Anda yang Mana; Pengemban Dakwah atau Pemain Sinetron?

Ismail Yusanto di Makassar
Dari Kiri ke Kanan : Dr. Arman Kamaruddin (Host), Ust. Ismail Yusanto (Jubir HTI), Dr. Aswar Kamaruddin (Alumni Al- Azhar Kairo Mesir)
VisiMuslim, Makassar  - “Tidak pernah dakwah itu sepi dari hambatan, tantangan ataupun rintangan. Kalau tidak seperti itu, maka perlu dipertanyakan. Jangan sampai kita sedang tidak berdakwah tapi malah bermain sinetron.” seru Ust. Ismail Yusanto di sambut airmuka peserta berbagai rupa.

“Polarisasi itu wajar. Tidak sama penghuni surga dan neraka. Tidak mungkin produk yang berbeda dihasilkan dari proses yang sama.” Sambungnya lagi.

Kehadiran Ustadz IS, sapaan akrab beliau, dalam rangka menghadiri undangan Halal Bi Halal Majelis Taqarrub Ilallah (MTI) Sulsel pada ahad pagi (15/7). Aura seorang pejuang islam tangguh memang nampak memenuhi atmosfer ruangan yang cukup mewah di kota Makassar ini. Tidak sedikit yang menitikan air mata mendengar suguhan spiritual beliau yang meski tidak menggebu-gebu tapi mudah di cerna dan di amini.

Ustadz IS misalnya menyoroti kriminalisasi ajaran islam yang belakangan terjadi. Ya, apalagi kalau bukan khilafah. Seolah tidak ada ruang yang di berikan untuk ajaran islam yang satu ini. Padahal faktanya di negeri ini, ajaran komunis dan demokrasi justru boleh diajarkan bahkan komunisme pernah di topang eksistensinya oleh institusi kekuasaan begitu pula demokrasi hari ini. Lantas, mengapa islam tidak boleh?

Hal yang perlu disadari ketika terjun dalam dunia dakwah, kata beliau, bahwa kita akan menghadapi hambatan, tantangan, rintangan, baik cepat atau lambat. Misalnya dalam kasus HTI yang “di eksekusi” oleh 7 pihak di antaranya adalah jajaran menteri danTNI/POLRI. Ketika akan di cabut BHP-nya tentu yang dilakukan adalah berusaha dengan berbagai upaya agar hal tersebut tidak terjadi. Maka tanda-tanda kemenangan pun nampak, pada Ramadhan tahun lalu, beliau dan rekan-rekan pejuang makin optimis memenangkan perkara ini. Tapi ternyata hasilnya tidak demikian.

“Sampai hari ini pun, HTI tidak tahu dan tidak diberitahu. Di SK-nya tidak jelas, melanggar karena apa?” Tanya nya.

Meski begitu, beliau menyadari bahwa kezaliman itu adalah musibah yang terjadi di luar harapan dan keinginan kita. Tidak ada musibah yg terjadi dimuka bumi ini, kecuali itu sudah tertulis di lauhul mahfuz dan yang demikian itu mudah bagi Allah.

Ustadz IS menambahkan, dalam dakwah, ada pihak yang menghalangi dan ada pihak yang mendukung dakwah. Beliau teringat kala mengawali Dakwah Syariah dan Khilafah ini. Dakwah di mulai dengan jumlah sangat sedikit. Pertumbuhannya tidak linear, tapi makin ke tahun, justru exponensial. HTI yang di persekusi oleh 7 pihak tadi, kata beliau, menandakan bahwa dakwah ini bukan dakwah ecek-ecek.

“ini bukti bahwa jika kita mengikuti toriqoh dakwah rasul, akan menghasilkan hasil yang benar. Jika kita mengikuti cara rasul dengan benar maka dakwah pun akan tumbuh dengan benar.” ujarnya.

Ustadz IS mengingatkan keislaman kita bukan sekedar menyatakan akan beriman, tapi Allah akan menguji setiap kita. Karena Allah pun telah menguji orang-orang sebelum kita. Allah Maha mengetahui siapa yang dusta dan benar-benar dengan imannya itu. Tiap-tiap diri yang menyatakan istiqomah, berani, dan sabar, maka semua itu akan diuji.

“Tergantung kita, apakah mau lulus ujian atau tidak. Ujian itu bukan untuk menurunkan derajat. Kalau mau turun kelas tidak usah ada ujian. Ini adalah momen penting agar kita tetap istiqomah.” Pungkasnya.

Beliau kemudian menyontohkan titel yang di raih oleh Ustadz Aswar (Pembicara pertama, red) berupa gelar Doktor, di sematkan karena terlebih dahulu melewati ujian di jenjang S1, S2, S3 Universitas Al Azhar Kairo, Mesir. [vm]
loading...

Belum ada Komentar untuk "Anda yang Mana; Pengemban Dakwah atau Pemain Sinetron?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel