Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ISTIGHFAR yang PRODUKTIF


Oleh : H. Luthfi H

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِب

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barang siapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah pasti akan selalu memberikannya jalan keluar dari setiap kesempitan dan kelapangan dari segala kegundahan serta Allah akan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka-sangka." (HR. Abu Daud)

Namun barangkali ada yang bertanya, saya sudah selalu istighfar, ratusan atau bahkan ribuan saya tiap hari istighfar, namun kesempitan dan kegundahan masih menyelimuti. Bahkan alih-alih mendapatkan rezeki dan arah yang tidak disangka-sangka, yang ada utang datang dari segala penjuru. 

Ini adalah pertanyaan kurang cerdas, yang muncul dari kedangkalan ilmu. Pertanyaan yang sama juga tidak jarang dilontarkan atas kondisi shalat. Bahwa dalam Hadits disebutkan "Sesungguhnya shalat itu akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar". Namun kenyataannya STMJ, shalat terus maksiat jalan. 

Secara bahasa, dalam hadits "man lazima Al istighfar", bahwa "Al istighfar" di sana adalah kalimat (kata) yang definitif, atau ma'rifat, tertentu. Yakni harus didefinisikan dahulu kataistighfar yang dimaksudkan oleh hadits. Kalimat definitif itu mengindikasikan bahwa memang tidak semua istighfar produktif dan mendatangkan banyak buah yang disebutkan dalam hadits tersebut. Sebagaimana pula tidak asal atau sembarangan shalat yang akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jadi jangan salahkan shalat, dan jangan salahkan istighfar jika ternyata belum produktif, namun kita harus koreksi, istighfar dan shalat seperti apa yang dinginkan oleh Hadits Rasul tersebut. 

Para ulama menjelaskan bahwa istighfar yang produktif adalah istighfar yang diawali dengan tobat. Tobat pun adalah tobat yang benar-benar. Taubatan nasuha.

Para ulama juga menjelaskan bahwa rukun tobat itu ada 3, yakni; menyesal, berhenti melakukan kemaksiatan, dan berniat kuat untuk tidak mengulanginya. Sehingga setelah seseorang melakukan tobat --dalam-- hatinya, mulutnya pun akan selalu mengucap istighfar sebagai ekspresi hati yang ingin kembali kepada Allah. Apa yang dilakukan nya adalah merupakan ekspresi atas panggilan Allah dalam Firman-nya; 

(وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ)

"Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). (Q.S. Az-Zumar 54)

Jika tidak didahului dengan tobat, misal tidak berhenti melakukan maksiat, lantas mulut mengucapkan istighfar, ini yang dinamakan istighfar kadzadzab. Istighfar nya orang pembohong. Alih-alih Allah memberikan ragam kemuliaan, justru Allah murka pada manusia yang suka berbohong. 

Sebaliknya sungguh Allah akan cinta bagi hambanya yang bertobat. Dalam hadits disebutkan "At taaib Habibullah", orang yang bertobat adalah kekasih Allah. Sehingga sangat wajar, jika dia sudah dicintai Allah, sudah menjadi kekasih-Nya, kemudian dia melantunkan istighfar, Allah akan senang. Allah bukan saja mengampuni dosa-dosa sang hamba, namun juga memberikan berbagai bonus keutamaan, yakni; memberikan jalan keluar atas segala kesulitan, melapangkan dada yang gundah gulana, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. 

Ingatlah, Allah tidak pernah luput atas janji-Nya. Semoga Allah menjadikan kita kekasih-Nya. Akan diampuni dosa-dosa, dan diberi berbagai keutamaan. Allahumma Amiin.[VM]

Posting Komentar untuk "ISTIGHFAR yang PRODUKTIF "

close