FENO - FELIX SIAUW

Ustadz Felix Siauw
Felix Siauw menjadi fenomena tersendiri di zaman now. Nama yang identik dan etnis yang unik. Ditambah lagi sebagai mualaf dan ispirator muslim. Acara yang diisi tak pernah sepi dari kaum neo-urban dan manusia yang haus akan inspirasi islam. Tak cukup itu, beberapa pengajian yang hendak diisi Felix Siauw pun tak lepas dari pembubaran. Alasan ketidaksukaan dipersepsikan sesuai selera orang.

Pengamatan di dunia maya dan nyata, terkait pro-kontra Felix Siauw begitu kentara. Di antara pujian juga ada cacian. Selain inspirasi juga jadi ajang persekusi. Kondisi itu menunjukan bahwa psikologi masyarakat Indonesia sebagai konsumen Felix Siauw masih labil. Bergantung kacamata memandang dan menilai. Inilah wajah manusia Indonesia yang butuh kedewasaan di tengah kegagalan revolusi mental.

Feno-Felix Siauw menarik untuk dikaji agar manusia Indonesia tak gampang mencaci. Tak gampang anarki sebagai anak bangsa. Tak gampang menghina meski berbeda dalam pandangan keagamaan. Jika anak bangsa sudah mendeklarasikan berbhineka, maka tak pantas manusia Indonesia menjadi boneka. Pernyataan menghormati kebhinekaan inilah yang harus terwujud dalam kehidupan.

Pemahaman psikologi masyarakat Indonesia dalam menilai Felix Siauw seperti dijelaskan Schiffman dan Kanuk (1994), bahwa karakteristik psikologis dari segmentasi adalah nilai generalitas yang tersimpan dalam diri individu. Disimpulkan bahwa dalam diri kita dan semua individu memiliki ukuran tersendiri mengenai kualitas sebuah produk tertentu. Ada tiga hal yang menentukan kualitas pemahaman:

1) Pengetahuan yang didapat melalui penelusuran pribadi
2) Pengalaman yang diperoleh secara pribadi
3) Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari orang lain

Masyarakat Indonesia  seharusnya cerdas dalam menilai Felix Siauw. Kalaulah informasi yang didapat berupa ‘berita miring’ maka perlu ditabayunkan. Tak lantas dibully atau dijadikan fitnah gunjingan yang belum tentu kebenarannya. Kondisi saat ini, tatkala masyarakat Indonesia tak memiliki standar baik dan buruk, akan mudah melampiaskan kemarahan. Indonesia saat ini terlihat tidak ramah dan cenderung emosional.

Di tengah persengitan perdebatan terkait Felix Siauw, ada tiga kondisi psikologi manusia:

Pertama, manusia irasional. Jika ada yang membenci Felix Siauw dengan alasan bergabung dengan kelompok radikal, memecah belah bangsa, dan mempersulit kegiatan dakwahnya. Seseorang itu pun tak pernah bertabayun dan berdiskusi dengan Felix. Maka kondisi seseorang tersebut diliputi prasangka buruk sebelum membuktikan sesuatu yang dia benci.

Dalam kondisi semacam ini, perlu meningkatkan taraf berfikir dengan akal sehat. Jangan Cuma berbekal okol dan otot. Kalaulah ternyata otot dan okol yang digunakan, maka menjadi blunder bagi kelompok ini. Karena itu, dahulukan akal sehat sebelum berokol.

Kedua, manusia rasional non permanen. Kondisi semacam ini dapat diamati dari komentar terhadap isi ceramah Felix. Semisal, ketika Felix bicara tentang remaja dan cinta, banyak yang suka dan hadir. Sebaliknya, ketika bicara pemerintahan Islam dan ideologi Islam, ada yang nyinyir dan adem tak berkomentar. Tak sedikit pula yang menghujat dengan nada marah dan tuduhan tak berarah.

Kondisi semacam ini, perlu adanya kedewasaan dan mencoba mencari tahu gagasan yang disampaikan. Mengkritik boleh, tentu dengan nada arif. Apalagi yang melontarkan kritik sesama muslim. Karena itu, berfikir rasional dan mencari tahu lebih jauh sangat disarankan.

Ketiga, rasional permanen. Manusia akan menilai Felix apa adanya. Tentu disertai bukti nyata dan jauh dari kasar kata-kata. Tindakan kelompok ini akan ditunjukan dengan sikap membela dan memberikan penjelasan jika ada yang tidak suka. Pembelaan dalam arti proporsional bukan karena ‘cinta mati’ atau ‘taqlid buta’.

Berfikir rasional ini dengan mengedepankan akal sehat dan menilai isi pesan Felix. Bukan menilai sosok Felix luarnya saja. Kalulah pesan yang disampaikan Felix salah, maka teguran itu pantas adanya. Kalaulah pesan yang disampaikan Felix benar, maka membenarkan itu sikap yang sempurna. Asalkan standar yang dipakai bukan selera, tapi hukum quran dan sunnah.

Semua berpulang pada kita, masyarakat Indonesia dalam menilai feno-Felix Siauw. Berada di posisi manakah kita sebagai manusia dan anak bangsa? Mengingat fenomena pro dan kontra Felix Siauw akan senantiasa ada, karena Felix Sauw sudah memilik branding di tengah kehidupan.

Jika anak bangsa sebagai sesama muslim, kedepankanlah ukhuwah Islamiyah. Jika anak bangsa sebagai sesama tinggal di bumi Allah Indonesia, kedepankanlah ukhuwah wathoniyah. Jika anak bangsa sebagai sesama manusia, maka kedepankanlah ukhuwah insaniyah. Hal inilah yang harus diingat dan dipegang kuat. Bersatu kita padu, bercerai kita runtuh. Selamat berkarya Felix Siauw di zaman now. Anda benar-benar Feno-Felix Siauw. [vm]

Penulis : Hanif Kristianto (Analis Politik dan Media)

0 Response to "FENO - FELIX SIAUW"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel