Bagaimana Daulah Khilafah Menggagalkan Upaya Mengaborsinya Pada Saat Berdiri?


Oleh: Tsair Salamah (Abu Malik)

Pada awal dekade 50-an, masyarakat Muslim belum percaya bahwa mereka dapat kembali ke khilafah atau menegakkan kembali khilafah. Mereka belum memahami istilah “kembali kepada Islam” kecuali untuk kembali ke ibadah dan moralitas (akhlak).

Dahulu, dominasi ide-ide sosialisme, nasionalisme, dan patriotisme sangat besar. Disebarkan ide bahwa Islam itu reaksioner dan keterbelakangan. Tak lama, ide-ide ini segera punah dan dunia islami bersih dari oasisnya …

Berkat karunia dan taufik dari Allah serta kerja keras penjelasan dan tekad para pejuang akhirnya ada di tengah-tengah umat gagasan pendirian daulah Islam, dan secara lebih presisi lagi (Daulah Khilafah Islamiyah). Keadaan berganti dan gagasan untuk mengembalikan al-khilafah berubah menjadi keyakinan sehingga diharapkan dan dilakukan gerakan besar untuk itu. Ketika Aljazair mengusung slogan Daulah Islamiyah dalam pemilu 1991, rakyat Aljazair menoleh ke arahnya (yang Prancis beranggapan telah berhasil mengubahnya kepada tsaqafah mereka ketika Prancis memerintah Aljazair selama 130 tahun) dan berkumpul di sekitar slogan ini. Termasuk hal itu, sikap Umat Islam terhadap revolusi yang mengusung slogan perubahan berdasarkan Islam di Iran pada tahun 1979, sikap umat pada referendum konstitusi di Mesir pada tahun 1980, sikap Umat Islam pada pemilu legislatif di Yordania pada tahun 1989 dan di Aljazair pada tahun 1990. Dan begitulah seterusnya, setiap kali Umat Islam harus memilih antara “Islamis” dan yang lain, dalam perkumpulan atau Asosiasi atau institusi, atau yang lainnya, yang menang adalah orang “Islamis”. Wajah-wajah pun menatap kebangkitan Islam. Urat-urat leher kaum kafir di Barat pun gemetar karena takut terhadap kembalinya Islam ke arena pergolakan internasional. Jadilah mereka memerangi para penyeru Islam bahwa mereka (ekstremis, teroris dan fundamentalis).

Ketakutan rezim terhadap gagasan khilafah, dakwah khilafah, dan Hizbut Tahrir telah menjadikan sebuah “kejahatan” sekedar mendistribusikan leaflet Hizbut Tahrir cukup untuk menempatkan seseorang di penjara selama tiga tahun di Yordania, lebih dari 10 tahun di Turki[1], dan lebih dari 20 tahun di Rusia. Dan cukup untuk menempatkan seseorang di bawah tanah di Uzbekistan dan Kirgistan. Dan cukup membuat seseorang dieksekusi di stadion sebuah universitas di Libya dan di depan para mahasiswa dan keluarga mereka selama masa Qaddafi. (Dan ini hanya karena mendistribusikan leaflet, lalu bagaimana dengan aktivitas-aktivitas politik lainnya yang dilakukan oleh Hizb?!)[2].  Dan kepanikan rezim jahat terhadap Hizb dan dakwah yang direpresentasikan oleh Hizb sampai membuat rezim menutup seluruh kota dengan pintu masuk dan keluarnya untuk mencegah pertemuan atau seminar atau ceramah yang diselenggarakan oleh Hizb, seperti yang kita lihat misalnya dalam seminar untuk menghidupkan ingatan penghancuran Khilafah di Tepi Barat, tahun demi tahun!

Di masa lalu, anak-anak Muslim yang pergi ke Barat terpesona oleh peradaban Barat dan sistem Barat. Hari ini, mereka telah menyadari tipu daya Barat, kerusakan peradaban Barat dan permusuhannya terhadap Islam. Dan ini membuat mereka berpegang teguh dengan Islam mereka dan giat beraktivitas untuk kembalinya khilafah rasyidah.

