Iman, Kepatuhan dan Pembelaan Terhadap Dakwah


Ada tiga ideologi yang berkembang di dunia ini yakni: Islam, Komunisme-Sosialisme, Kapitalisme-Liberalisme. Ketiganya mencerminkan pertarungan antara kebenaran (al-haqq) dan kebatilan (al-bâthil). Ketiganya tegak di atas asas atau akidah yang bertentangan satu sama lain.

Islam tegak di atas asas akidah Islam. Akidah Islam tegak di atas keimanan tentang keberadaan Allah SWT dan keesaan-Nya. Dialah Al-Khâliq Yang Azali. Akidah Islam menuntut pemeluknya untuk mengesakan Allah SWT sebagai satu-satunya Zat Yang wajib disembah dan diibadahi.

Kapitalisme-Liberalisme tegak di atas asas akidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Sekularisme mengakui keberadaan Tuhan (agama), namun menolak peran Tuhan (agama) dalam mengatur kehidupan. Dengan kata lain, agama diakui sebatas sebagai sebuah keyakinan, ritualitas dan moralitas belaka. Pandangan demikian juga berlaku untuk Islam. Dalam arti, oleh kaum sekular, Islam pun diperlakukan sama dengan agama-agama lain; sebatas sebagai sebuah keyakinan, ritualitas dan moralitas belaka; bukan sebagai sebuah ideologi yang memiliki seperangkat aturan kehidupan.

Adapun Komunisme-Sosialisme tegak di atas asas materialisme (atheisme). Dalam praktiknya, Komunisme bukan hanya tidak mengakui keberadaan Tuhan (agama), tetapi bahkan anti Tuhan (anti agama). Dalam pandangan orang-orang komunis, agama adalah “candu” atau “minuman keras” spiritual yang tidak layak mempengaruhi dan memperdaya manusia. Jelas, pandangan materialisme (ateisme) demikian menyalahi fitrah dan akal manusia. Sungguh aneh ateisme (ketidakyakinan pada keberadaan Tuhan) bisa ada dalam benak orang-orang yang berakal. Padahal binatang, tumbuhan dan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi pun hakikatnya “bertuhan”. Semuanya bahkan bertasbih, sujud dan tunduk pada ketentuan Allah SWT, sang Pencipta.Apalagi setiap manusia dikaruniai akal untuk berpikir. Alhasil, mengingkari keberadaan Tuhan (ateisme) yang dipraktikan oleh orang-orang komunis bertentangan dengan fitrah dan akal manusia. Allah SWT menilai sikap ateis sebagai kesesatan  bahkan lebih sesat dari binatang ternak.Mereka mempunyai kalbu (akal), tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah).Ateisme jelas merupakan produk dari sikap manusia yang tidak mau menggunakan akal, mata dan telinga untuk memahami, menyaksikan dan mendengar ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah SWT. Sikap ini sangat buruk. Sikap ini sesat bahkan lebih sesat dari binatang ternak. Karena itulah, sebagaimana buruk dan sesatnya ideologi Kapitalisme-Liberalisme, sebagaimana dipraktikkan saat ini (termasuk di negeri ini), ideologi Komunisme yang dibangun di atas ateisme juga buruk dan menyesatkan. Kedua ideologi ini sama-sama berbahaya bagi kehidupan manusia. Yang satu menolak peran Tuhan (agama) dalam mengatur kehidupan. Satunya lagi menolak keberadaan Tuhan (agama) sama sekali, yang bahkan melahirkan kebencian terhadap agama dan para pemeluknya,  termasuk Islam dan kaum Muslim, yang ingin menjalani hidup dan mengatur kehidupan berdasarkan ketentuan Islam. Pembantaian atas ratusan ribu (bahkan ada yang mengatakan lebih dari satu juta) kaum Muslim pada masa lalu oleh Uni Soviet yang berideologi Komunisme hanyalah sebagian bukti.

Iman Mengharuskan Kepatuhan

Pengakuan akan keberadaan Allah SWT saja tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kepatuhan dan ketundukan pada semua hukum dan ketentuan-Nya. Dengan kata lain, keimanan kepada Allah SWT mengharuskan keterikatan dengan seluruh syariah-Nya, dan sebaliknya, meninggalkan semua aturan selain aturan-Nya. Tegasnya, keimanan mengharuskan  kepatuhan dan keterikatan pada semua yang dibawa oleh Rasul saw. dan menjauhi semua yang beliau larang (QS al-Hasyr [59]: 7).  Keimanan mengharuskan untuk hanya berhukum dengan hukum-hukum Allah SWT dalam menyelesaikan segala persoalan di masyarakat (QS an-Nisa [4]: 65).

Iman Mengharuskan Pembelaan Terhadap Dakwah

Selain mengharuskan ketaatan total kepada Allah SWT dengan selalu terikat dengan syariah-Nya, keimanan pun meniscayakan dakwah, yakni mengajak umat manusia seluruhnya untuk masuk Islam, tanpa paksaan. Allah SWT pun menyifati dakwah (mengajak manusia kepada Allah) sebagai sebaik-baik ucapan.

Dakwah tentu memerlukan dukungan dan pembelaan dari semua yang mengaku mengimani Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebaliknya, orang-orang yang beriman tidak selayaknya menelantarkan dakwah. Mereka wjib berdakwah dan membela dakwah. Tak pantas mereka menghalangi dakwah, apalagi memusuhi dakwah dan para pengembannya. Sikap menghalangi dakwah, yakni menghalangi manusia dari jalan Allah SWT, adalah sifat dan karakter setan.

Dengan demikian, jelas sekali keimanan kepada allah SWT dan Rasul-Nya juga mengharuskan untuk menentang apa saja yang menghalangi dan memberangus dakwah Islam, termasuk di antaranya menentang Perppu no. 2/2017 tentang Ormas. Pasalnya, Perppu itu telah nyata-nyata dijadikan alat kekuasaan untuk memberangus dakwah Islam yang menghendaki penerapan syariah Islam secara kâffah. Perppu ini sekaligus dijadikan alat untuk mengkriminalisasi para pengemban dakwah dan ormas-ormas Islam yang nyata-nyata menghendaki penerapan syariah Islam secara kâffah dalam seluruh apek kehidupan.

Alhasil, orang beriman selayaknya menolak Perppu tersebut. Mereka harus menentang apa saja yang dapat menghalangi dakwah Islam dan menghalangi penerapan syariah Islam secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan. WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [VM]

Penulis : Mustin (Cikarang)
loading...

Belum ada Komentar untuk "Iman, Kepatuhan dan Pembelaan Terhadap Dakwah"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel