Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Selamatkan Generasi dari Racun Globalisasi


Oleh: Aziz Rohman 

Memasuki era globalisasi seperti sekarang memang membuat kita semakin bisa mengetahui apa saja yang ada di sudut dunia sana. Dunia yang sejatinya sangat luas di era globalisasi saat ini bisa di buatnya semakin menyempit, apalagi di era digital seperti saat ini dimana batas teritorial bukanlah sekat yang menjadi hambatan agar kita mengatahui dunia luar. Era digital, era sosmed, sebuah jaman yang dengan mudahnya kita bisa mengakses informasi dari dunia luar dengan, cepat tanpa ada yang bisa menghalangi kita untuk menyerap apapun dari luar.  Namun, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah seberapa besar dan seberapa jauh era ini mengubah dasar pemikiran dan pemahaman masyarakat kita? Menjadikan generasi kita menjadi manusia yang semakin modern, maju atau malah bahkan merusak tatanan kehidupan kita dalam bermasyarakat. 

Globalisasi Dan Dampaknya

Menurut  Wikipedia, yang dinamakan globalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan yang lainnya. Kemajuan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan telegraf dan internet merupakan faktor utama dalam globalisasi yang semakin mendorong saling ketergantungan (interdependesi) aktivitas ekonomi dan budaya.

Dulu, saat orang-orang barat melakukan perjalanan ke dunia timur mereka juga berinteraksi dengan orang-orang timur dan bagaimana sikap dan perilaku mereka terkadang juga mempengaruhi sikap dan perilaku orang-orang timur. Mulai dari cara berpakaian, berbicara, bersikap, berbudaya bahkan cara pandang mereka tentang kehidupan mempengaruhi kita. Hal ini bisa kita lihat dengan banyaknya anak-anak kita waktu itu yang mulai memakai jas, sepatu, bersekolah dan lain seterusnya.

Akan tetapi di era digital seperti sekarang apalagi dengan diiringi dengan hegemoni dunia barat terhadap dunia timur maka hal ini membuat kita sebagai orang timur terkaget dan terbelalak sehingga membuat kita untuk berlomba-lomba mengamati, memperhatikan lantas meniru apa saja yang dilakukan oleh orang-orang barat. Memang benar jika dilihat sekilas dengan adanya globalisasi kita bisa meniti jalan maju ke depan, ke arah yang lebih baik namun jika diperhatikan lebih seksama lagi maka, apa yang diinginkan nyatanya  jauh panggang dari pada api. Dan inilah bahayanya, karena kita berpikiran bahwa masyarakat barat adalah masyarakat yang maju dan modern  sedangkan kita adalah masyarakat agak terbelakang sehingga mempengaruhi kita untuk berpikir, berpindak dan berperilaku sebagaimana yang dilakukan orang-orang barat. Dan parahnya tidak ada filter yang mampu melindungi kita dengan maksimal sehingga apa saja yang dilakukan oleh orang-orang barat kita tiru begitu saja. Dan yang lebih parah lagi ini dilakukan dan di tiru oleh para generasi muda kita. Dahulu, para pemuda Indonesia bisa dikatakan memiliki moral yang pantas untuk di acungi jempol. Dilihat dari tata karma, sopan santun dan tutur bahasanya yang baik namun sekarang moral dan perilaku para generasi muda kita sungguh sangat memperihatinkan. Banyak perilaku-perilaku menyimpang yang dilakukan oleh generasi kita akibat menjiplak begitu saja perilaku orang-orang barat. Penyimpangan yang dilakukan sudah bisa kita lihat dan ketahui bersama berapa banyak generasi kita yang saat ini dengan mudahnya terjerumus ke dalam lubang hitam free sex, narkoba, virus LGBT, dan lain sebagainya. Tentu kejadian ini sangat memperihatinkan bagi Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia.

Antara Pemahaman Dan Perilaku

Pada dasarnya manusia itu bertindak dan berperilaku berdasarkan pemahaman yang dia miliki, apabila pemahaman yang dimilikinya itu benar tentu ia akan mampu melakukan perilaku/perbuatan yang benar pula. Dan sebaliknya jika pemahamannya salah maka ia pun akan berperilaku yg salah Sebagai contoh:  ketika seorang anak usia enam bulan di sodori sebuah smartpone kira-kira apa yang ia lakukan terhadap benda itu? Apakah ia akan langsung menggunakannya untuk menelepon seseorang ataukah ia akan mengirimkan sebuah pesan atau bahkan melakukan selfie? Tentu sudah pasti hal itu tidak akan mungkin ia lakukan sebab dia belum tahu, belum paham dan belum mengerti apa benda tersebut dan apa fungsi dari benda tersebut. Yang ia lakukanpun juga terbatas sebagaimana yang dia pahami. Ia akan menjilatinya, memukul-mukulkannya atau bahkan membanting-bantingnya sebagaimana yang ia lakukan terhadap benda-benda yang lain. Dia menganggap smartpone tersebut tak lebih seperti sebuah mainan biasa meski itu smartpone harganya mahal dan baginya benda tersebut tak lebih dari sekedar sebuah mainan saja. Lain cerita jika sebuah smartpone diberikan kepada anak SMA maka, sudah pasti ia akan mampu dengan mudah mengetahui benda apa itu, fungsinya untuk apa dan bagaimana mengoperasikannya, sebab ia sudah memiliki maklumat yang cukup banyak tentang benda tersebut.