Jajak pendapat publik di dunia Muslim dan harapan sebagian besar umat untuk penerapan Syariah:

Para pemimpin Barat dan pemikir Barat berturut-turut mengeluarkan pernyataan memperingatkan tentang telah dekat tegaknya al-Khilafah. Mereka melakukan jajak pendapat publik di dunia Muslim.[3] Yang sangat mengerikan bagi mereka, bahwa persentase kaum Mukmin yang menyatakan pentingnya penerapan syariah dan penyatuan dunia islam mencapai lebih dari tiga perempat kaum Muslim!

Dalam hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Gallup, bagian dari Proyek Global dalam Jajak Pendapat Dunia -termasuk pandangan kaum Muslim-, yang dilansir di website Gallup Center for Muslim Studies pada 25 Juli 2008, hasilnya sebagai berikut[4]:



Sebesar 64% responden di Mesir yang disurvey menampakkan pendapat, syariah adalah satu-satunya sumber untuk tasyri’. Dan dalam jajak pendapat pada 1 Desember 2007 [5]mencakup Indonesia, Pakistan, Turki dan Mesir, kita temukan hasil berikut:


Dalam sebuah jajak pendapat pada 8 Maret 2008,[6] kita menemukan hasil berikut: Mayoritas responden menolak mengambil model demokrasi Barat, mereka melihat model “demokrasi yang terpancar dari Islam” bukan dari nilai-nilai Barat. Lalu ketika jajak pendapat seputar syariah sebagai satu-satunya sumber penetapan hukum ditemukan hasil berikut: yang menyatakan setuju 54% pria dan 55% wanita di Yordania, 70% pria dan 62% wanita di Mesir, 12% pria dan 14% wanita di Iran, 14% pria dan 14% wanita di Indonesia.

Jelas bahwa pertanyaan mereka adalah tentang menjadikan Islam sebagai sumber hukum. Jika kita gabungkan pertanyaan mereka tentang nilai-nilai demokrasi dan mayoritas responden menolak menjadi bagian dari nilai-nilai Barat, kita bisa yakin mereka juga menolak hukum Prancis, Romawi dan Inggris sebagai sumber hukum. Mereka yang menolak nilai-nilai Barat sebagai dasar demokrasi dan bersikeras bahwa nilai-nilai Islam yang harus membentuknya tentu mereka lebih keras menolak hukum Prancis dan Inggris! Apalagi, mengingat keyakinan mayoritas kaum Muslim bahwa sistem pemerintahan yang memerintah mereka dengan undang-undang yang terpancar dari nilai-nilai Barat itu sangat buruk dan rusak serta tidak mampu merealisasi hak minimum mereka. Maka kita bisa mengatakan, kita benar-benar yakin bahwa sebagian besar Umat Islam ingin berhukum kepada Syariah saja, dan menginginkan tegaknya negara di atas asas syariah!

Pada tahun 2006, misalnya sebanyak 93% orang Yordania mendukung syariah Islam harus menjadi sumber legislasi. Di Mesir, 90% orang Mesir mendukung peran syariah dalam penetapan undang-undang. Demikian juga, 81% orang Pakistan mendukungnya. Hasil ini mirip dengan negara-negara Islam yang termasuk dalam sampel, Maroko, Indonesia, dan Iran. Secara keseluruhan, angka umumnya adalah 79% untuk mereka yang mendukung Syariah Islam memiliki peran dalam legislasi di sepuluh negara yang disurvei oleh Gallup tahun itu.

Hasil ini tidak berbeda dari jajak pendapat yang dilakukan oleh Pew[7] pasca revolusi Arab dalam ide yang sama dengan jajak pendapat Gallup. Pada musim semi 2011, dalam surveynya, PEW bertanya sejauh mana persetujuan bangsa-bangsa Muslim yang disurvei terhadap ungkapan: “dengan tegas undang-undang harus mengikuti ajaran-ajaran al-Quran” atau “undang-undang harus mengikuti nilai-nilai dan prinsip-prinsip Alquran, tetapi tanpa ketegasan”. Mayoritas responden di sebagian besar negara mendukung undang-undang untuk mengikuti ajaran al-Quran, baik secara ketat atau tidak. Misalnya, 98 persen orang Pakistan, 95% orang Yordania, 89% orang Mesir, dan 66% orang Palestina mendukung hal itu.[8] Kita memiliki jajak pendapat Pew Research seputar gagasan bahwa Al-Qur’an secara tegas mengendalikan undang-undang negara atau undang-undang bersandar kepada nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam, yang dilakukan oleh Pew Research pada 2011 dan angka-angkanya seperti yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini:[9]

Dalam jajak pendapat global di mana Pew Research Center[10] bertanya kepada Umat Islam di seluruh dunia tentang keinginan mereka untuk menjadikan syariah Islam sebagai undang-undang negara, hasilnya adalah sebagai berikut:



Dan berikut ini adalah grafik hasil jajak pendapat tentang siapa yang ingin menerapkan hudud dan sanksi fisik atas kejahatan seperti pencurian yakni sanksi potong tangan :[11]


Pertanyaan, apakah baik atau buruk bahwa penetapan berbagai UU negara saat ini bukan berasal dari syariah islam?[12]. Kita temukan anggapan masyarakat bahwa itu buruk ternyata angkanya besar. Di antaranya: di Rusia 47% memandangnya buruk sementara 10% berpikir itu baik, di Kirgistan 47% memandangnya buruk dibandingkan dengan 27% yang melihatnya baik. Hasil lebih lengkap adalah sebagai berikut:


Ketika Uni Soviet bubar, Hizbut Tahrir berpacu dengan waktu untuk mengisi kekosongan strategis yang ditinggalkan oleh fragmentasi itu. Massa Muslim yang keluar dari puluhan tahun penganiayaan sistematis terhadap mereka oleh negara kriminal itu, Umat Islam terbakar untuk Islam mereka, maka kembalinya dakwah sangat kencang dan menyebar layaknya menyebarnya api di jerami kering. Pemerintah di Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan dan lainnya menghadapinya dengan berbagai jenis kebrutalan dan kejahatan. Penjara-penjara dipenuhi dengan para pengemban dakwah untuk tegaknya al-Khilafah. Aktivitas dakwah ini membuat presiden Rusia, Putin berkali-kali memperingatkan Barat tentang Khilafah, dan bahwa itu ada di kebun belakang Rusia!

Dan di sini Anda bisa melihat proporsi mereka yang ingin menerapkan syariah dan menegakkan hudud di Rusia setelah puluhan tahun penindasan dan larangan atas segala bentuk keberagamaan, dan pelaksanaan kebijakan ekstrem melawan Umat Islam di Rusia sejak Tsar Ivan yang mengerikan hingga saat ini! Itulah agama agung yang meresapi jiwa-jiwa yang tidak akan lekang oleh lamanya waktu betapapun pekatnya berbagai kesulitan!

Respon bermusuhan dari Barat terhadap dunia Islam menunjukkan kesadaran mereka akan dekatnya khilafah:

Karenanya berturut-turut terjadi tindakan agresif Barat terhadap dunia Islam karena takut Daulah Islam akan berdiri dan menyebar sehingga kepentingan Barat akan berada dalam bahaya serius.[13] Revolusi intelektual emosional yang terjadi di dunia Islam telah berdampak pada kancah internasional. Efek ini tampak dalam dua aspek:

1 – Deklarasi Barat kafir melalui lisan para pemimpin dan pemikirnya bahwa Islam telah menjadi musuh Barat nomor satu. Barat kafir memandang Islam, sebagai sebuah peradaban dan negara yang didasarkan padanya, sebagai sumber bahaya nyata bagi Barat, peradaban barat dan sistem kehidupannya.

