Peristiwa di Suriah dan Mundurnya Pasukan Demokratik Suriah (SDF)

Gambar hanya ilustrasi (*)

Pertanyaan:

Peristiwa-peristiwa berkembang dengan sangat cepat dan dinamis di wilayah timur laut Suriah, dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) kehilangan kendali atas wilayah-wilayah tersebut dengan kecepatan yang sangat tinggi, sementara rezim Suriah mengambil alihnya. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Bagaimana hal ini harus dipahami mengingat bahwa baik rezim Suriah maupun SDF sama-sama merupakan agen Amerika? Dan meskipun lampu hijau Amerika kepada pemerintah Suriah untuk merebut wilayah-wilayah tersebut tampak seterang siang hari, apa yang sebenarnya direncanakan pemerintahan Trump di Suriah atau di sekitarnya?

Jawaban:

Agar jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi jelas, kami paparkan hal-hal berikut:

Pertama: Tahapan dukungan Amerika terhadap SDF di Suriah

1. Pasukan Demokratik Suriah (SDF atau QASAD) adalah sebuah aliansi luas yang dibentuk pada Oktober 2015 dengan tujuan memerangi organisasi Negara Islam (ISIS/ISIL/DAESH). Pasukan ini terdiri dari pejuang Kurdi, Arab, Suryani, Armenia, dan Turkmen. Komponen terbesar dalam SDF adalah Unit Perlindungan Rakyat (YPG) dan Unit Perlindungan Perempuan (YPJ), yang bertanggung jawab atas keamanan dan pertahanan wilayah-wilayah kanton pemerintahan sendiri yang dideklarasikan di Rojava(Wikipedia).

Amerika meningkatkan dukungannya terhadap Pasukan Demokratik Suriah sejak pendiriannya pada tahun 2015 dan sejak intervensi Amerika di Suriah pada tahun 2014, yang mendahului intervensi Rusia. Pasukan Amerika memberikan perlindungan udara kepada SDF dan melimpahkan kepada mereka dukungan finansial serta persenjataan. Komitmen Amerika terhadap mereka bahkan mencapai titik di mana Amerika membunuh ratusan pasukan Wagner Rusia yang mencoba menyeberangi Sungai Eufrat ke arah timur pada Februari 2018. Amerika juga menolak seluruh pernyataan dan upaya Turki yang bertujuan untuk melemahkan SDF.

Dengan demikian, dukungan Amerika terhadap SDF terus berlanjut sejak pendiriannya, dengan menyediakan perlindungan udara militer sekaligus perlindungan politik, di samping dukungan finansial dan persenjataan, serta memfasilitasi penguasaannya atas tanah-tanah subur di sekitar Sungai Eufrat, ladang minyak dan gas, serta pembangkit listrik. Amerika juga menentang penolakan Turki terhadap kebijakan Amerika ini di timur laut Suriah. Semua itu merupakan bagian dari persiapan Amerika dalam menyiapkan alat-alat untuk memerangi Islam apabila Khilafah Islam diluncurkan dari Damaskus.

2. Hari ini, Trump memandang bahwa pemerintahan Ahmed al-Sharaa lebih mampu mewujudkan kepentingan Amerika di kawasan, yang terpenting di antaranya adalah dua hal: menjauhkan sistem pemerintahan Islam dari Suriah, dan tunduk pada tuntutan entitas Yahudi di Suriah dan Palestina, sehingga entitas tersebut tidak dilawan meskipun ia melakukan serangan siang dan malam!

Oleh karena itu, sikap Trump—yang kemudian diikuti oleh para menterinya—terkait berakhirnya peran SDF dan digantikannya oleh rezim Suriah dalam melayani kepentingan Amerika di kawasan menjadi jelas. Hal ini tidak lagi tersembunyi, melainkan diumumkan secara terang-terangan siang dan malam oleh utusan Amerika untuk Suriah, Tom Barrack, dalam kunjungan-kunjungannya, serta dalam pernyataan presiden Turki dan presiden Suriah.

a. Tom Barrack menyatakan: “Peran Pasukan Demokratik Suriah (SDF) sebagai ‘kekuatan utama anti-ISIS di lapangan’ telah ‘sebagian besar berakhir’, karena pemerintah Suriah siap mengambil alih tanggung jawab keamanan.” (Al-Jazeera Net, 21/1/2026).

Dalam pernyataan lain di platform X, Barrack mengatakan: “Situasi Suriah telah ‘berubah secara mendasar’, dengan Damaskus bergabung dalam Koalisi Global untuk Mengalahkan ISIS sebagai anggota ke-90 pada akhir 2025. Suriah kini ‘bersedia dan siap mengambil alih tanggung jawab keamanan’, termasuk pengendalian fasilitas dan kamp penahanan ISIL (ISIS).” (Al Jazeera; BBC, 20/1/2026).

Ia juga menyatakan dalam unggahan panjang di akun X miliknya, yang diterjemahkan oleh Kedutaan Besar AS di Suriah: “Hari ini, situasinya telah berubah secara mendasar. Suriah kini memiliki pemerintahan pusat yang diakui yang telah bergabung dengan Koalisi Global untuk Mengalahkan ISIS (sebagai anggota ke-90 pada akhir 2025), menandai pergeseran ke arah Barat dan kerja sama dengan Amerika Serikat dalam memerangi terorisme. Hal ini mengubah dasar kemitraan AS–SDF: tujuan awal SDF sebagai kekuatan utama anti-ISIS di lapangan sebagian besar telah berakhir, karena Damaskus kini siap dan mampu mengambil alih tanggung jawab keamanan, termasuk pengendalian fasilitas dan kamp penahanan ISIS.” (X; CNN Arabic, 21/1/2026).

b. Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan mengatakan pada hari Rabu bahwa pasukan Kurdi di Suriah utara harus meletakkan senjata dan segera membubarkan barisan mereka guna mencapai solusi tanpa pertumpahan darah lebih lanjut, setelah Damaskus memberi mereka tenggat waktu empat hari untuk mengajukan rencana integrasi al-Hasakah ke dalam negara pusat. (Al-Jazeera Net, 21/1/2026).

c. Kepresidenan Suriah mengumumkan dalam sebuah pernyataan pada hari Senin bahwa presiden transisi Suriah Ahmed al-Sharaa melakukan pembicaraan via telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menurut pernyataan yang diterbitkan oleh Kantor Berita Arab Suriah (SANA): “…kedua presiden menekankan pentingnya menjaga persatuan wilayah dan kemerdekaan Suriah, serta mendukung semua upaya yang bertujuan mencapai stabilitas. Kedua pihak juga menegaskan perlunya menjamin hak-hak dan perlindungan rakyat Kurdi dalam kerangka negara Suriah.” (SANA; CNN Arabic, 19/1/2026).

Kedua: Dari semua itu, menjadi jelas bahwa Amerika memberikan lampu hijau kepada Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa untuk mengakhiri keberadaan SDF. Amerika saat ini tidak menyembunyikan niatnya, dan juga tidak berupaya menggunakan bahasa diplomatik. Amerika secara terbuka menyatakan bahwa SDF, sebagai alat Amerika untuk memerangi “terorisme”, telah berakhir, dan bahwa Amerika kini ingin bergantung pada alat yang lebih besar, yaitu pemerintahan Ahmed al-Sharaa. Keduanya adalah alat Amerika, dan Amerika mengganti alat-alatnya sesuai kehendaknya. Semua itu, bersama dengan perkembangan di lapangan, menunjukkan banyak hal, di antaranya sebagai berikut:

1. Isu penggantian satu agen dengan agen yang lain: Selama revolusi Syam, yang telah menguras Amerika dan membuat rambut Obama memutih, Amerika terus mencari agen kuat yang mampu memerintah untuk menggantikan agennya, Bashar, yang terhadapnya Suriah telah bangkit. Kami telah menyatakan dalam Jawaban atas Pertanyaan tertanggal 26/7/2025 bahwa hal ini menjelaskan bahwa rencana Amerika di Suriah: “berdasarkan satu premis mendasar: mengganti satu agen dengan agen yang lain. Untuk tujuan itu, Turki diberi lampu hijau untuk membongkar rezim Bashar dan membangun rezim baru yang loyal kepadanya.”

