Idul Fitri Momentum Mewujudkan Ketakwaan dan Persatuan Hakiki Dibawah Kepemimpinan Islam
Kota Malang (19/3/2026), sekitar seribuan kaum muslimin kota Malang berbondong- bondong menghadiri solat Idul Fitri 1447 H yang digelar oleh Komunitas Rukyat Global Indonesia Kota Malang pada hari Kamis 19/3/2026 pukul 06.20--07.00 WIB.
Solat Idul Fitri ini diselenggarakan berdasarkan hasil rukyatul hilal bulan sabit secara global, dimana hilal/bulan sabit 1 Syawal sudah terlihat di Afghanistan pada petang 29 Ramadhan 1447 H (18 Maret 2026).
Solat Idul Fitri dengan tema: "Momentum Untuk Mewujudkan Ketakwaan dan Persatuan Hakiki Dibawah Kepemimpinan Islam" ini dilaksanakan di lapangan parkir Ruko WR Supratman Kota Malang. Jama'ah hadir dengan tertib dan cukup membludak ini menarik para pengguna jalan yang cukup padat di pagi hari, namun lalu-lintas tetap berjalan lancar.
Sebagai imam Ustadz Syaifuddin Zuhri, SPd. (pembina tahsin Hidup Berkah) yang memimpin solat Idul Fitri dengan khusuk. Sedangkan sebagai khotib Kyai Azizi Fathoni (pimpinan Pondok Pesantren Darul Muttaqin).
Dalam khutbahnya Kyai Azizi menyampaikan bahwa Ramadhan adalah madrasah besar pembentuk takwa, takwa bukan sekadar rasa takut. Takwa adalah cara hidup. Takwa adalah ketika hati kita senantiasa tunduk dan jiwa kita selalu taat.
"Ramadhan adalah madrasah besar pembentuk takwa. Takwa bukan sekadar rasa takut. Takwa adalah cara hidup. Takwa adalah ketika hati kita senantiasa tunduk dan jiwa kita selalu taat. Takwa adalah saat kita lebih khawatir berbuat dosa. Daripada takut miskin atau kehilangan dunia," ungkapnya.
Kyai Azizi mengungkapkan takwa adalah ketika hidup kita diatur hanya oleh al-Quran yang mulia, bukan oleh hawa nafsu manusia. Al-Quran ini tentu wajib kita amalkan secara keseluruhannya.
"Lebih dari itu, takwa adalah ketika hidup kita diatur hanya oleh al-Quran yang mulia. Bukan oleh hawa nafsu manusia. Al-Quran ini tentu wajib kita amalkan secara keseluruhannya. Bukan hanya sebagiannya saja," ungkapnya.
Kyai Azizi menegaskan tak layak kita hanya mengamalkan kewajiban shalat, puasa dan ibadah-ibadah ritual lainnya lalu kita mencampakkan kewajiban untuk menerapkan hukum-hukum al-Quran.
"Tak layak kita hanya mengamalkan kewajiban shalat, puasa dan ibadah-ibadah ritual lainnya. Lalu kita mencampakkan kewajiban untuk menerapkan hukum-hukum al-Quran dalam berbagai perkara lainnya; seperti politik/pemerintahan, ekonomi, pendidikan, sosial, hukum pidana. Demikian sebagaimana firman-Nya:
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. (QS al-Baqarah [2]: 208)," tegasnya.
Lebih dari itu Kyai Azizi mengajak merenung kita seharusnya bertanya dengan nada cemas: Mengapa umat Islam yang jumlahnya hampir dua miliar masih banyak yang tertindas? Mengapa saudara-saudara kita di Gaza terus dibombardir dan terus mengalami kekerasan?
"Idul Fitri juga harusnya menjadi hari perenungan. Hari saat hati kita seharusnya bertanya dengan nada cemas: Mengapa umat Islam yang jumlahnya hampir dua miliar masih banyak yang tertindas? Mengapa saudara-saudara kita di Gaza terus dibombardir dan terus mengalami kekerasan? Jawabannya adalah karena umat Islam saat ini tercerai-berai. Terpisah-pisah oleh batas-batas imajiner yang sengaja dibuat oleh bangsa-bangsa kafir penjajah. Kita sudah menjadi negara-bangsa (nation-state) dan nasionalisme sempit. Akibatnya, ketika satu negeri Muslim diserang, negeri Muslim lainnya tidak mampu membela sebagai satu kekuatan. Padahal Allah SWT telah menegaskan: "Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara" (QS al-Hujurat [49]: 10). Persaudaraan dalam Islam tentu bukan sekadar ada di kata-kata. Ia adalah ikatan akidah yang melampaui ras, bangsa dan batas negara," paparnya.
Kyai Azizi mengajak Idul Fitri sesungguhnya harus menjadi hari kesadaran, hari saat kita memahami bahwa umat ini pernah memimpin dunia dengan penuh keadilan, pernah menjadi pelindung bagi bangsa- bangsa yang tertindas dan menjadi korban kezaliman, sebabnya kaum Muslim selama berabad-abad lamanya berada dalam naungan dan perlindungan Khilafah Islam.
"Karena itu Idul Fitri sesungguhnya harus menjadi hari kesadaran. Hari saat kita memahami bahwa umat ini pernah memimpin dunia dengan penuh keadilan. Hari manakala kita mengerti bahwa umat ini pernah menjadi pelindung bagi bangsa-bangsa yang tertindas dan menjadi korban kezaliman. Dulu, saat umat Islam sedunia memiliki kepemimpinan global yang menyatukan, mereka menjadi umat yang disegani dan diperhitungkan. Tak mudah bagi musuh-musuh mereka untuk melecehkan dan menistakan. Sebabnya adalah kaum Muslim selama berabad-abad lamanya berada dalam naungan dan perlindungan Khilafah Islam," pungkasnya. [salim]



Posting Komentar untuk "Idul Fitri Momentum Mewujudkan Ketakwaan dan Persatuan Hakiki Dibawah Kepemimpinan Islam"