Sehingga jelas saat kita mengetahui perbandingan antara generasi kita yang terdahulu dengan sekarang maka akan di temukan perbedaan yang cukup mencolok, kemerosotan moral. Sebagai salah satu bukti di antaranya adalah banyak perilaku pemuda kita yang saat ini  kurang bisa menghormati orang yang lebih tua, banyak kita jumpai murid kurang memiliki rasa hormat kepada gurunya.  Masih hangat diingatan kita kasus yang dialami Pak Guru Dasrul, salah seorang guru di SMK 2 Makasar. Dimana saat proses belajar mengajar, beliau menegur salah seorang anak didiknya karena tidak mengerjakan tugas malah sang siswa tidak terima di tegur lalu keluar kelas sambil menendang pintu dan berkata kotor kepada gurunya. Dimana, dalam kasus ini berujung pada pemukulan terhadap pak dasrul hingga beliau mengalami robek di bagian hidung dan pelipis sebelah kiri.  (Kabarmakasar.com, 10 Agustus 2016). 

Sebelumnya, kejadian kurang mengenakkan juga di alami salah seorang guru di sidoarjo, Pak Sambudi salah seorang guru di SMP Raden Rahmat Balongbendo, Sidoarjo yang terpaksa berurusan dengan kepolisian hanya karena menghukum muridnya dengan cara mencubitnya karena mangkir kegiatan ibadah sholat dhuhah (Surabaya.Tribunnews.com, 29 Juni 2009).

Jika, melihat dari kejadian tersebut tentu hati kita menjadi sangat miris, dimana para pemuda yang seharusnya menjadi generasi penerus malah melakukan perbuatan yang demikian dan parahnya lagi para orang tua mereka seolah membenarkan tindakan yang telah anak mereka lakukan. Dan Hal ini menunjukkan bahwa paham-baham barat semacam Hak asasi, HAM, Kebebasan, dan lain-lain yang selama ini dipromosikan oleh barat ditelan mentah-mentah begitu saja oleh masyarakat kita. Belum lagi dengan paham emansipasi wanita yang di agung-agungkan oleh barat sehingga membuat para muslimah kita rela meninggalkan profesi mulia sebagai ummu wa rabbatul bait demi mengejar profesi sebagai wanita karir dan bisa di tebak hasilnya yang terjadi adalah anak-anak mereka menjadi kurang dalam kasih sayang terlebih dalam hal pemahaman agama sebab kedua orang tuanya sibuk bekerja. Sehingga akibatnya yang terjadi adalah membuat anak belajar dari yang lain. Di mana yang lain ini salah satunya dari dunia luar tanpa adanya filter yang memadai dari orang tuanya, semuanya diterima begitu saja. Sampai-sampai Mendikbud Muhadjir Effendy dalam sebuah kesempatan kunjungan kerjanya di lampung, tanggal 19 Nopember 2016 yang lalu mengatakan, “Saya melihat ada gejala memudarnya marwah dan wibawa guru, memudarnya rasa hormat kepada guru dari pihak murid. Hal ini tidak boleh berlangsung terus tanpa ada upaya untuk mengembalikannya. Gejala tersebut hanya semakin meneguhkan keyakinan saya bahwa pendidikan karakter harus betul-betul dijadikan landasan pendidikan kita terutama pada pendidikan dasar”.(merdeka.com, 20/11/2016).

Penting, bagi kita untuk segera memperbaiki kembali ghirah perbaikan umat ini. Tidak cukup bagi kita hanya mengandalkan sekolah saja untuk membentengi gempuran serangan budaya asing yang membabi-buta menyerang kita. Sampai-sampai dalam seluruh apa yang ada dimasyarakat nampak dengan jelas fenomena tak mampu membedakan mana seorang muslim dan mana orang non muslim sebab semuanya bersikap, berperilaku, berpakaian bahkan berpikir dan bertindakpun sama dengan apa yang dilakukan orang-orang barat. Perbaikan ahlak memang penting, pendidikan karakter memang penting namun itu hanya sebatas bagi solusi jangka pendek untuk individu saja. Dan jika kita ingin merevolusi  generasi kita menjadi generasi yang bangga dengan identitas keislamannya maka tidak ada cara lain kecuali kita harus menumbuhkan dan memunculkan generasi yang islami dan di sokong pula oleh masyarakat yang berkepribadian islam.

