Penerapan Islam Menyolusi Palestina di Tengah Kebuntuan
Oleh: Pani Wulansari,S.Pd (Pendidik dan Ibu Generasi)
Pemerintah Chile mengecam keras keputusan Israel yang menyetujui pembentukan 19 permukiman baru di Tepi Barat yang diduduki Palestina, dengan mengatakan bahwa langkah tersebut melanggar hukum internasional dan menghambat upaya tercapainya perdamaian yang adil dan abadi.
Keputusan pembangunan permukiman ini diambil oleh kabinet keamanan Israel meskipun ada Resolusi Dewan Keamanan PBB tahun 2016 yang mengharuskan penghentian aktivitas permukiman ilegal di wilayah pendudukan. Chile menilai tindakan sepihak ini menciptakan hambatan besar bagi proses perdamaian di kawasan itu. (antaranews.com,27/12/2025.
Zionis Israel terus menggusur rakyat Palestina dan mencaplok wilayah mereka, ketika 19 pemukiman baru dibuka, hal itu akan mempersempit ruang hidup rakyat Palestina secara sistematis. Berbagai tawaran politik seperti solusi dua negara, “20 poin Trump”, maupun gencatan senjata berulang kali dipromosikan sebagai jalan damai. Namun fakta menunjukkan bahwa semua itu tidak menghentikan agresi, tidak mengembalikan tanah Palestina, dan tidak melindungi rakyatnya.
Justru sebaliknya, skema-skema tersebut berfungsi sebagai tirai asap untuk melegitimasi penguasaan Palestina secara bertahap.
Apa yang dilakukan Zionis Israel menunjukkan satu pola yang konsisten yakni menempuh segala cara untuk merampas dan menguasai seluruh wilayah Palestina. Diplomasi, tekanan militer, propaganda media, hingga manipulasi hukum internasional dijalankan secara simultan. Tidak ada niat untuk hidup berdampingan secara adil, yang ada hanyalah ambisi ekspansi.
Lebih jauh, Israel memperlihatkan arogansi sebagai kekuatan yang ingin memimpin dan mendominasi politik serta ekonomi global. Dukungan negara-negara besar menjadi tameng bagi kejahatan yang dilakukan, membuatnya kebal dari sanksi nyata. Di balik itu, dendam ideologis Zionisme terhadap Islam dan umat Islam tampak nyata dan terus beroperasi, bukan hanya di Palestina, tetapi juga dalam narasi global yang memusuhi kebangkitan Islam.
Kenyataannya, dunia hari ini tidak memiliki kemauan untuk menghentikan kejahatan Zionis Israel. Lembaga internasional lumpuh, hukum internasional kehilangan wibawa, dan kemanusiaan dikalahkan oleh kepentingan politik. Genosida di Gaza menjadi bukti paling telanjang dari kegagalan sistem global saat ini.
Pandangan Islam
Dalam pandangan Islam, kerusakan yang dibuat oleh entitas zalim seperti Israel bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Allah SWT telah mengabarkan dalam Al-Qur’an bahwa akan ada kelompok yang berbuat kerusakan di muka bumi, bersikap sombong, dan menumpahkan darah tanpa hak. Realitas Palestina hari ini selaras dengan peringatan tersebut.
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di muka bumi untuk membuat kerusakan di dalamnya, merusak tanaman-tanaman dan membinasakan keturunan. Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” QS. Al-Baqarah ayat 205
Ayat ini menggambarkan perilaku sistematis perusakan kehidupan, baik ekonomi, lingkungan, maupun manusia sebagaimana yang dilakukan oleh Israel kini. Ayat tersebut juga menggambarkan bahwa Islam tidak mengajarkan umatnya untuk berbuat kerusakan sebagaimana yang dilakukan oleh Israel karena Allah tidak akan menyukai kerusakan.
Sejarah sirah Nabi Muhammad Saw juga menunjukkan ketegasan negara Islam dalam menghadapi kekuatan kafir yang memusuhi Islam dan pihak-pihak yang mengkhianati perjanjian. Ketegasan ini bukan didasarkan pada kebencian buta, melainkan pada prinsip menjaga agama, jiwa, dan kehormatan umat.
Pembebasan Palestina tidak akan lahir dari kompromi yang timpang atau solusi buatan penjajah.
Hanya dengan penerapan Islam secara menyeluruh dalam naungan kepemimpinan politik umat (Khilafah) dan kekuatan umat yang terorganisir, arogansi Zionis Israel dapat dihentikan dan keadilan sejati ditegakkan.
Inilah jalan Islam yang selama ini ditinggalkan, sementara umat dipaksa berharap pada solusi yang berulang kali terbukti gagal.
Setelah puluhan tahun penjajahan Israel atas Palestina, berbagai solusi politik internasional terbukti gagal menghentikan penindasan. Perundingan damai, resolusi PBB, hingga normalisasi hubungan justru kian menjauhkan Palestina dari kemerdekaan sejati. Islam menawarkan konsep khilafah sebagai solusi alternatif yang lebih mendasar dan menyeluruh.
Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.
(Al-Khilafah, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani).
Dengan persatuan ini, umat Islam tidak lagi bersikap reaktif dan terpecah, melainkan memiliki kekuatan politik, diplomatik, dan ekonomi yang mandiri untuk menghadapi penjajahan. Palestina dipandang sebagai wilayah yang dijajah, sehingga pembelaannya bukan sekadar solidaritas kemanusiaan, tetapi kewajiban negara untuk menegakkan keadilan dan melindungi rakyat tertindas.
Lebih dari itu, khilafah berlandaskan hukum Islam menolak segala bentuk penjajahan dan normalisasi dengan kezaliman. Dukungan terhadap Palestina tidak tunduk pada tekanan negara adidaya atau kepentingan ekonomi sempit.
Khilafah menawarkan kerangka solusi yang menyentuh akar persoalan, persatuan politik, kemandirian umat, dan keberanian menegakkan keadilan bagi Palestina.
Wallahualambisawaab

Posting Komentar untuk "Penerapan Islam Menyolusi Palestina di Tengah Kebuntuan"