Mitokondria dan Arah Energi Kehidupan: Ketika Energi Salah Dialokasikan
![]() |
| Mitokondria (psychologicalscience.org) |
Oleh : Dr. Ilhamuddin (Departemen Biokimia, Psikiatri FK Unhas, HELPS)
Riset mutakhir menunjukkan bahwa mitokondria memiliki kemampuan active intracellular trafficking—bergerak secara terarah mengikuti kebutuhan fungsional sel. Studi Perez dan kolega di penghujung 2025 dalam Biophys J. menunjukkan bahwa pada sel beta pankreas, mitokondria berpindah mendekati membran plasma saat glukosa meningkat, tepat di lokasi eksositosis insulin: “Mitochondrial position responds to glucose stimulation in a model of the pancreatic beta cell”. Tidak ada penambahan jumlah mitokondria; yang terjadi adalah redistribusi energi. Prinsip ini sejatinya telah established dalam neurosains lebih dua dekade lalu: posisi mitokondria di neuron teratur secara presisi, bergerak anterograde dan retrograde di sepanjang akson, dan terakumulasi di lokasi-lokasi strategis.
Dalam psikiatri dan neurobiologi afektif, temuan ini menjadi sangat relevan. Otak adalah organ dengan konsumsi energi tertinggi, dan neuron—khususnya di sinaps—memerlukan pasokan ATP yang stabil untuk menjaga synaptic plasticity, transmisi neurotransmiter, dan integrasi emosi-kognisi. Mitokondria secara fisiologis akan bermigrasi menuju sinaps yang aktif (activity-dependent mitochondrial recruitment), dan menjauh dari area yang kurang terlibat.
Namun, pada kondisi stres psikologis, inflamasi sistemik, disfungsi metabolik, atau kerentanan genetik tertentu, mekanisme ini berpotensi terganggu. Jalur sinyal seperti calcium signaling, microtubule transport, regulasi protein motorik (kinesin–dynein), dan gangguan dinamik lainnya bisa menjadi disfungsional. Akibatnya, mitokondria gagal mencapai lokasi yang paling membutuhkan energi. Secara klinis, ini termanifestasi dalam variasi penyakit neurologis mitokondrial dan neurodegeneratif tertentu, semisal parkinson dan alzheimer. Di samping itu, secara asosiatif, disfungsi mitokondria ditengarai menjadi bagian mekanisme biologis kompleks gangguan mood depresi dan bipolar. Dengan pemahaman konseptual di atas, dapat dikatakan, anergi saat depresi tidaklah bermakna produksi energi tak ada. Yang terjadi adalah energi terserap untuk aktivitas ruminasi pikiran (pikiran berulang, berputar, tanpa solusi) dan automatic negative thoughts hingga defisit untuk membiayai atensi dan aktivitas fisik. Kebalikannya, energi tumpah meluber, terpakai inefektif pada kondisi mania. Masalahnya tidak semata disebabkan oleh “kekurangan energi”, tetapi oleh maldistribution of energy. Energi ada, tetapi tidak hadir di posisi yang tepat.
Pemahaman ini menggeser paradigma psikiatri klasik. Gangguan mental tidak lagi dilihat hanya sebagai imbalance neurotransmiter, melainkan sebagai gangguan integratif antara metabolisme seluler, regulasi stres, sirkuit saraf, dan makna hidup. Inilah sebabnya mengapa intervensi farmakologis saja sering tidak cukup. Tidur, nutrisi, aktivitas fisik, manajemen stres, dan spiritualitas terbukti memengaruhi fungsi mitokondria—baik melalui regulasi inflamasi, keseimbangan redoks, maupun neuroplastisitas. Studi terkini juga menunjukkan bahwa efek psikofarmaka ternyata tidak hanya menyeimbangkan neurotransmitter an sich, ia pada gilirannya ikut memberi pengaruh pada mitokondria.
Pelajaran terpenting dari mitokondria bersifat eksistensial. Di tingkat sel, kehidupan berjalan dengan prinsip keteraturan (order), ketepatan (precision), dan keseimbangan (homeostasis). Mitokondria tidak bekerja serampangan. Ia “datang” ke lokasi yang membutuhkan, “parkir” untuk menunaikan fungsi, lalu berpindah ketika tugas selesai. Tidak ada pemborosan energi. Prinsip ini in line dengan kesehatan jiwa dan spiritual manusia.
Dalam perspektif religiusitas Islam, energi kehidupan (fisik, mental, dan ruhani) seharusnya dialokasikan secara hierarkis: pertama untuk aktivitas wajib, kemudian sunnah, dan barulah aktivitas mubah—yang pun harus dipilah berdasarkan tingkat kebermanfaatan, penting, dan urgensinya. Ketika energi justru habis pada hal-hal mubah yang rendah nilai atau bahkan maksiat terselubung (stimulasi berlebihan, luapan dopamin instan, distraksi tanpa makna), jiwa mengalami kelelahan eksistensial, meski tubuh fisik tampak “baik-baik saja”.
Taqiyuddin An-Nabhani dalam Asy-Syakhsiyah Al-Islamiyah menjelaskan bahwa manusia terdorong untuk memenuhi tiga naluri utama: gharizah al-baqa’ (naluri mempertahankan eksistensi diri), gharizah an-nau’ (naluri mempertahankan kelangsungan keturunan), dan gharizah at-tadayyun (naluri beragama). Ketika energi tersedot secara dominan untuk pemenuhan instink seksual sebagai salah satu manifestasi gharizah an-nau’—baik dalam bentuk perilaku, fantasi, atau stimulasi visual yang terus-menerus—maka energi untuk memenuhi gharizah al-baqa’ (harga diri sehat, tanggung jawab, produktivitas) dan naluri beragama akan berkurang. Secara neuropsikiatris, hal ini paralel dengan dominasi sistem dopaminergik jangka pendek yang melemahkan fungsi prefrontal cortex—pusat kontrol diri, perencanaan, dan makna. Secara spiritual, ini tampak sebagai melemahnya kepekaan ibadah, keringnya doa, dan hilangnya orientasi hidup. Energi ada, tetapi salah arah. Mitokondria jiwa “parkir” di tempat yang tidak seharusnya.
Pun sebaliknya, seseorang yang tenggelam sepenuhnya dalam pemenuhan gharizah at-tadayyun secara tidak proporsional—misalnya dalam bentuk ritualisme ekstrem, asketisme berlebihan, atau pemahaman keliru tentang zuhud—maka naluri lain pun dapat terabaikan. Ia bisa kehilangan ketertarikan terhadap hasrat seksual secara total, bahkan mengabaikan gharizah al-baqa’: kesehatan jasmani, keselamatan diri, dan tanggung jawab finansial. Dalam kondisi ini, agama tidak lagi berfungsi sebagai pemandu kehidupan, melainkan direduksi menjadi pelarian spiritual yang mematikan keseimbangan kemanusiaan. Sejarah mencatat bagaimana sikap rahbaniyyah (gaya hidup ‘membiara’ yang eksklusif) justru dikritik oleh Islam karena menyalahi fitrah penciptaan manusia.
Di sinilah keagungan syariat Islam tampak jelas. Syariat tidak datang untuk mematikan naluri, juga tidak membiarkannya liar, melainkan mengatur kapan naluri dipenuhi, untuk apa ia diarahkan, dan bagaimana cara pemenuhannya. Naluri melestarikan jenis dipenuhi dengan pernikahan, penjagaan pandangan, rasa kasih sayang, dan larangan zina; naluri mempertahankan diri diarahkan melalui kewajiban bekerja, menjaga jiwa, dan mengelola validasi harga diri; sementara naluri beragama disalurkan melalui akidah yang lurus dan amal-ibadah yang terikat hukum. Pelaksanaan pemenuhan naluri disetir oleh mafahim (pemahaman) yang diyakini tepat-benar. Dengan pengaturan ini, tidak satu naluri pun dibiarkan mendominasi secara destruktif atas yang lain.
Maka, problem manusia modern—baik yang tenggelam dalam hedonisme seksual, pemenuhan narsisistic need berlebihan, maupun yang larut dalam spiritualisme—bukanlah keberadaan naluri itu sendiri, melainkan absennya sistem ilahi yang menata keseimbangannya. Syariat Islam hadir sebagai manual fitrah, memastikan seluruh naluri bergerak harmonis menuju tujuan penciptaan manusia: menjadi hamba Allah sekaligus khalifah pengelola kehidupan di bumi.
Kelelahan mental sering kali bukan karena hidup terlalu berat, melainkan karena energi psikis, biologis, dan spiritual tersebar tanpa prioritas. Kekhawatiran, konflik batin, hasrat yang tidak terkelola, dan stimulasi berlebihan menciptakan energetic noise yang melelahkan sistem saraf.
Mitokondria mengajarkan kita satu hikmah mendalam: kehidupan tidak ditentukan oleh kekuatan semata, tetapi oleh ketepatan alokasi energi. Dan di tingkat manusia, ketepatan itu menuntut kesadaran—ilmiah, psikologis, dan spiritual—tentang ke mana hidup diarahkan. Perubahan tidak selalu soal menambah tenaga atau ambisi, melainkan soal mengatur ulang arah energi. Seperti mitokondria yang berpindah ke titik paling dibutuhkan, hidup pun menuntut kita menempatkan fokus, waktu, dan perhatian secara tepat.
Momentum tahun baru 2026 yang bertepatan dengan bulan Rajab (momen Isra’ Mi’raj yang mendemonstrasikan efisiensi energi tingkat tinggi karena tuntas hanya dalam sepertiga malam) seharusnya menjadi ‘pit stop’ spiritual untuk meninjau ulang: ke mana selama ini energi kita habis? Apakah ia lebih banyak tercurah pada dorongan sesaat, distraksi tanpa makna, dan aktivitas mubah yang nir-manfaat, tidak mendesak—hingga melemahkan kekuatan untuk hal-hal yang wajib dan bernilai ibadah? Saatnya menata ulang “mitokondria kehidupan”: memindahkan energi dari yang melelahkan ke yang menenangkan, dari yang reaktif ke yang bermakna, dari yang sekadar menyenangkan ke yang menguatkan iman dan mendamaikan.
Sains modern, pada akhirnya, justru mengantarkan kita kembali pada kebijaksanaan lama: menjaga tubuh sebagai amanah biologis, menenangkan jiwa dengan keteraturan dan makna, serta mengarahkan energi hidup pada tujuan yang benar. Jika sel saja bekerja dengan keteraturan dan tujuan, maka manusia—yang dianugerahi akal dan ruh—lebih pantas lagi hidup dengan kesadaran arah. Di sanalah kesehatan jiwa, ketenangan batin, dan keberkahan hidup saling bertemu: sekali lagi, bukan ketika kita memiliki energi paling besar, tetapi ketika kita menempatkannya di tempat yang benar. Wallahu a’lam. []

Posting Komentar untuk " Mitokondria dan Arah Energi Kehidupan: Ketika Energi Salah Dialokasikan"