Turki dan dinas intelijennya menjalankan misi Amerika ini dan menyiapkan Ahmed al-Sharaa, yang sebelumnya dikenal dengan nama al-Julani. Beberapa bulan sebelum berakhirnya pemerintahan Biden, Amerika mengizinkan Turki untuk memimpin operasi penyerahan Suriah kepada agen Amerika yang baru, Ahmed al-Sharaa. Turki, atas nama Amerika, menghubungi Iran dan Rusia serta menetralkan kekuatan mereka di Suriah. Amerika meminta Bashar al-Assad untuk menyerahkan negara, dan hal itu pun terjadi. Agen baru dipasang menggantikan agen lama, dan Turki tetap menjadi saluran utama komunikasi Amerika dengannya.

2. Amerika mulai menuntut agar agen barunya melakukan lebih banyak “tindakan-tindakan terlarang”, dan ia pun mulai membuktikan kepatuhannya di bawah tekanan Turki. Ia meninggalkan rayah (panji) yang bertuliskan Tauhid dan menggantinya dengan bendera sekuler, memberikan amnesti kepada sisa-sisa rezim Bashar, sementara terus memenjarakan para pemuda Khilafah yang bekerja untuk mewujudkan kabar gembira Rasulullah ﷺ setelah kekuasaan tiran yang sedang kita alami ini:

«…ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ. ثُمَّ سَكَتَ»

“...Kemudian akan ada kekuasaan yang bersifat tirani, dan ia akan berlangsung selama Allah menghendakinya. Kemudian Allah akan mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian akan datang Khilafah di atas manhaj kenabian.” Kemudian beliau diam.

Ia mengurangi alokasi pelajaran Al-Qur’an di sekolah-sekolah, dan Trump menuntut agar ia tidak menanggapi serangan-serangan berulang dan keras dari entitas Yahudi, yang bahkan telah mencapai Damaskus itu sendiri. Trump kemudian menuntut agar ia bernegosiasi dengan entitas Yahudi, dan putaran demi putaran perundingan pun berlangsung, dipimpin oleh menteri luar negerinya al-Shaybani, tanpa rasa malu dan tanpa ketakwaan—baik di hadapan Allah dan Rasul-Nya maupun di hadapan kaum beriman, khususnya rakyat Gaza.

Tuntutan pemerintahan Ahmed al-Sharaa kepada entitas Yahudi dalam perundingan tersebut begitu sepele, hingga kriminal Bashar pada perundingan tahun 2008 yang disponsori Turki—sebelum meletusnya revolusi Syam—telah bernegosiasi melampaui tuntutan-tuntutan tersebut.

Dengan menerima seluruh “tindakan-tindakan terlarang” ini, Amerika membuka saluran politik langsung dengannya, di samping saluran intelijen dan saluran Turki. Saluran politik pertama adalah pertemuan antara agen Amerika, Bin Salman (MBS), dan al-Sharaa di Riyadh pada 14/5/2025. Saluran-saluran ini kemudian berkembang, dan al-Sharaa menerima pujian dari presiden Amerika, yang kemudian menerimanya di Gedung Putih pada 11/11/2025, meskipun melalui pintu belakang dan tanpa upacara resmi. Trump menyatakan pada malam itu bahwa ia “sepakat” dengan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dan menegaskan bahwa Washington akan melakukan segala yang dapat dilakukannya untuk membuat Suriah berhasil. (RT, 11/11/2025).

3. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan membahas di Gedung Putih berbagai cara untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di Suriah, bersamaan dengan kunjungan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa ke Washington dan pertemuannya dengan Presiden Trump. Fidan mengumumkan bahwa pembahasan dilakukan di Gedung Putih bersama Menteri Luar Negeri AS Rubio, Utusan Khusus Presiden AS Witkoff, Utusan AS untuk Suriah Thomas Barrack, serta Menteri Luar Negeri Suriah As‘ad al-Shaybani. Wakil Presiden AS J.D. Vance kemudian bergabung dalam pertemuan tersebut. Para peserta membahas kemungkinan-kemungkinan jalan keluar dari permasalahan yang sedang berlangsung di Suriah. (RT, 11/11/2025).

4. Selama periode ini, Amerika mencabut sanksi terhadap Suriah secara bertahap, untuk memastikan pada setiap tahap bahwa al-Sharaa membuktikan dirinya sebagai agen Amerika yang setia. Akibatnya, Suriah bergabung dengan koalisi internasional untuk memerangi ISIS. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Damaskus mengumumkan pada 11/11/2025 bahwa Suriah telah bergabung dengan koalisi internasional untuk memerangi ISIS, dan secara resmi menjadi anggota ke-90. (Anadolu, 12/11/2025).

Amerika kemudian mencabut sanksi terhadap Suriah ketika Presiden Donald Trump menandatangani pembatalan Undang-Undang Caesar yang diberlakukan terhadap Suriah sejak tahun 2019. (Al-Jazeera, 19/12/2025).

Ketiga: Dalam peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung, pasukan SDF mulai menarik diri dari wilayah-wilayah. Menurut pernyataan komandan mereka, Mazloum Abdi, penarikan ini—dari barat Sungai Eufrat ke timurnya—dilakukan atas saran “para sahabat dan mediator” (Situs Kurdistan 24, 16/1/2026). Dan tentu saja Amerika berada di urutan teratas di antara para sahabat dan mediator tersebut, yang telah mendorong penerapan perjanjian antara SDF dan pemerintah Suriah pada 10/3/2025: “Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dan komandan Pasukan Demokratik Suriah Mazloum Abdi menandatangani pada hari Senin sebuah perjanjian yang menetapkan integrasi seluruh lembaga sipil dan militer yang berafiliasi dengan pemerintahan sendiri Kurdi ke dalam kerangka negara Suriah, sebagaimana diumumkan oleh kepresidenan...” (Al-Arabiya, 10/3/2025).

Kemudian pemerintah Suriah menandatangani perjanjian kedua dengan SDF, yang berdasarkan perjanjian tersebut SDF menarik diri dan menyerahkan “segera” provinsi Deir ez-Zor dan Raqqa. Utusan Amerika menyambut baik perjanjian ini dan menganggapnya sebagai titik balik yang menentukan, serta menyatakan bahwa Amerika menginginkan Suriah yang bersatu: Utusan Amerika untuk Damaskus, Tom Barrack, menganggap bahwa perjanjian yang penandatanganannya diumumkan oleh Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dengan komandan SDF Mazloum Abdi merupakan sebuah “titik balik yang krusial”. Barrack mengatakan dalam unggahannya di platform X: “Perjanjian dan gencatan senjata ini merupakan titik balik yang krusial, di mana para mantan musuh memilih kemitraan daripada perpecahan.”

Barrack memuji perjanjian tersebut dengan mengatakan bahwa hal itu akan mengarah pada “dialog dan kerja sama baru menuju Suriah yang bersatu.” (X: Al-Arabi Television, 18/1/2026).

Keempat: Sayap-sayap keras di dalam SDF—khususnya yang bekerja sama dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK)—menunda pelaksanaan perjanjian dengan harapan akan terbuka celah bagi mereka dalam kebijakan Amerika. Mereka bersikeras agar integrasi SDF ke dalam militer dilakukan sebagai satu blok, bukan secara individual.

Al-Arabiya melaporkan pada 17/1/2026, mengutip pertemuan Erbil, bahwa komandan SDF Mazloum Abdi berupaya meyakinkan pihak Amerika agar mengizinkan integrasi tersebut dalam bentuk tiga divisi di dalam tentara Suriah. Namun, celah ini tidak terbuka dalam sikap Amerika, baik dalam pertemuan Erbil maupun sebelumnya.

