Masyarakat Bukan Untuk Diadu Domba


Oleh : Suhari 

Negeri ini memang kaya dan luar biasa, kaya istilah minim maslahat, kaya masalah minim solusi, kaya SDA minim cara kelola, kaya hutang minim harta bahkan (maaf) kaya setan mulai dari pocong, memedi, tuyul, jailangkung, banaspati, genderuwo, wewegombel dsb namun minim upaya perlawanan. Masalah baru negeri ini datang  dan dimulai dari Bandung Jabar, kota yang terkenal dengan Bandung lautan apinya dan pada tahun 2001 pernah heboh dengan adanya istilah “Bandung lautan asmara” akibat ulah oknum mahasiswa. Ketenangan dan kedamaian  Bandung terusik setelah terjadi kericuhan antara dua massa yang mengawal pemeriksaan imam besar FPI Habib Rizieq Sihab di Mapolda Jabar. Kericuhan terjadi karena salah satu mobil yang membawa rombangan FPI diserang. “Dilempar pakai batu kaca mobil, dipukul pakai balok. Lagi arah pulang, langsung tiba-tiba diserang, kata Mulyawan, anggota FPI yang menjadi korban pelemparan batu.(Republika.co.id., 12/1/2017)

Imbas dari kericuhan tersebut, dikabarkan ada aksi perusakan dan pembakaran markas GMBI di Bogor,Tasikmalaya dan Ciamis Jabar. Humas Polda Jabar Kombes Yusri Yunus menyatakan,"Kasus perusakan ini akan kita proses, tidak bisa ditolerir”. (Liputan 6.com, 13/1/2017). Begitu mudah masyarakat emosi, marah, terprovokasi, saling mengintimidasi dan berbuat kerusakan lainya dalam menyelesaikan masalah tanpa peran maksimal pemerintah yang ada. Benarkah itu watak masyarakat negeri berpenduduk mayoritas muslim ini?, atau apa sebenarnya yang sedang terjadi?.

Masyarakat Butuh Sistem yang Benar

Masyarakat terbentuk dari individu-individu dengan berbagai karakter yang memiliki hubungan secara terus menerus. Hubungan tersebut muncul karena adanya kemaslahatan yang hendak dituju bersama. Dalam menentukan kemaslahatan tersebut diperlukan peraturan/sistem yang disepakati semua pihak dan negara sebagai pelaksananya. Saat ini peraturan yang sedang dipakai adalah  sistem demokrasi liberalisme yang menjunjung tinggi kebebasan individu dan kelompok, Setiap orang diperbolehkan melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya. Dalam sistem ini manusia merasa tidak wajib memegang peraturan-peraturan agama,bahkan jika ada peraturan agama bertabrakan dengan keinginan manusia maka agama harus ditafsir ulang, akal manusia diatas titah pencipta. Dunia telah membuktikan bahwa sistem tersebut telah gagal dalam memanusiakan manusia justeru yang terjadi kerusakan demi kerusakan yang didapati. Aneh tapi nyata manusia ciptaan pencipta diatur dengan sistem  buatan manusia sendiri yang penuh keterbatasan, ini namanya jeruk makan jeruk.

Bukti kerusakan sistem demokrasi buatan manusia bisa nampak dari sisi landasan hukum, materi dan sanksi hukum, sistem peradilan dan perilaku aparat. Landasan hukum sekarang adalah sekuler yang dipengaruhi barat, KUHP yang mulai berlaku 1 januari 1918 adalah copy dari KUHP Eropa 1867 yang sumber utamanya dari hukum Perancis zaman Napoleon (1811). Dengan peraturan zaman kuno meski sana sini ada penyesuaian kita yang modern ini mau diaturnya, bandingkan dengan kitab suci Al Qur’an yang mulai diturunkan sampai saat ini tidak ada revisi lagi. Dari sisi materi dan sanksi penyebab kerusakannya adalah karena tidak lengkap dan tidak menimbulkan efek jera, hukuman pembunuh yang sengaja membunuh hanya penjara maksimal 15 th (pasal 338 KUHP), ini tidak membuat pelakunya kapok. Berbeda dengan islam dengan kasus sama maka harus dibunuh ,jika keluarga memaafkan maka wajib bayar denda sebesar 100 ekor unta dengan kreteria tertentu. Sistem peradilan yang berjenjang,pembuktian yang lemah dan tidak meyakinkan serta tidak adanya persamaan didepan hukum, hukum tajam kebawah  tumpul keatas,hukum tebang pilih dan seterusnya melengkapi kerusakan hukum peninggalan penjajah tersebut. Adapun penyebab kerusakan serius terakhir adalah bobroknya mental aparat penegak hukum, mulai dari polisi, panitera, jaksa hingga hakim. Sudah banyak bukti dimasyarakat yang menunjukkanya meski dan sudah pasti tertuduhnya adalah oknum.