2 – Berdasarkan pemahaman Barat kafir atas hakikat realita umat dan masyarakat dunia Islam, Barat merancang kebijakannya dan merumuskan rencana dan cara-caranya untuk menghadapi gelombang Islam yang sedang tumbuh ini sebagai berikut:

a- Pendudukan militer di wilayah Teluk dan perairan di sekitarnya, serta pendirian pangkalan-pangkalan terdepan di wilayah itu.

b- Mengembangkan strategi keamanan yang bertujuan:

1- Memperkuat sarana kontrol dan dominasi Barat atas negeri Islam.

2- Menghalangi setiap gerakan Islam di wilayah ini.

3- Melemahkan wilayah tersebut secara ekonomi dan militer:

a- Mempercepat diikatnya perjanjian penyerahan antara negara-negara Arab dengan entitas Yahudi di Palestina.[14]

b-  Masuk ke dalam kekacauan al-Khilafah, memicu perang, fitnah sektarian, menghancurkan kota-kota besar di dunia Islam dan menghancurkan infrastruktur untuk melemahkan kemampuan dunia Islam untuk bangkit melawan kafir Barat.

c- Mencairkan masyarakat dari aspek Islam untuk mempermudah mengeluarkan Islam dari masyarakat, dan peran media dan hiburan di dalam hal itu.

d- Mencairkan agenda vital kaum Muslim melalui model pemerintahan Islam yang terdistorsi.

e – Kontrol penuh atas wilayah secara keseluruhan dalam suasana ketidakstabilan politik.

f – Deklarasi perang terhadap Islam dan kaum Muslim di mana-mana dan dengan berbagai cara dan

Ini adalah tanda-tanda bahwa Umat Islam telah melalui tahap pertama dari perjalanan untuk kembali kepada khilafah dengan baik. Tidak ada keraguan bahwa jalan kebangkitan dan pembebasan dari subordinasi akan melalui tahap-tahap tragedi dan cobaan yang sulit. Umat ini sekarang dengan berbagai partai dan gerakan Islamnya, dan dalam semua madzhabnya, dan di seluruh wilayah di negeri-negeri Islam serta di mana saja mereka berada di negara-negara di seluruh dunia, mereka semua sangat terbakar untuk melihat panji “Lâ ilaha illâ Allâh Muhammadun Rasûlullâh -Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah-” berkibar di semua penjuru dunia islam bahkan di seluruh penjuru dunia. Kondisinya telah sampai pada kondisi di mana dalam beberapa gerakan ini mereka telah memutuskan untuk mendirikan al-Khilafah dan berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan walau dengan penggunaan senjata melawan para penguasa yang menolaknya. Seperti yang terjadi di Amerika, tegaknya al-Khilafah berlomba dengan upaya intelijen untuk menegakkan al-Khilafah melalui organisasi-organisasi yang telah diinfiltrasi, atau mengeksploitasi kosongnya kesadaran politik dan proyek intelektual yang muncul pada organisasi-organisasi itu untuk mengacaukan potret Khilafah di benak kaum Muslim!

Keberhasilan dalam menciptakan opini publik yang terpancar dari kesadaran publik di dunia Islam

Orang yang mendalami realitas umat dan masyarakat di dunia Islam saat ini, dia akan paham bahwa para pengemban dakwah Islam telah berhasil berkat karunia dan taufiq dari Allah, menciptakan opini umum yang terpancar dari kesadaran umum pada diri umat atas Islam, gagasan al-Khilafah dan penerapan syariat, serta penyatuan dunia Islam dalam satu negara.[15] Tidak ada yang bisa melewati hakikat itu, yakni bahwa aktivitas kudeta intelektual dan emosional di masyarakat telah terealisir, yang akan mengarah pada terealisirnya kudeta politik secara alami dan tak terhindarkan, dengan izin Allah.

Oleh karena itu, opini umum yang terpancar dari kesadaran umum berjalan seiring secara serius ke arah pengadopsian Umat Islam sebagai sebuah umat atas agenda vital Islam. “Opini umum yang terpancar dari kesadaran umum memiliki konotasi yang harus disadari, karena itu merupakan perkara yang mengalami kerancuan pada banyak orang. Sebagian orang mendeskripsikan opini umum yang terpancar dari kesadaran umum sebagai aktivitas umum dan bukan opini umum, yaitu kedisiplinan terikat dengan Islam pada diri sekelompok orang. Padahal, yang benar adalah makna ucapan ini adalah umat secara keseluruhan merasakan pentingnya berhukum kepada Islam sebagai urgensitas yang tidak didorong oleh gejolak emosi atau keinginan kekinian yang mendesak, melainkan didorong oleh kesadaran mereka bahwa hidup dan loyalitas mereka wajib hanya untuk Islam saja. Dan itu tidak selalu berarti bahwa orang menerapkan hukum-hukum syara’ terhadap diri mereka sendiri, tetapi maknanya adalah ada loyalitas kepada Islam dan tidak kepada yang lain. Dan ini pengaruhnya tidak tampak secara terindera dalam kehidupan praktis kecuali ketika diterapkan”.[16]

Jadi masalahnya sekarang bukan untuk menanamkan ide khilafah di tengah umat. Ide terebut telah ditanam, berkecambah dan membesar. Masalahnya juga bukan pendirian atau penguatan satu partai atau banyak partai Islam. Tujuan mendasar dari partai-partai ini telah tercapai. Masalahnya sekarang adalah: jika Umat Islam mendirikan Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian, akankah negara-negara Barat, yang dipimpin oleh Amerika, membiarkannya berlanjut?

Apakah daulah Khilafah yang baru lahir itu memiliki kemampuan untuk melindungi diri dari tangan negara-negara kafir imperialis? Inilah tahapan yang telah dicapai oleh umat sekarang. Tanaman yang ditanam oleh Hizbut Tahrir telah mulai tumbuh membesar, alhamdulillah, makin kokoh tegak di atas akar-akarnya, dan menjadi proyek umat, bukan proyek dari satu partai atau gerakan dari kalangan umat. Umat memiliki kesadaran publik tentang Khilafah. Umat memiliki keinginan dan harapan akan berdirinya Khilafah. Umat memiliki keimanan bahwa agamanya dan syariah Rabbnya adalah penjamin penyelesaian masalah-masalah umat. Adapun rincian pelaksanaan proyek itu, Hizb memiliki kesadaran penuh tentang rinciannya.

Keberhasilan besar ini, berkat karunia Allah SWT, terealisir meskipun rezim berkuasa melakukan kebijakan pemadaman media total terhadap Hizbut Tahrir, yang menghalangi Hizb untuk menjangkau segmen luas dari masyarakat di mana ia aktif. Keberhasilan itu terealisir meski dalam bayang-bayang kampanye terus-menerus yang berusaha mengacaukan ide Khilafah dan mendevaluasi nilainya oleh para “Intelektual”, “budayawan” dan “analis” yang bersesuaian sepenuhnya dengan kampanye yang dipimpin oleh para politisi Barat dan pusat-pusat studi dan penelitian yang mendukung mereka untuk mengaburkan konsepsi al-Khilafah dan membuat masalah penghidupan kembali al-Khilafah sebagai perkara terlarang.[17]

Untuk menjawab pertanyaan pertama, kami katakan: negara-negara kolonial di dunia, yang dipimpin oleh Amerika tidak mengizinkan pendirian al-Khilafah. Jika al-Khilafah berdiri, mereka akan bekerja untuk menghancurkannya lagi. Fakta ini hanya orang bodoh yang tidak bisa menerimanya.

Sebagai jawaban atas pertanyaan kedua, kami katakan dengan penuh keyakinan: benar, Umat Islam dengan negaranya yang baru berdiri nanti memiliki kemampuan dan dapat memukul mundur tipudaya orang-orang kafir dan menyungkurkan hidung mereka, dengan pertolongan dan taufik dari Allah SWT.

