Balutan Cinta Untuk Luka Rohingya


Rona Iedul Adha memucat bersama tragedi Rohingya. Suka cita seolah sirna. merunduk pilu dalam nestapa bercampur derai air mata. Hatiku terluka, pilu, ngilu dan menganga di Iedul Adha. Desiran darah seolah menyayat tajam bak sembilu tatkala mata menyaksikan raut kecemasan, ketakutan dan ketidakberdayaan mereka, saudara muslimku, Rohingya.

Sebenarnya saya malu pada mereka, muslim Rohingya. Sama malunya saya dengan saudara muslim yang ada di palestina, suriah, dan negeri-negeri konflik lainnya. Sungguh, saya malu. Bahkan, saya tidak tahu apa arti air mata yang sembab setiap kali melihat foto atau video mereka di beranda sosial media. Apakah air mata ini untuk meratapi nasib mereka yang teraniaya? Atau justru air mata ini lebih pantas untuk meratapi diri sendiri yang belum seberapa berkorban untuk Allah ‘aza wajalla?! Astagfirullah!

Ketakutan sering kali muncul dalam benak diri ini. Takut, jika Allah Swt. mengguncangkan rasa tidak aman tatkala di hari penghisaban. Kini, kita mengasihani dan menangisi saudara-saudara kita. Kelak di akhirat? Jangan-jangan kitalah yang tertatih penuh kecemasan karena dahsyatnya hari pembalasan dan sedikitnya perbekalan. Karena sejatinya kehidupan tidak hanya sebatas di dunia. Iman kita berbicara, bahwa kehidupan akhirat adalah sesuatu yang niscaya. Tempat kita bermukim selamanya.

Kini, berada di posisi mana diri kita tatkala menyaksikan saudara seaqidah kita dianiaya? Mungkin ada yang berargumen bahwa percuma berkata-kata jika tidak ada aksi nyata. Berangkat perang, misalnya. Tentu, darah kita bergolak menyaksikan genosida bagi saudara muslim kita di manapun mereka berada. Gelora perang tentu memuncak hingga ke ubun kepala. Namun kita juga tidak boleh lupa, bahwa pelaku genosida terhadap saudara-saudara kita tersebut adalah sebuah Negara.  Secara sistematis, para tentara bersenjata mengeksekusi etnis muslim  Rohingya. Maka, bukan suatu tindakan yang efektif jika sebuah negara dengan kekuatan mileternya hanya dihadapi oleh kita-kita sebagai rakyat sipil yang tidak tau-menau bagaimana cara angkat senjata. Bukan memberi solusi, tapi justru akan membebani.

Maka di sinilah kata-kata menjadi perlu adanya. Bukan perkataan biasa, namun retorika yang memberi dorongan kepada penguasa beserta jajarannya untuk bertindak nyata menolong saudara kita di Rohingya. Mendorong Negara dengan kekuatan militernya untuk berani menghadapi para pembantai yang tidak bernurani. Ya, inilah tanggung jawab kita. Tugas terbesar kita. Menyampaikan amar makruf nahiy munkar kepada para pemegang tampuk kekuasaan. Mengingatkan bahwa penguasa memiliki peran strategis untuk menyudahi duka nestapa saudara kita. Menggedor keimanan mereka dengan kata-kata yang bersumber dari Rabbul alam semesta.

Inilah wujud dari ketaatan kita pada firman Allah Swt., bahwa sesama muslim adalah bersaudara. Pun, demikian pula sabda baginda Nabi Saw., harus kita resapi bahwa antara muslim yang satu dengan muslim yang lain diibaratkan seperti satu tubuh. Maka sudah seharusnya bagi kita memberikan yang terbaik untuk saudara-saudara kita yang teraniaya. Selain sumbangan makanan, obat-obatan, pakaian, selimut, dan sebagainya, kita juga tidak boleh lupa bahwa aktivitas menyeru penguasa untuk memberlakukan syariah secara kaffah merupakan keharusan. Tidak boleh alpa sedikitpun. Karena sejatinya, dengan Islam kaffah sajalah kemuliaan umat dan agama ini akan menjulang. Islam kaffah pula yang mampu memberikan kehidupan bermartabat dan manusiawi bagi siapa saja.

Jangan abaikan ”kata-kata” yang menyeru umat manusia pada Rabbnya. Jangan remehkan ”perkataan” mereka yang tulus berserah diri hanya pada Allah Swt. Karena melalui ”kata-kata” inilah, kelak peradaban Islam akan kembali jaya. Maka karenanya, tak akan ada lagi duka lara. Bukan hanya berlaku bagi muslim saja. Namun, hal itu berlaku pula bagi seluruh manusia bahkan alam semesta. Tidakkah kita merindukannya?

”Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang-orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal soleh, dan berkata ’sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)” (TQS. Fussilat: 33)

Maka ’berkata-kata’ (dakwah) menyeru pada Islam kaffah harus terus digemakan. Karena sungguh, dakwah Islam kaffah adalah balutan cinta untuk luka muslim Rohingya, bahkan juga bagi muslim sedunia.  Wallahualam. [VM]

Penulis : Wulan Citra Dewi, S.Pd (Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Belum ada Komentar untuk "Balutan Cinta Untuk Luka Rohingya"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel