Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bullying, Potret Buruk Sistem Pendidikan


Oleh: Yuli Farida ( Aktivis Dakwah Kampus )

Bullying pelajar terhadap seorang nenek menggambarkan betapa buruk sikap pelajar tersebut , Entah apa yang ada di benak para pelajar di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, tega menganiaya seorang nenek. Aksi penganiayaan ini viral di media sosial. Total ada 6 pelajar yang diamankan polisi terkait kasus ini. Saat diperiksa polisi, mereka mengaku iseng saat menendang korban,“Jadi untuk sementara ini, alasan menganiaya tidak sengaja atau iseng-iseng. Para pelajar ini mengaku tidak ada niat untuk melukai dan lain sebagainya. Aksi penganiayaan ini diketahui terjadi pada Sabtu (19/11). Dalam sebuah video yang beredar nampak awalnya para pelajar itu mendatangi korban. Memang tak terdengar jelas apa yang dibicarakan. Tak berlangsung lama, ada salah satu pelajar yang turun dari motor dan langsung menendang korban. Nenek itu pun terjatuh Para pelajar itu bahkan terlihat tertawa terbahak-bahak usai melakukan perbuatannya. Imam mengatakan, video viral itu direkam sendiri oleh salah satu pelajar tersebut. Lalu dikirim ke grup WhatsApp mereka. Saat ini, terkait keberadaan korban sudah berhasil ditemukan dan dibawa ke Mapolres Tapsel. Korban diduga ODGJ.( KumparaNews 20/11/2022 ).

Ini menunjukan kegagalan sistem pendidikan dalam mencetak anak yang berakhlak mulia, dan juga gagalnya sistem kehidupan sehingga tak menghormati orang yang lebih tua, Polres saat ini sedang meminta rumah sakit setempat untuk memeriksa kondisi nenek yang ditendang dan mencari pihak keluarga untuk memastikan benarkah ia adalah seorang ODGJ. "Anak-anak itu saat ini dikembalikan ke orang tua masing-masing dan dalam pengawasan Polres serta lembaga lain telah dilakukan pemeriksaan terhadap pelajar-pelajar itu dan disimpulkan bahwa pelaku yang melakukan kekerasan dengan cara menendang adalah IHR yang direkam oleh ZA. Pelajar yang memukul dengan menggunakan kayu adalah VH yang direkam oleh AR. Sembilan pelajar tersebut dikembalikan ke orang tua masing-masing karena masih di bawah umur. Namun, para pelajar disebut masih tetap dalam pengawasan Polres.Video yang viral memperlihatkan empat sepeda motor yang ditumpangi para pelajar berhenti di pinggir jalan, sementara perekam video ada di motor lainnya dalam rombongan itu. Salah satu motor yang ditumpangi dua remaja berseragam sekolah berhenti di depan nenek-nenek. Remaja itu tampak berbicara kepada nenek dari atas motor. Lalu tiba-tiba pelajar dari motor yang berhenti di depannya berlari ke arah nenek dan menendang sang nenek. Nenek itu langsung terjungkal usai ditendang. Remaja penendang lalu berlari ke arah motor dan kemudian meninggalkan nenek tersebut sambil tertawa.( CNN Indonesia.com 20/11/2022 )

Di kasus lain Aksi bullying atau perundungan kembali terjadi di lingkungan pendidikan. Seorang siswa di SMP Baiturrahman, Kota Bandung, menjadi korban. Aksi perundungan tersebut terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial. Dalam video yang diunggah akun Twitter @DoniLaksono, tampak seorang siswa memasang helm pada korban. Kemudian pelaku menendang kepala korban hingga terjatuh. Rekan korban yang ada di dalam kelas tersebut hanya melihat aksi bully tersebut. Korban yang terjatuh juga dibiarkan dan malah ditertawakan rekan-rekannya. Dari narasi yang beredar, korban sempat dilarikan ke rumah sakit.

Kepala Sekolah Kecam Aksi Bullying

Kepala Sekolah SMP Plus Baiturrahman Saefullah Abdul Muthalib mengakui adanya aksi perundungan sesama murid yang terjadi di sekolahnya. Dia pun mengecam aksi perundungan tersebut "Kejadian ini memang terus terang saja kami sangat mengecam dan tidak setuju terhadap kejadian ini karena ini adalah kekerasan.Menurut Saefullah, perundungan di sekolah tak diharapkan lagi untuk terjadi. Lagi pula, program sekolah yang dicanangkan memang tak menghendaki adanya aksi kekerasan terjadi di institusi pendidikan. Ada pun pelaku yang terlibat dalam aksi perundungan itu berjumlah satu orang. Korban dan pelaku disebut masih duduk di bangku kelas 9.

