Saat Rakyat Tak Lagi Buta Politik, Selangkah Lagi Menuju Bangkit!
Oleh: Yulida Hasanah (Aktivis Muslimah Brebes)
Masalah politik akhir-akhir ini sudah menjadi masalah yang mulai menjadi perhatian banyak kalangan. Mulai dari kaum intelektual, mahasiswa, karyawan, pedagang hingga generasi muda, semuanya mulai ‘aware’ terhadap politik. Secara fakta, masalah politik ini memang sangat erat kaitannya dengan kehidupan mereka, mulai dari kebijakan kenaikan UKT, sulitnya lapangan kerja hingga kenaikan pangan atau bahan pokok.
Maka, pembicaraan soal politik, hari ini tak terbatas hanya di televisi, media sosial yang menjadi tempat baru di era digitalisasi saat ini ternyata menjadi saluran paling cepat untuk bisa diakses. Bahkan pembahasan isu politik semakin ramai dibicarakan dan menjelma menjadi topik paling viral belakangan ini setelah viralnya tayangan ‘stand-up comedy’ di Netflix sejak 27 Desember 2025 lalu. Pertunjukan penuh satire politik bertajuk ‘Mens Rea’ di mana Pandji Pragiwaksono sebagai komika lokal pertama yang menayangkan pertunjukan tersebut telah sukses mengangkat isu politik hingga menggelitik banyak penonton bahkan jadi perhatian di ranah hukum. (can.id/12/01/2026)
Komika lokal ini bukan sekadar ‘content creator’ biasa, melainkan sosok penuh pengaruh yang mampu membentuk opini, memicu diskusi, dan makin membuat generasi muda yang awalnya tidak mau tahu urusan politik, akhirnya butuh peduli. Dan bahkan mampu membuat pemerintahan dengan berbagai kebijakan zalimnya juga menganggap pertunjukan humor ini harus diseriusi alias dianggap ancaman baru mereka. Bagaimana tidak? Dengan gaya penyampaian yang santai, bahasa yang relatable, dan konten yang dikemas dengan homur mengandung satire tersebut telah mampu menarik atensi jutaan audiens. Alhasil, isu-isu politik yang terasa berat dan sulit, kini bisa dipahami dengan lebih ringan, dekat dan menyenangkan.
Bukan Sekadar Melek Politik, Tapi Juga Sadar Politik!
Sebagai mayoritas rakyat di negeri ini, umat Islam haruslah menjadi yang terdepan dalam ‘melek politik’. Sebab, realitas politik yang terlihat di depan mata tidaklah mutlak merupakan wajah asli dari politik itu sendiri. Ia bisa jadi ‘kamuflase’ dari berbagai kepentingan yang tersembunyi di belakangnya. Missal, di bailk gaya ‘gemoy’ atau ‘garang’ seorang pemimpin, tidak berarti kebijakan politiknya pro rakyat dan sesius ‘garang’ terhadap para koruptor.
Hubungan antara pernyataan politik di ruang-ruang publik dengan kenyataan kebijakan public yang lahir dari kursi dan meja pejabat, sering bertolak belakang. Misalnya, saat Presiden berpidato penuh keberanian akan memberantas korupsi hingga ke akarnya, bahkan jika mau, akan mengejar para koruptor hingga ke Antartika. Namun faktanya, korupsi tetap tumbuh subur dan hukumpun tetap tumpul. Atau saat Wapres menyatakan akan menyediakan 19 juta lapangan kerja baru bagi kaum milenial. Faktanya, kebijakan pemerintah sampai hari ini masih membuat para lulusan sarjana ‘morat-marit’ mencari kerja yang layak bagi mereka. Atau saat kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan berbagai program bantuan social, faktanya rakyat dihadapkan dengan berbagai kenaikan pajak yang beragam.
Maka, umat tidak boleh berhenti hanya ‘melek politik’ saja, tapi harus punya kesadaran politik yang akan membangunkan cara berpikirnya agar tidak mudah terkecoh oleh lakon politik yang sering tampil di hadapan publik. Karena sejatinya, rakyat adalah sumber kekuasaan yang posisi begitu penting sebagai objek perburuan bagi siapapun yang menginginkan kursi kekuasaan.
Tidak bisa dipungkiri pula, bahwa eksistensi suatu negara sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran politik rakyatnya. Langgengnya kekuasaan sangat ditentukan oleh loyalitas rakyatnya, baik loyalitas itu lahir dari kesadaran politik ataupun akibat dari manipulasi politik. Maka, jika umat yang mayoritas ini lemah kesadaran politiknya, jelas mereka akan terus menjadi korban manipulasi politik mengikuti kepentingan penguasanya. Namun, jika umat memiliki kesadaran politik, maka mereka akan mampu melihat dari satu cara pandang tertentu, yakni cara pandang politik yang benar, tidak lain adalah Islam.
Jalan Politik Islam: Jalan Satu-satunya Membangun Kesadaran Politik Yang Benar
Nabi Muhammad Saw. mengingatkan, “Seorang mukmin tidak akan masuk ke dalam lubang yang sama dua kali.” (Shahih Muslim, No. 5317)
Sedangkan umat di abad terakhir ini masih saja terperosok dalam kesalahan politik yang berulang-ulang, yakni tetap dalam kubangan politik sekuler demokrasi. Maka, tidak ada jalan lain untuk mengeluarkan diri dari kubangan tersebut kecuali dengan membangun kesadaran politik Islam pada diri mereka.
Dimulai dari mereka harus melek politik, melek realitas dan peristiwa politik, melek konsepsi politik Islam dan melek tentang bagaimana metode perjuangan politik yang bisa mengantarkan Islam pada kekuasaan. Karena umat tidak sekadar berpikir tentang bagaimana umat Islam menduduki kursi kekuasaan, tapi yang ‘darurat’ untuk segera diwujudkan adalah bagaimana Islam menjadi basis dan norma bagi kekuasaan itu sendiri.
Untuk itu, ketika umat sudah melek politik, maka mereka tidak boleh ‘abstain’ untuk ikut menjalankan aktivitas politik umat sesuai dengan tuntunan syariat. Yakni ikut berjuang dalam barisan kelompok dakwah politik Islam kaffah untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam dalam wadah sistem politik Islam. Karena dengan jalan ini, meniscayakan umat mampu bangkit. Wallaahua’lam bishshawaab

Posting Komentar untuk "Saat Rakyat Tak Lagi Buta Politik, Selangkah Lagi Menuju Bangkit!"