Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tentang Satu Negara di Bawah Kontrol Jahat


Oleh : Umar Syarifudin – syabab HTI (pengamat Politik Internasional)

Ideologi Kapitalisme – sekuler dalam bentuk peradaban Barat telah mengakibatkan meningkatnya data kejahatan, kekerasan, penyakit mental, rusaknya tatanan keluarga dan hilangnya rasa kemanusiaan merupakan deretan masalah saat ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa penyakit mental di negara-negara ‘Barat’ lebih parah dibandingkan di negara-negara lain, bahkan hingga tahun 2020 ganguan mental akan menjadi faktor kedua yang menyebabkan kematian .

Lihat, posisi Amerika secara global tengah bergetar akibat berbagai kekalahan yang dideritanya di Irak dan Afganistan dari kaum muslimin.  Juga akibat krisis finansial yang meletus tahun 2008 lalu. Namun AS masih berusaha mencengkeram setiap jengkah tanah jajahan dalam kondisi tertatih-tatih. 

Amerika memberikan nilai sangat penting untuk melindungi wilayahnya dari dua sisi, samudera Atlantik dan samudera Pasifik yang mengelilinginya.  Sekarang tidak ada ancaman yang berarti bagi Amerika di samudera Atlantik, atau di balik Atlantik sebelah barat yakni Amerika Selatan.  Amerika tidak memprediksi, sejauh yang bisa diprediksi, akan adanya pesaing serius dan riil dari Eropa di Atlantik atau balik Atlantik.  Oleh karena itu, Amerika saat ini memberi perhatian ke kawasan lain yaitu samudera Pasifik dan samudera Hindia yang berikutnya laut Arab, kawasan Teluk dan Bab el-Mandab.  Untuk itu Amerika memperkecil kekuatannya di Atlantik untuk memperkuat kekuatannya di samudera Pasifik.

Amerika memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan perubahan yang akan datang pada tahun-tahun mendatang dan pada dekade ke depan berupa munculnya kekuatan Islami besar di dunia muslim, khususnya bahwa setengah penduduk kaum muslimin itu ada di kawasan Asia/Pasifik dan di utara samudera Hindia.  Dan kawasan itu merupakan perluasan dari kawasan kaum muslimin di teluk, Timur Tengah dan Afrika.  Bahkan itu merupakan bagian dari strategi besar daulah islamiyah ketika berdirinya nanti, atas izin Allah SWT. 

Catatan yang perlu diketahui, unsur penting yang memandu kebijakan luar negeri Amerika Serikat tidak semata-mata dijelaskan melalui peran Presiden/Wakil Presiden, Central Intelligence Agency (CIA), Dewan Keamanan Nasional, Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan saja. 
Masih ada top leader dibelakang layar. Kendati kuantitas person-nya terbilang kecil, tetapi mampu memainkan remot organisasi "tanpa bentuk" dari kejauhan. Diantaranya illuminati internasional. Gerakan di bawah tanah penabur semangat zionisme. Ia mendapuk sebagai bidan bagi setiap amoeba konspirasi global. Layaknya ibu, maka bayi-bayi lucieferian conspirations, freemasonry dan sebagainya berasal dari rahimnya. Dan bisa terus melahirkan lagi organisasi-organisasi jahat lainnya. 

di era kontemporer abad 20, derivasi atau rincian dari jaringan siluman ini bisa ditelusur kembali melalui asal muasal dari Skull and Bones, para mahasiswa Universitas Yale yang direkrut untuk bergabung menjadi anggota komunitas rahasia yang jejak kesejarahannya akan berujung di Iluminati dan Freemason. Untuk menjelaskan kaitan jaringan Skull and Bones dengan para pemain kunci di balik politik luar negeri Amerika Serikat, kita bisa menelusur dengan memperhatikan sumbu dari mata-rantai ini, yakni Prescott Bush, yang juga merupakan alumni yang tergabung dalam Skull and Bones.

Ketika di Yale, Prescott Bush menjalin persahabatan akrab dengan beberapa tokoh kunci seperti Samuel Pryor, pemilik Remington Arms Company serta Avril Harriman, putra dari EH Harriman, pemilik dan bos kereta api. Melalui ayahnya, Avril kemudian memperoleh firma investasi bernama Harriman and Company. EH Harriman inilah yang kemudian mengangkat George Herbert Walker, yang belakangan menjadi ayah tiri Prescot,  setelah ayahnya, George Bush Sr, meninggal untuk menjalankan firmanya. 