Baik tidaknya masyarakat tergantung sistem yang sedang diterapkan. Kondisi masyarakat kita saat ini yang sangat memprihatinkan adalah buah dari penerapan sistem demokrasi liberalisme tersebut. Sistem ini dipaksakan penjajah barat diterapkan  sebagai alat untuk menjajah. Hidup dalam sistem yang rusak dan kondisi masyarakat yang majemuk dengan karakter yang berbeda serta banyaknya kepentingan meniscayakan munculnya orang-orang yang baik kulit tapi jahat isi, oportunis, musang berbulu domba dan atau sebutan lainya. Tidak perlu tunjuk hidung siapa yang baik siapa yang jahat,siapa yang domba siapa yang musang ataupun serigala siapa. Mungkin kita semua pernah menyandang predikat tersebut, hanya ada yang segera sadar dan tobat, ada yang masih enjoy demi kepentingan bahkan ada juga yang antri dan berusaha mati matian meraih predikat tadi.  

Disadari atau tidak kondisi ini terjadi bukan kebetulan,namun ada kekuatan besar yang sedang bermain. Mereka siang malam mendesain dan memainkannya baik langsung maupun lewat bonekanya. Adu domba,devide et impera,politik belah bambu dan sejenisnya  adalah satu diantara cara yang mereka mainkan. Kekuatan besar tesebut adalah kapitalisme demokrasi neoliberalisme barat dan komunisme gaya baru  yang datangnya dari timur. Jadi, sadar dan bangkitlah wahai masyarakat negeriku yang tercinta, jangan mau diadu domba dan dijajah sebab kita bukan domba juga bukan sapi perah. Kita adalah manusia terhormat yang bersaudara dan ummat yang satu. Ingatlah peringatan keras Nabi saw, ”Barang siapa yang berperang dibawah panji kesesatan,dendam karena golongan,mengajak kepada golongan, menolong karena golongan kemudian terbunuh maka matinya adalah mati jahiliyah” HR.Muslim.  Dan bagi mereka yang suka mengadu domba baik individu,kelompok maupun negara sekalipun , ingatlah ancaman berat ini, "Tidak akan masuk surga bagi al qottat (tukang adu domba)”, HR.Bukhori. Surga adalah tujuan utama bagi manusia yang sehat, adakah kenikmatan yang dibandingkan surga?.

Hidup Sejahtera Mati Mudah Masuk Surga

Kapitalisme dengan ajaran utama demokrasi liberalisme dan komunisme anti tuhan dengan ciri pertentangan antar kelas adalah kolonialisme/penjajah yang sebenarnya. Merekalah penyebab rusak dan hancurnya tatanan masyarakat negeri ini. Mereka siang malam tak kenal lelah melakukan makar agar masyarakat ini tidak bersatu. Mereka paham benar jika kita bersatu niscaya mereka tidak berdaya untuk menguasai kita dan itu artinya kiamat bagi mereka, Selama ini mereka bisa  makmur dan jumawa karena hasil merampok dan menjajah negeri-negeri muslim termasuk negeri tercinta ini. Oleh karena itu sudah saatnya masyarakat ini bangun dari tidur panjangnya, sadar dan bangkit. Sadar bahwa selama ini kita dijajah dan bangkit dengan menerapkan sistem yang yang datang dari dzat pencipta, Allah swt dengan hukum-hukum syariahnya yang adil dan mensejahterakan dalam bingkai Khilafah Islamiyyah mengikuti metode kenabian. Kapitalisme dan komunisme hanya bisa ditandingi dan ditundukkan  dengan sistem islam,yakni Khilafah ar Rosyidah yang pernah berjaya belasan abad. Tanpa khilafah ar Rosyidah hidup sejahtera bahagia dan mati tenang masuk surga hanyalah fatamorgana saja. Wallahu a’lam bish showab. [VM]

Belum ada Komentar untuk "Masyarakat Bukan Untuk Diadu Domba"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel