang dari jalan yang lurus (Islam), mencakup penyimpangan dari aspek keyakinan, perbuatan dan perkataan. Al-Jurjani dalam At-Ta’rîfât (hlm. 119) lebih spesifik mendeskripsikan:


فتحمله على العمل بخلاف طور العقل، وموجب الشَّرع


(As-Safah) mendorong seseorang berbuat menyelisihi akal dan tuntutan syariah.

Al-Hasan r.a., dinukil oleh Imam al-Ghazali dalam Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn (I/59), memperingat-kan:

لا تكن ممن يجمع علم العلماء وطرائف الحكماء ويجري في العمل مجرى السفهاء

Janganlah engkau menjadi golongan orang yang gemar mengumpulkan ilmu para ahli ilmu, kebajikan-kebajikan orang-orang bijak (baca: ahli hadits wal atsar), namun ia beramal seperti amalan orang-orang pandir.

2. Aktif Memutarbalikkan Fakta, Menstigma Para Pengemban Kebenaran.

Kaum sufahâ’ pun terbukti memiliki karakter memutarbalikkan fakta (kebenaran). Mereka kerap menstigma negatif para pengemban kebenaran itu sendiri, sebagaimana firman-Nya:


وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ ءَامِنُواْ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓاْ أَنُؤۡمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُۗ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعۡلَمُونَ ١٣


Jika dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” Mereka menjawab, “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sungguh merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu..” (QS al-Baqarah [2]: 13).

Kalimat a nu’minu kamâ âmana al-sufahâ’ diungkapkan dalam bentuk kalimat tanya (istifhâm inkârî). Ini menunjukkan maksud pengingkaran orang kafir, menolak beriman sebagaimana keimanannya orang-orang Mukmin. Lalu diikuti dengan stigma âmana al-sufahâ’. Ini menunjukkan bahwa kaum sufahâ’ ini memutarbalikkan fakta dengan menstigma negatif kaum Mukmin sebagai kaum sufahâ’. Dalam kasus inilah seorang Mukmin hendaknya membantah mereka secukupnya dan tidak berlarut-larut berbantah-bantahan dengan mereka:

إِذَا نَطَقَ السَّفِيْهُ فَلاَ تُجِبْهُ * فَخير مِنْ إِجابَته السّكوت


Jika orang pandir berbual maka jangan kau tanggapi/sebab sebaik-baik tanggapan adalah diam

WalLaahu a’lam. 

Posting Komentar untuk "Menjauhi Karakter Sufahâ’"