Pemerintahan al-Sharaa kemudian memulai serangan ofensif—yaitu menerapkan perjanjian dengan kekuatan—dimulai dari lingkungan-lingkungan kota Aleppo. Akibatnya, SDF dipaksa menandatangani perjanjian kedua dengan pemerintah, yang berdasarkan perjanjian tersebut mereka harus “segera” menyerahkan provinsi Deir ez-Zor dan Raqqa. Amerika mendukung perjanjian ini.

Sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, SDF berupaya menunda pelaksanaan pada setiap perjanjian, tetapi intervensi suku-suku Arab dan serangan mereka terhadap SDF tidak menyisakan ruang untuk itu, meskipun presiden Suriah menyerukan agar suku-suku tersebut tetap tenang.

Al-Sharaa mengatakan: “Kami menasihati suku-suku Arab kami agar tetap tenang dan memberikan ruang bagi pelaksanaan ketentuan-ketentuan perjanjian.” Milisi-milisi Arab telah bergabung dengan tentara dalam bentrokan mereka dengan Pasukan Demokratik Suriah sejak hari Sabtu. (CNN Arabic, 19/1/2026).

Kelima: Dengan demikian, peristiwa-peristiwa bergerak dengan sangat cepat:

1- Pemerintah Suriah mengumumkan bahwa proses pengintegrasian para pejuang SDF akan dilakukan secara individual, dan bukan sebagai satu blok, serta bukan sebagai divisi-divisi militer di dalam angkatan bersenjata dan kementerian dalam negeri. Pemerintah juga mengumumkan jaminan terkait hak-hak “kultural” penduduk serta pemberian kewarganegaraan.

Setelah itu, pemerintah Suriah secara nyata mulai mengambil alih wilayah-wilayah di provinsi Raqqa dan Deir ez-Zor, memasuki provinsi al-Hasakah, dan memperluas penguasaannya atas wilayah tersebut, sehingga tidak menyisakan ruang negosiasi bagi SDF kecuali terkait al-Hasakah.

Kementerian Pertahanan Suriah mengumumkan pada Senin malam adanya gencatan senjata antara pasukan Suriah dan SDF yang dimulai pukul 20.00 (sekitar satu jam setelah pengumuman tersebut) dan berlangsung selama empat hari. Hal ini menyusul pengumuman dari kepresidenan Suriah mengenai tercapainya kesepahaman bersama antara pemerintah dan SDF terkait isu-isu yang berhubungan dengan masa depan provinsi al-Hasakah (Al Jazeera Net, 20/1/2026).

Kesepakatan ini hanya memberikan kepada SDF sejumlah kecil langkah-langkah peredaan (appeasement). Kantor Berita Arab Suriah (SANA) melaporkan pada hari Selasa, mengutip pernyataan kepresidenan Suriah, bahwa komandan Pasukan Demokratik Suriah, Mazloum Abdi, akan mengajukan satu kandidat dari SDF untuk jabatan wakil menteri pertahanan, selain mengusulkan seorang kandidat untuk jabatan gubernur al-Hasakah, nama-nama untuk perwakilan di parlemen, serta daftar individu untuk dipekerjakan di dalam lembaga-lembaga negara Suriah (CNN Arabic, 20/1/2026).

Kepresidenan Suriah menyatakan bahwa, jika tercapai kesepakatan, “pasukan Suriah tidak akan memasuki pusat-pusat kota al-Hasakah dan al-Qamishli, dan akan tetap berada di pinggiran kota, sementara jadwal waktu serta rincian yang berkaitan dengan integrasi damai provinsi al-Hasakah—termasuk kota al-Qamishli—akan dibahas kemudian.” (BBC, 20/1/2026).

Kedua belah pihak juga sepakat bahwa pasukan pemerintah Suriah tidak akan memasuki desa-desa Kurdi, dan keamanan desa-desa tersebut akan ditangani oleh pasukan keamanan lokal dari penduduk wilayah setempat (CNN Arabic, 20/1/2026).