Inilah mata rantai yang tidak pernah putus hingga dekade-1990-an. Setidaknya, Avril Harriman selalu menjadi tokoh sentral dalam setiap proses pembuatan kebijakan luar negeri AS. Pada perkembangannya kemudian, jaringan siluman yang dirintis oleh Prescot Bush dan Herbert Walker Bush, merupakan derivasi atau rincian di level Manpower yang berada di bawah kendali Dinasti Rockefeller, Rotchild dan JP Morgan. 

Skema kerjasama strategis yang dirancang dua konglomerat Amerika-Inggris Rockefeller dan Rothschild itu bermula sejak berabad lalu dalam kerangka persekutuan strategis di bawah skema White Anglo Saxon Protestant (WASP) yang pada dasarnya merajut persekutuan tradisional antara Amerika Serikat dan Inggris. 

Melalui konglomerasi mereka berdua, praktis mereka mengusai beberapa perusahaan besar bidang Migas seperti Exxon Mobil, Texaco, BP Amoco dan Royal Dutch/Shell. Tak heran jika mereka berdua sangat mempengaruhi dan menyetir haluan politik luar negeri Amerika Serikat untuk menguasai dan mengamankan negara-negara kawasan Teluk, Timur Tengah, Afrika dan Asia, yang memiliki kandungan sumberdaya alam bidang minyak dan gas. 

Salah satu contoh ekstrim betapa besar pengaruh kedua konglomerat ini, terbukti ketika berhasil mendesak Inggris menghadiahkan Yahudi sebuah negara bangsa bernama Israel. Melalui campur tangan pengusaha Inggris Rothschild inilah yang kemudian mendorong pemerintah Inggris mengeluarkan Deklarasi Balfour yang mendukung berdirinya tanah air bagi Yahudi di tanah Palestina. 

Bagi Rothschild, tujuan utamanya bukan mendukung Yahudi, melainkan penguasaannya atas kawasan minyak di Timur Tengah. Menyusul kekalahan Imperium Ottoman Turki, beberapa negara arab kemudian jatuh ke tangan Inggris seperti Irak, Jordan dan Arab Saudi lewat dinasti Ibnu Saud. Begitulah. 

Jejak-jejak jaringan siluman Rockefeller dan Rotschild ini bisa ditelusur melalui keterlibatan dan peran strategis tim sukses dan jaringan George W Bush dalam merancang Project for The New American Century (PNAC) & Its Implication 2002 tersirat, yang di dalam cetak biru politik luar negeri AS tersebut secara jelas tergambar bagaimana kekuatan korporasi global yang dimotori oleh Rockefeller dan Rotchild tersebut berupaya membentuk kekaisaran dunia. 

Besarnya gurita pengaruh kedua konglomerat Amerika tersebut, bahkan dua partai besar Amerika Partai Republik dan Partai Demokrat, praktis berada di dalam genggaman mereka berdua melalui peran sentral David Rockefeller, yang ditugasi khusus mengkader dua Menpower tingkat tinggi yang bertugas sebagai Arsitek Politik Luar Negeri America: Henri Kissinger, Menteri Luar Negeri Era Kepresidenan Richard Nixon dan Gerald Ford, dan Zbigniew Brzezinski yang sampai hari ini masih berperan dan berada di belakang semua proses pembuatan kebijakan politik luar negeri Presiden Barrack Obama. 

Dan kedua partai tersebut sejatinya menjalankan misi yang sama yaitu menciptakan hegemoni global Amerika untuk mendirikan : satu pemerintahan global dibawah kendali AS (One World Government) - satu nilai tukar global yaitu US dollar - dan satu ajaran (agama) tunggal yakni sekuler universal.

Tak bisa dipungkiri. Produk unggulan yang dijajakan ialah kapitalisme dengan berbagai format dan model. Melalui reformasi, demokratisasi, HAM, transparansi, sekulerisasi dan berapa “sasi-sasi” lagi bakal lahir dari perut sang kapitalis. Ia menyemai nilai-nlai "keamerikaan" (Barat) via budaya, seni, gaya hidup, iklim politik dan sebagainya melalui media-media serta berbagai cara. 

Kekayaannya hasil jarahan. Terutama rampasan Perang Dunia ll (kedua). Maka AS seringkali dijuluki "negara perampok". Sedangkan kekayaan lainnya bersumber dari berbagai bisnis properti (hotel, hyper/super market dsb), usaha jenis makanan dan minuman khas Amerika, tambang emas, minyak dan gas bumi di negeri boneka dan jajahan baik di Asia termasuk di Timur Tengah dan di Afrika. 

Tak kalah penting ialah money loundry yaitu penggandaan seri-seri dollar yang ditebarkan pada berbagai belahan bumi dengan kualitas "bodong". Asli tetapi palsu. Ia memiliki aset materi dan non materi. Aset non materi seperti pola pemikiran yang mendewakan logika. Westernisasi merasuk pada life style komunitas negara lain di berbagai dimensi berlabel "American Minded". 

Adapun aset materi berupa antek-antek atau agennya yang direkrut dari beragam warna kulit, etnis dan golongan. Penetrasinya lewat jalur seni budaya, sejarah, sosial politik, pendidikan, ekonomi bahkan agama, termasuk fungsi-fungsi pemerintahan di suatu negara. Sejatinya antek itu "anjing"-nya Amerika. Budak kapitalis. Pelacur politik level transnasional. 

Pabrik senjata dan teknologi perang adalah mesin andalan penambah pundi-pundinya. Maka berbagai cara ditempuh guna membuat konflik terjadi dimana-mana. Agar teknologi dan mesin perang dagangannya laris terjual habis. 

Mesin pundi-pundi berikutnya adalah jaringan berbagai media cetak, elektronik, atau industri layar lebar dikuasai. Disamping sebagai alat promosi teknologi perang, juga sarana membuat stigma "keheroikan Amerika". Makanya film-film sekelas Rocky, Rambo dan seterusnya dibuat berseri guna membakar jiwa warganya yang merasa sebagai bangsa champions di muka bumi, tetapi sekaligus menutupi kegagalan invasi militernya di beberapa negara. 

Yang menarik hingga kini, masyarakat global tidak banyak yang tahu tentang kehancuran militernya di Iraq dan Afghanistan. Dunia kurang paham (atau para pakar ekonomi tidak jujur) bahwa krisis ekonomi AS yang mengakibatkan krisis global dimana-mana, sesungguhnya berakar-masalah dari besarnya budget perang yang belum kembali, hasil "sumbangan" para usahawan pemilik saham akibat konsekuensi politik proteksi yang dimainkan. Inginnya untung justru buntung. Dalam konteks ini, harus diakui AS adalah pakarnya memutar-balikan fakta. Raja edit sekaligus counter berita. Ingat kasus WikiLeaks yang ternyata dibelakangnya adalah New York Times.

AS membentuk "kelompok ahli". Jago lobi-lobi dan punya daya tawar tinggi terhadap lingkungan global. Contohnya American-Isarel Public Affair Committee (AIPAC), American-Jewish Committee (AJC), kelompok Neo-Kons/kaum Hawkish, dan Privat Military Company (PMC) terutama PMC Halliburton, Vinnel Company, DynCorp serta Blackwater Security yang berperan significant saat Bush Jr berkuasa. Suburnya PMC bermula dari rasionalisasi separuh personel militer, oleh karena usai perang dingin AS menganggap tidak ada lagi musuh yang nyata. Para ex serdadu ditampung oleh PMC-PMC dengan cover kontraktor militer, tetapi sesungguhnya mereka ialah para tentara bayaran. 

Tentang sikap Amerika terhadap China, Amerika paham bahwa China bukan negara besar secara global dan China tidak berusaha mendongkel Amerika dari posisinya sebagai negara adidaya di dunia.  Meski demikian, akan tetapi China merupakan negara besar secara regional, yaitu di kawasan Asia/Pasifik yang dianggap oleh China sebagai kawasannya dan menjadi kawasan yang penting bagi China secara ekonomi dan strategis.  China berusaha menjadi pemilik kedaulatan di laut China Timur. 

Jika China berhasil dalam hal itu, maka akan membuat Jepang dan Korea Selatan berada di bawah belas kasihannya atau di bawah kontrolnya, disamping Korea Utara yang di situ China memiliki pengaruh terhadapnya.  China juga berusaha menjadi pemilik kedaulatan atas laut China Selatan.  Hal itu akan bisa membuat Philipina, Vietnam, Kambodia, Laos, Brunei, Malaysia, Singapura dan Indonesia berada di bawah pengaruhnya atau kontrolnya dan berikutnya China akan bisa mengontrol selat Malaka yang dinilai sebagai urat nadi kehidupan bagi China.  

Jika China mengontrol kawasan ini atau menancapkan pengaruhnya atau menjadikan kawasan ini berada di bawah kontrolnya maka China bisa mempengaruhi kawasan samudera Hindia dan mengancam pengaruh Amerika di kawasan tersebut secara serius.  Ini merupakan masalah vital bagi Amerika.  Amerika tidak akan mentolerir hal itu terjadi selamanya berapapun biaya yang harus dibayarkan.

Sekali lagi, poin yang diperhitungkan oleh Amerika sebagai sesuatu yang bisa merobohkan hegemoni Amerika adalah munculnya kekuatan Islam di berbagai kawasan muslim yaitu daulah al-Khilafah termasuk memperhitungkan kekuatan China yang eksis. [VM]

Posting Komentar untuk "Tentang Satu Negara di Bawah Kontrol Jahat"

close