Sekolah Meminta Maaf

Saefullah selaku kepala sekolah memastikan pihaknya sudah melakukan mediasi antara keluarga korban dan pelaku yang terlibat dalam aksi bullying. Hasilnya, mediasi yang dilakukan disebut berlangsung dengan baik. Dia pun mengaku sudah memberi peringatan kepada pelaku agar tak mengulang lagi perbuatannya di kemudian hari."Alhamdulillah (mediasi) kita berjalan dengan baik secara kekeluargaan asal memang kita memberikan peringatan kepada pelaku untuk tidak mengulangi lagi, Pihak sekolah menyampaikan permintaan maaf kepada pihak keluarga korban maupun pelaku atas adanya aksi perundungan tersebut. Saefullah mengakui pihaknya telah melakukan kelalaian sehingga mengakibatkan peristiwa itu terjadi.

Pelaku Disanksi Belajar Daring

Pelaku mendapatkan sanksi dari sekolah. Tak hanya diberikan teguran, pelaku akan diberi sanksi tak boleh mengikuti belajar offline bersama murid lainnya. "Kita ada pemberian efek jera kepada pelaku itu melalui teguran, nasihat, dan mungkin tidak bakal melakukan pembelajaran bersama siswa lainnya. "Jadi proses pembelajaran yang akan kita bedakan dengan mereka supaya lebih kondusif pembelajarannya. Jadi si pelaku masih tetap bisa belajar, si korban dan yang lain masih bisa belajar.

Orang Tua Korban Lapor Polisi

Kapolsek Ujungberung Kompol Karyaman memastikan orang tua korban sudah melaporkan kasus itu ke polisi. "Hari ini (orang tua korban) melakukan laporan ke Polsek Uber.Karyaman memastikan, pihaknya bakal melanjutkan proses hukum atas laporan tersebut. Namun, tak menutup kemungkinan akan ada upaya lainnya yang dilakukan. Sejauh ini proses mediasi antar keluarga korban dan pelaku masih berlangsung.

Pelaku Diamankan

Kompol Karyaman mengatakan polisi sudah mengamankan pelaku dalam aksi perundingan. Pihaknya juga telah memintai keterangan dari empat hingga lima saksi atas kasus itu. "Jadi baik korban maupun saksi-saksi lain atau rekan-rekan korban termasuk yang diduga pelaku, itu sudah kita minta keterangan dan pelaku kita amankan di Polsek untuk menjelaskan perkaranyaDia pun mengatakan, tak menutup kemungkinan kasus tersebut bakal ditingkatkan oleh polisi dari tahap penyelidikan ke tahap penyidikan. "Mudah-mudahan tidak ada hambatan. Dan mungkin proses selanjutnya bisa ditingkatkan ke proses penyidikan. ( KumparaNews 20/11.2022 ).

Jika kita sebutkan satu per satu, betapa mengerikan kasus perundungan ini di kalangaan pelajar. Korbannya bukan lagi usia balig, anak usia prabalig sudak menjadi pelaku. Kasusnya beragam, dari skala ringan hingga berat, bahkan berujung kematian. Ada apa dengan anak-anak kita? Mengapa mereka tumbuh beringas dan miskin nurani? Ada apa dengan orang tua? Mengapa egitu sulit mendidik anak-anak berkepribadian mulia? Juga ada apa dengan Negara? Mengapa perannya tampak mandul dan fasif terhadap fenomena kerusakan generasi hari ini ?.

Mengurai Akarnya

Perundungan atau school bullyng di kalangan pelajar merupakan perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang olehseorang atau sekelompok pelajar yang memiliki kekuasaan dan kekuatan,terhadap pelajar lain yang lebih lemah dengan tujuan menyakitinya. Perundungan bisa berupa fisik,verbal dan tidak langsung. Perundungan fisik misalnya menonjok,mendorong,menendang, memukul dan menggigit. Perundungan verbal antara lain menyoraki, menyindir, mengolok-olok, menghina, dan mengancam. SEdangkan perundungan tidak langsung berupa menhabaikan, tidak mengikut sertaka, dan menyuruh oerang lain untuk menyakitinya. Jika kita mencermati, ada tiga faktor besar yang menjadi simpul masalah mengapa perundungan menjadi penyakit mengakar di dunia pendidikan.

Pertama, keluarga. Kita pasti sepakat jika pembentukan keperibadian anak bermula dari pola asuh keluarga. Sistem sekulerisme berpengaruh besar terhadap pola asuh orang tua terhadap anak-anak mereka. Penanaman akidah islam, adab dan ketaatan kepada Allah banyak terabaikan. Akibatnya,banyak orang tuua yang lalai bahwa mengajarkan anak tentang kecintaannya dengan agama jauh lebih penting ketimbang kecintaannnya kepada segala hal yang bersifat duniawi atau materi.

Kedua, lingkungn sekolah dan masyarakat. Kasus perundungan bisa terjadi di mana saja, tidak terkecuali di sekolabyang berbasis agama ( islam ). Tantangan pendidikan hari ini adalah kita sedang berhadapan dengan lingkungan yang rusak, media, dan tontonan yang mengajarkan budaya hedonis dan permisif, visimisi skolah yang bercampur dengan kepentinan bisnis, serta sikap masyarakat yang individualisdan cenderung cuek terhapat kemaksiatan, menjadikan sulit menciptakan lingkungan yang kondusif bagi anak.

Ketiga, Negara bertanggungbjawab besar dalam membangun SDM unggul. Semua itu dimulai dari pembentukan kepribadian pada generasi. Pemerintah sebenarnya telah membuatprogram sekolah rumah anak. Sayangnya,program tersebut terkesan seperti jargon yang tidak bermakna sebab diterapkan di ataslandasan sistem sekulerisme. Padahal kerusakan generasi hari ini tidak lain karena penerapan idiologi sekuler kapitalisme. Bagaiman mungkin lingkungan rumah anak tercipta jika anak-anak terus dijejali dengan pemikiran, norma dan nilai sekuler dalam kehidupan mereka.

Solusi Islam

Apa pun bentuknya, Islam melarang perundungan. Dalam islam, perundukan adalah perbuatan tercela yang dilarang oleh Allah Taala. Larangan ini termaktub dalam al-qur’an yang artinya. “ Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”( QS. Al-Hujarat: 11 ). Dari sini sudahtelihat sangat jelas bahwa sistem pendidikan sekuler gagal menciptakan lingkunganb ramah anak. Olah karenanya, generasi ini akan selamat dari kerusakan hanya dengan tiga cara.

Pertama, menerapakan sistem pendidikan berbasis akidah islam. Porsi islam dalam pendidikan harus banyak dan berpengaruh, bukan sebagai pelengkap materi ajar semata. Sistem ini tidak akan berjalan tanpa sistem ekonomi yang berdasarkan syariat islam. Dengan politik ekonomiislam, Negara dapat membangun fasilitas dan sarana memadai yang dapat menunjang kegiatan KBM di sekolah.

Kedua, kontrol dan pengawasan masyarakat dengan dakawah amar makruf nahu mungkar, juka peran masyarakat berfungsi optimal, tidak akan ada kemaksiatan atau pelanggaran yang ditoleransi karena masyarakat membiasakan diri untuk peduli dan salaing menasehati.

 Ketiga, fungsi Negara sebagai penjaga dan pelindung generasi dari berbagai kerusakan harus menyeluruh. Negara harus melarang segala hal yang merusak, seperti tontonan brbau sekuler dan liberal, media porno, dan kemaksiatan lainnya. Negara akan memberlakukan sanksi berdasarkan syariat islam, Negara adalah penyelenggara pendidikan setiap anak berhak mendapatkan pendidikam gratis dan berkualitas.

Untuk membangun generasi cerdas, berkualitasdan berakhlak karimah, diperlukan perbaikan menyeluruh, yaitu mengubah paradigm sekuler menjadi pendidikan berbasis islm. Kegemilangan islam selama 1.400 tahun menguasai dunia dan melahirkan generasi ungul sebenarnya sudah cukup menjadi alas an kuat bagi kita untuk merombak secara totalitas sistem pendidikan hari ini. Teladan inu sudah tercatat daqlam lembaran sejarah. Tinggal kemauan kita untuk bebar-benar serius membangun generasi ini sebagainpilar pembanguan peradapan islam. Hanya dengan islam kita menjadi umat terbaik. Tanpa islam kita tidak akan baik, sebagaimana ungkapan Umar bin Khaththab ra.” Kita dalah umat yang pernah hina dan lemah,lalu Allah menguatkan danmemuliakan kita dengan islam. Kalau kita mencari kemuliaan selain dengan agama ini, Allah akan menghinakan kita”. Wallahualam.



 

Posting Komentar untuk "Bullying, Potret Buruk Sistem Pendidikan"