2- Setelah Amerika memutuskan untuk memindahkan tahanan ISIS dari penjara-penjara yang sebelumnya berada di bawah kendali SDF ke Irak, SDF meminta kepada Amerika perpanjangan tenggat waktu hingga proses pemindahan para tahanan tersebut selesai, dan hal itu pun terjadi.

Kementerian Pertahanan Suriah mengumumkan perpanjangan batas waktu gencatan senjata dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) selama 15 hari, sebagai dukungan terhadap operasi Amerika untuk mengevakuasi tahanan ISIS/ISIL dari penjara-penjara tersebut.

Kementerian Pertahanan menjelaskan melalui akun resminya di platform X bahwa perpanjangan tersebut akan dimulai malam ini pukul sebelas waktu setempat, dan bahwa hal ini dilakukan untuk mendukung pengosongan penjara-penjara SDF dari tahanan ISIS/ISIL serta pemindahan mereka ke Irak (Al Jazeera, 24/1/2026).

Dengan demikian, proses penutupan halaman SDF dan halaman komandannya—agen kecil Amerika, Mazloum Abdi—sedang berlangsung, setelah ia menyelesaikan tugas Amerika. Amerika pun mengakhiri jasanya dengan imbalan “gaji pensiun kecil”, yaitu penempatan beberapa orang pada posisi-posisi tertentu di sana-sini—sesuatu yang bisa jadi bersifat sementara.

Sebab, pihak yang mengelola peristiwa-peristiwa di kawasan ini adalah Amerika, dan apabila kepentingannya menuntut perubahan posisi, maka Amerika memerintahkan para agennya di kalangan para penguasa untuk melaksanakannya tanpa sedikit pun keraguan atau rasa malu.

[أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ]

“Sungguh buruk apa yang mereka tetapkan.” (QS. Al-Ma’idah: 50)

Keenam: Sungguh menyakitkan bahwa Suriah telah menjadi tunduk sepenuhnya kepada Amerika setelah seluruh pengorbanan yang dilakukan rakyatnya untuk mengganti rezim dan menegakkan pemerintahan Islam sebagai gantinya.

Amerika membeli kesetiaan yang murah demi mengamankan kursi kekuasaan yang bengkok, yang diduduki oleh seseorang yang melayani Amerika agar tetap bertahan di kursinya dan menguasai seluruh wilayah Suriah. Ia meninggalkan penerapan Islam dan jihad untuk membebaskan tanah yang diduduki, serta mengeluarkan Suriah dari garis konfrontasi dengan musuh—sesuatu yang bahkan kriminal buronan Bashar al-Assad tidak berani melakukannya.

Ia melupakan, atau berpura-pura lupa, bahwa melemparkan diri ke dalam pelukan Amerika tidak akan menjaga posisinya jika Amerika menemukan agen yang lebih mampu darinya. Pada mereka yang telah mendahuluinya terdapat pelajaran yang cukup.

Tidakkah para penguasa, para pembantu mereka, dan lingkaran mereka—para agen Amerika—mengambil pelajaran dari cara Amerika menjatuhkan para agennya, mencukupkan diri dengan jasa-jasa mereka, lalu meninggalkan mereka setelah impian mereka tenggelam, membuang mereka tanpa penyesalan dan tanpa meneteskan satu tetes air mata pun, setelah mereka menyebarkan kerusakan di muka bumi demi melayani Amerika—kemudian melemparkan mereka ke pinggir jalan ketika jasanya tidak lagi dibutuhkan dan digantikan dengan agen baru yang lebih mampu melayani kepentingannya?

Dan benar mengenai para penguasa agen ini adalah firman Allah Ta‘ala:

[فَأَذَاقَهُمُ اللَّهُ الْخِزْيَ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ]

“Maka Allah menimpakan kepada mereka kehinaan dalam kehidupan dunia. Dan sungguh azab akhirat lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Az-Zumar: 26)


8 Sya‘ban 1447 H / 27 Januari 2026 M

--------------------------------------- 

*)Diterjemahkan secara literal dari situs : HT Info

Posting Komentar untuk "Peristiwa di Suriah dan Mundurnya Pasukan Demokratik Suriah (SDF)"