Muslimah, Hidupnya Penuh dengan Cinta


Oleh: Maya Ummu Azka

Berbicara tentang cinta, membangkitkan semangat tersendiri. Satu kata yang memberi energi, menyemarakkan hati. Cinta adalah memberi, memberi yang terbaik bagi yang dicintai. Cinta hakikatnya melindungi, tak ingin sedikitpun yang dicinta tersakiti.

Namun cinta terkadang sulit dimengerti, bahkan ada kalanya tak dapat dipahami. Sebagaimana cinta Sang Pencipta alam semesta dan seluruh isinya, kepada mahlukNya.

Kebodohan dan keterbatasan akal terkadang membuat manusia tak menyadari. Sebagian dari kita berpikir, alangkah berat menjadi muslimah, alangkah terkekangnya dengan pakaian yang serbatertutup dan aneka aturan yang menghambat kebebasannya.

Wahai muslimah, sadarilah... 

Adalah Allah yang melimpahimu dengan cinta sebenarnya. Dia yang menciptakanmu dari ketiadaanmu, mengenali setiap inci dari organ tubuh hingga kromosommu, menyelami apa yang tersirat dalam benakmu. 

Lazimnya barang berharga, yang diperlakukan istimewa sebegitu rupa, dijaga dan diletakkan di tempat yang semestinya. Tak sembarang orang bisa memandang dan menyentuhnya, apalagi mempermainkannya. Pun kaum hawa, Allah jaga dan tempatkan di tempat yang mulia. 

Sebab cinta, Dia anugerahkan selaksa aturan untuk melindungi diri dan kehormatannya.

Pertama, Allah menetapkan tugas sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW, “Perempuan adalah pengurus rumah suaminya dan anak-anaknya serta bertanggung jawab atas kepemimpinanya”. (HR Bukhari Muslim)

Ini adalah tugas mulia karena berfungsi penting dalam membentuk wajah generasi. Bukankah generasi yang unggul adalah aset utama terbentuknya masyarakat unggul? Dan Sang Pencipta menganugerahkan peran penting ini bagi para muslimah.

Sebagai Ibu, Allah sematkan surga di bawah telapak kakinya. Dan Allah perintahkan anak-anaknya menghormatinya, tiga tingkat di atas sang ayah.

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu." (HR. Al Bukhari).

Kedua, Allah Sang Pencipta tidak memberikan beban mencari nafkah. Perempuan berhak menerima nafkah dari Walinya sebelum menikah, dan dari suaminya ketika ia sudah berrumah tangga. Rasulullah bersabda, “Bagi mereka (perempuan) wajib atas kalian (suami) memberi makan dan pakaian dengan cara yang makruf”. 

Ketiga, perempuan juga berhak mendapat rasa tentram dari suaminya dalam kehidupan rumah tangganya (QS. Ar-Rum:21). Bahkan dalam hadistnya, Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan, “Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya”. (HR At-Thirmidzi no 1162 dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Majah no 1987 dari hadits Abdullah bin ‘Amr, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 284)

Keempat, hak hadhanah (pengasuhan anak masih kecil) dalam Islam diberikan kepada perempuan ketika ia berpisah dari suaminya (bercerai ataupun meninggal). Karena limpahan kasih sayang dan perhatian seorang ibu tidaklah tergantikan. Dalam keadaan seperti itu, maka wajib bagi suami atau keluarga suami untuk memberikan nafkah kepada dia (QS al-Baqorah: 233).

Kelima, Allah membolehkan perempuan bekerja, memberikan dedikasinya untuk kemaslahatan umat. Dan seluruh hasil keringatnya adalah hak perempuan sepenuhnya yang jika ia berbagi kepada keluarganya maka bernilai shodaqoh.

Keenam, Islam memandang bahwa perempuan adalah sebuah kehormatan yang wajib dijaga dengan seperangkat aturan penjagaan. Seperti adanya larangan bepergian sehari semalam tanpa didampingi mahram, larangan berkhalwat, larangan tabarruj ( memperlihatkan perhiasan dan kecantikan kepada laki-laki yang bukan mahram), larangan berikhtilat (bercampur baur) dengan laki-laki yang bukan mahramnya dan mewajibkan adanya pemisahan antara laki-laki dan perempuan. Semua hukum ini dimaksudkan untuk menjaga perempuan dari pandangan seksual yang muncul dari pikiran orang-orang yang menjadi sumber kerusakan.

Allah juga memberi ketentuan pakaian bagi muslimah yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Pakaian itu berupa jilbab (QS.Al-Ahzab: 59) dan khimar/kerudung (QS. Annur: 31).

Pakaian muslimah itu bukanlah untuk mengekang geraknya, bukan pemasung kiprahnya. Namun pelindung muslimah dari kejahatan orang-orang yang hendak merendahkan kehormatannya. Karena Allah MahaMengetahui bahwa perempuan adalah aurat, sebagaimana hadist Rasulullah:

اَلْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ ، وَإِنَّهَا إِذَا خَرَجَتْ مِنْ بَيْتِهَا اِسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ، وَإِنَّهَا لاَتَكُوْنُ أَقْرَبَ إِلَى اللهِ مِنْهَا فِيْ قَعْرِ بَيْتِهَا

Wanita itu aurat, jika ia keluar dari rumahnya maka setan mengikutinya. Dan tidaklah ia lebih dekat kepada Allâh (ketika shalat) melainkan di dalam rumahnya.” (HR. at-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausâth, no. 2911 dari Shahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma)

Ketujuh, Allah membolehkan perempuan berperan dalam bidang-bidang tertentu dan melarang dalam bidang yang lainnya (Misal, larangan menjadi pemimpin suatu kaum). Hal ini disesuaikan dengan tabiat dan fitrah keperempuanannya agar semua peran yang telah ditetapkan dapat berjalan optimal tanpa menciderai fitrah dan kehormatannya.

Atas itu semua, Allah anugerahkan gelar sebaik-baik perhiasan bagi perempuan sholihah. Tak inginkah kita?

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ.

"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik baik perhiasan adalah perempuan sholihah" (HR. Muslim no 1467)

Betapa muslimah adalah sosok yang patut bersyukur dan berbahagia. Karena Allah azza wa jalla telah melimpahi kita dengan cinta yang sebenarnya. Cinta yang memberikan yang terbaik, sesuai dengan tabiat keperempuanan kita. Pun menjaga fitrah kita agar tak rusak oleh debu-debu dunia fana. Lalu, masihkah kita ragu menerima seluruh bukti cinta-Nya, seraya berpaling pada aturan manusia yang lemah tanpa daya? [vm]

Belum ada Komentar untuk "Muslimah, Hidupnya Penuh dengan Cinta"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...