Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Eksploitasi Anak Kian Marak, Buah Sistem Kapitalisme


Ilustrasi 

Oleh : Imroatus Sholeha (Freelance Writer) 

Kasus eksploitasi kian mengkhawatir, mirisnya kali ini anak di bawah umur terjerat kasus perdagangan manusia atau prostitusi. 

Belum lama Polda Metro Jaya menangkap seorang perempuan berinisial FEA (24 tahun), muncikari pada kasus prostitusi anak di bawah umur atau perdagangan orang melalui media sosial.

Lebih lanjut Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak menyebutkan, dua anak terjerat dalam kasus prostitusi tersebut, yakni SM (14) dan DO (15) yang j, DO juga pertama kali dipekerjakan oleh pelaku yang menjanjikan diberikan uang sebesar Rp 1 juta. Keduanya mengaku melakukan tindakan tersebut karena faktor ekonomi. 

“Selain SM dan DO, melalui media sosial pelaku diduga masih ada 21 orang anak yang dieksploitasi secara seksual dan diduga anak di bawah umur,” katanya.

Republika.co.id, 24/09/2023.

Kasus eksploitasi anak bukanlah pertama kali terjadi. Sebelum ini telah banyak pemberitaan terkait anak dibawah umur yang terjerat kasus prostitusi baik berperan sebagai mucikari ataupun korban. Inilah potret buruk kehidupan Sekularisme yang telah memisahkan agama dari kehidupan. Manusia bertingkah laku tanpa memandang halal dan haram atau bahkan memanfaatkan orang lain demi keuntungan materi terlebih dalam kondisi ekonomi yang sulit anak-anak yang masih polos menjadi sasaran empuk meraup untung dengan cepat. 

Hal ini juga menjadi bukti gagalnya negara yang menganut sistem Kapitalis-Liberal dalam melindungi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Usia dimana harusnya anak-anak fokus belajar menuntut ilmu malah memikirkan kondisi ekonomi yang kian mencekik. Akibatnya tak jarang anak-anak di bawah umur menjadi muncikari, korban prostitusi, pengedar narkoba, bahkan pelaku kriminal. 

Sistem kapitalis-liberal melahirkan manusia berorientasi materi sebagai tolak ukur kehidupan, dengan kebebasan yang ada tak jarang melakukan apa saja demi materi tanpa memandang halal-haram, baik-buruk dalam aturan sang Pencipta. Perzinahan(prostitusi), Narkotika, Seks bebas, LGBT, tindak kriminal lainya kian menjamur.

Kondisi buruk ini makin menegaskan keamanan anak semakin mengkhawatirkan. 

Begitupun dengan keberadaan keluarga sebagai rumah yang menjadi tempat berlindung anak-anak dalam kehidupan Sekuler-Liberal fondasi keluarga kian rapuh KDRT, Perselingkuhan, Faktor ekonomi, judi online menjadi penyebab tingginya angka perceraian yang berimbas kepada anak-anak. 

Hari anak di peringati sebagai acara ceremonial belaka tanpa mengkaji lebih dalam akar persoalan yang menimpa generasi saat ini. Dalam sistem Kapitalis negara hanya bertindak sebagai regulator, rakyat di biarkan mengurusi kehidupannya. Negara tidak menjamin terpenuhinya hak rakyat yang harusnya di berikan oleh negara termasuk perlindungan anak-anak, pendidikan, kesehatan, maupun kebutuhan hidupnya sehingga kondisi yang sulit membuka lebar pintu kriminal tak terkecuali anak-anak menjadi incaran. 

Keamanan anak hanya bisa terwujud dalam negara yang menerapkan sistem Islam. Di dalam Islam anak-anak berhak mendapatkan perlindungan baik dari keluarga maupun negara. Orang tua wajib mendidik dan memberikan nafkah yang layak sehingga anak tidak dibebankan menanggung kebutuhan hidup dibawah kemampuannya. Jika orang tua telah tiada maka kebutuhan dibebankan kepada keluarga yang lain dan jika tidak mampu atau tidak memiliki keluarga maka negara yang akan menjamin kebutuhannya. Negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan bagi tulang punggung keluarga agar bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sebab itu bagian dari bentuk tanggung jawab negara atas rakyat yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti.

Tak hanya keluarga, elemen masyarakat dan negara yang paling penting dalam membentuk kepribadian anak-anak. Sebab rusaknya anak-anak hari ini karena sistem rusak yang diterapkan negara yang menciptakan kemudharatan di segala aspek kehidupan. Negara yang menerapkan aturan Islam akan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pergaulan ataupun pendidikan anak. Menjauhkan segala hal yang berpotensi merusak moral dan mental anak atau hal-hal negatif lainya. 

Hanya Islam yang dapat memberikan perlindungan terhadap anak, dan terciptanya lingkungan yang baik dengan penerapan Islam akan melahirkan generasi yang cemerlang. Diterapkannya sanksi yang tegas akan membawa efek jera sehingga tindak kriminal maupun maksiat akan terminimalisir dan keamanan anak akan terjaga. Wallahualam bi shawwab! []          

Posting Komentar untuk "Eksploitasi Anak Kian Marak, Buah Sistem Kapitalisme"

close