Pemimpin yang Takut pada Allah Menerapkan Syariat-Nya


Oleh: Yuliyati Sambas, SPt.

Lain di mulut lain di hati adalah satu ungkapan yang menggambarkan kondisi seseorang di mana apa yang ia katakan berbanding terbalik dengan perasaan hati dan perilakunya. Apa yang terjadi jika ungkapan ini berlaku pada diri seorang pemimpin? Maka perilaku politis, arah kebijakan, dan pengaturan juga pengurusan atas masyarakat yang ia pimpin akan berbeda dari apa yang keluar dari mulut manisnya.

Menjelang pesta demokrasi dimana rakyat akan diberikan haknya untuk memilih calon pemimpin yang kelak akan mengurusi mereka selama periode lima tahun yang akan datang, mekanisme debat calon presiden menjadi satu moment yang hangat menjadi perbincangan. Hal ini untuk memperlihatkan kualitas dan kelayakan mereka dalam memimpin bangsa dan negara. Pada acara debat Capres yang diselenggarakan di Hotel Sultan, Jakarta pada Minggu (17/2/2019) malam, Capres petahana yakni Presiden Jokowi menyatakan di akhir kalimatnya “Kita ingin negara ini semakin baik dan saya akan pergunakan seluruh tenaga yang saya miliki, kewenangan yang saya miliki. Tidak ada yang saya takuti untuk kepentingan nasional, rakyat, bangsa negara. Tidak ada yang saya takuti kecuali Allah SWT untuk Indonesia maju”.(sinarharapan.co)

Pernyataan yang diungkapkan oleh Presiden jokowi tersebut adalah sebuah hal yang baik bahkan memang sudah semestinya dimiliki oleh sosok pemimpin dan calon pemimpin dalam mengurusi masyarakat dengan senantiasa mengedepankan rasa takut hanya pada Allah SWT Dzat Yang Maha Menciptakan alam semesta, manusia, dan kehidupan. Namun tentu hal ini wajib dibuktikan dengan penuh kesungguhan sebagai syarat dalam meraih limpahan kasih sayang dan Ridha dari-Nya dalam mengemban amanah memimpin bangsa dan negara.

Rasa takut kepada Allah sejatinya wajib dibuktikan dengan perilaku taat pada perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, dan mencintai juga mengikuti semua risalah-Nya yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sebuah kebohongan jika seseorang mengatakan takut pada-Nya namun perilaku dan tindak tanduknya justru berseberangan dengan kehendak Allah. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Qur’an Surat al-Ahzab ayat 39

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا

Artinya: “Orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (QS al-Ahzab ayat 39)

Jika kita mau jujur, pada faktanya rezim yang ada saat ini telah membawa biduk pemerintahan ke arah yang berlawanan dengan Risalah-Nya. Negeri ini diatur dengan cara liberal berdasarkan asas sekulerisme yakni menjauhkan aturan-aturan Al-Khaliq dan menggantinya dengan sistem demokrasi kapitalistik. Alih-alih menjalankan aturan Allah secara sempurna yang terjadi justru senantiasa menelurkan hampir semua kebijakan yang cenderung menyengsarakan rakyat, menjauhkan bangsa dari makna berdaulat, mengkriminalisasi ajaran-ajaran Islam termasuk ketika rezim ini secara otoriter membubarkan Ormas Islam hanya karena Ormas tersebut konsisten mendakwahkan penegakkan Syariat Islam kaffah dan khilafah di tengah masyarakat.

Sungguh demikian tampak bahwa rezim ini anti terhadap ajaran Allah SWT, lantas dimana letak pernyataan seorang pemimpin bahwa ia hanya takut kepada Allah SWT? Adakah ini merupakan lip service yang digunakan untuk menggerek popularitas dan citra demi meraih suara di ajang Pilpres April mendatang. Jika demikian adanya maka bersiaplah dengan perhitungan-Nya yang amat pedih dan takkan mampu terelakkan meski seseorang menutupinya dari pengetahuan mahluk manapun.

Hanya pemimpin yang membuktikan dengan menjalankan amanah mengurus rakyat sesuai dengan syariat-Nya yang kaffah-lah yang sungguh-sungguh telah membuktikan betapa ia hanya takut pada Allah saja, Sang Penguasa jagat raya. Pemimpin seperti ini hanya bisa lahir dalam sistem yang benar-benar secara nyata menerapkan syari’at Islam yang sempurna dalam bingkai sistem Islam yang diwariskan oleh Rasulullah SAW yakni Khilafah Rasyidah. [vm]

Belum ada Komentar untuk "Pemimpin yang Takut pada Allah Menerapkan Syariat-Nya"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...