Perbaikan Masyarakat

Dalam realitasnya masyarakat adalah sekumpulan manusia yang tumbuh serta berinteraksi secara terus-menerus. Kumpulan dari individu-individu manusia lantas membentuk kelompok-kelompok manusia. Dari kelompok-kelompok manusia ini berinteraksi secara terus-menerus maka terbentuklah masyarakat itu. Jika tidak ada interaksi maka yang ada hanya sekumpulan manusia saja, bukan masyarakat.

Ketika masyarakat terbentuk maka bisa kita perhatikan bahwa masyarakat itu terdiri dari empat komponen yaitu; manusia, pemikiran, perasaan dan peraturan. Dan rusaknya nilai-nilai moral yang berujung pada kehancuran dari masyarakat itu sendiri sebenarnya disebabkan oleh rusaknya pemikiran, perasaan dan peraturan. Bukan dari rusaknya akhlak mereka sebab ahlak itu sendiri sebenarnya adalah hasil dari pemikiran dan perasaan yang dimiliki oleh seseorang yang diwujudkan dalam sebuah aktivitas perbuatan atau dengan kata lain akhlak adalah buah dari sikap yang dihasilkan dari perilaku masyarakat. Atau bisa dikatakan pula akhlak adalah buah hasil dari perbuatan kita, dimana dikatakan berahlakul karimah maka seseorang tersebut telah berperilaku taqwa.

Maka, ketika terjadi kemerosotan moral dan perilaku ditengah-tengah masyarakat akibat arus globalisasi yang cukup deras dewasa ini maka, bisa kita simpulkan hal ini terjadi karena rusaknya pemikiran dan perasaan masyarakat. Karena masyarakat pemikiran dan perasaannya rusak sehingga ketika dia terpesona dengan kemajuan orang-orang barat dan ingin maju sebagaimana mereka maka, masyarakat cenderung meniru apa saja yang dilakukan oleh barat tanpa adanya filterisasi terlebih dahulu dan parahnya juga, peraturan yang diterapkan ditengah-tengah masyarakat tidak mampu menjaga pemikiran masyarakat agar tidak terpengaruh oleh pemahaman rusak dari barat.
Menjaga Generasi

Penting bagi umat islam untuk bisa menjaga generasi mudanya agar tidak terpengaruh oleh budaya-budaya dan pemahaman rusak kaum kafir. Sebab ketika umat islam tidak mampu menjaga generasi mudanya maka bisa di pastikan umat akan menuju ke arah kehancuran, menuju kearah dimana para orang tua tidak bisa lagi menikmati kiriman pahala yang tiada terputus dari jalur anak sholeh/sholehah sebab pemikiran dan pemahaman mereka telah rusak, mereka lebih menyukai kesenangan hidup di dunia dari pada mengejar akherat.

Makanya perlu dilakukan sebuah tindakan prefentif sejak dini. Adalah kewajiban bagi setiap orang tua agar selalu menjaga keimanan dan ketaqwaan para anaknya dan juga menjadi kewajiban bagi penguasa untuk menjaga rakyatnya agar selalu dalam kondisi bertaqwa. Harus diwujudkan sebuah tindakan dimana para generasi muda islam memiliki pemikiran yang islami yang ditunjang dengan pola sikap yang islami sehingga mampu menghasilkan kepribadian yang islami dan pada saat yang sama diterapkan sebuah aturan yang mampu menjaga kepribadian ini sehingga tidak mudah goyah oleh setiap godaan arus globalisasi.

Maka, dalam hal ini diperlukan kerja keras dari seluruh komponen umat islam untuk memperbaiki pemikiran, perasaan dan peraturan yang ada agar bisa membuat generasi muda kita semakin bertaqwa dan bangga dengan keislamannya atau dengan kata lain, wajib hukumnya bagi kita untuk menerapkan syariah islam secara kaffah, secara menyeluruh agar pemikiran dan pemahaman generasi kita tidak mudah dikotori oleh pemikiran-pemikiran rusak dari barat. Dan disinilah urgensinya adanya sebuah institusi negara, yang mana negara itu harus mampu menjaga melindungi keimanan dan ketaqwaan rakyatnya bukan malah sebaliknya  menghantarkan rakyatnya menuju ke jalan yang salah. Wallahu’alam. [VM]

Posting Komentar untuk "Selamatkan Generasi dari Racun Globalisasi "

close