Garis besar rencana untuk menggagalkan upaya Barat menggagalkan tegaknya Daulah Islam:

Sekarang kami memaparkan garis besar untuk menjelaskan tatacara bekerja, perlu diketahui bahwa akal para pengelola al-Khilafah (Khalifah dan para pembantunya) lebih besar daripada pikiran orang yang menulis kalimat-kalimat ini, dan realitas internasional pada saat itu lebih jelas daripada prediksi kita sekarang. Garis-garis besar itu kami ringkas sebagai berikut:

1- Umat terbaik yang dikeluarkan untuk umat manusia tidak akan mengemis haknya dan diperoleh dengan cara korupsi. Umat terbaik tidak rela berada di ekor umat-umat lain dijadikan rebutan dan jarahan, sementara umat terbaik itu mengemban kepada umat manusia, risalah yang menjadikannya layak berdiri dengan kuat menghadapi hegemoni peradaban barat.

2 – Ide-ide di umat mana pun merupakan kekayaan terbesar yang diraih umat dalam kehidupannya jika itu adalah umat yang tumbuh, dan merupakan hadiah terbesar yang diterimanya dari generasi pendahulunya jika itu merupakan umat yang memiliki akar sejarah yang panjang dalam hal pemikiran yang cemerlang. Adapun kekayaan material, penemuan-penemuan ilmiah, berbagai inovasi industri, dan sejenisnya, posisinya jauh di bawah kekayaan gagasan. Bahkan, semua itu pencapainnya bergantung pada ide dan retensi mereka pada gagasan. Jika kekayaan materi umat dihancurkan, maka akan dapat segera diperbarui, selama umat itu menjaga kekayaan intelektualnya. Adapun jika kekayaan intelektual hilang, sementara umat itu terus mempertahankan kekayaan materialnya, maka kekayaan material itu akan segera berkurang dan umat itu akan kembali ke kondisi miskin. Sebagaimana, sebagian besar fakta ilmiah yang ditemukan oleh umat itu dapat ditelusuri kembali jika hilang dari mereka tanpa mereka kehilangan metode berpikir mereka. Adapun jika uamt kehilangan metode berpikir produktif, maka akan dengan cepat mundur dan kehilangan penemuan dan inovasi yang dimilikinya. Karenanya, pertama-tama harus diberikan perhatian terhadap ide dan dijaga. Dan berdasarkan ide-ide ini, dan menurut metode berpikir produktif maka kekayaan materi dapat diraih, dan dapat diupayakan untuk mengakses penemuan-penemuan ilmiah dan inovasi-inovasi industri dan sejenisnya.[18]

Tidak ada keraguan bahwa pemikiran itu menghabiskan kekuatan dari pada senjata. Dan bahwa Uni Soviet pada puncak kekuatan dan kepemilikan senjatanya cukup untuk menghancurkan seluruh bumi, ternyata jatuh berkeping-keping dengan runtuhnya sistem intelektual yang menjadi dasar berdirinya setelah keyakinan bangsa terhadapnya melemah. Juga tidak ada keraguan bahwa Nabi saw mendirikan Daulah Islam di Madinah sebelum teknologi dan persenjataan ditransfer ke Madinah. Beliau menegakkannya menggunakan ide. Hanya sepuluh tahun kemudian, Daulah yang Beliau dirikan menyerang dua kekaisaran terbesar pada saat itu, menghancurkan Kekaisaran Persia dalam waktu sekitar sepuluh tahun dan mengalahkan Kekaisaran Bizantium di Suriah dengan telak. Dari sini, pilar terpenting dan pilar terkuat dalam membangun negara mana pun adalah asas intelektualnya. Asas intelektual untuk Daulah dengan kekuatan intelektual yang dikandung oleh Islam, cukup untuk memastikan kemenangannya!

3- Barat telah gagal mengganti agama umat atau mengguncang kepercayaan umat terhadap agamanya, atau gagal menyorongkan pengganti untuk agama umat. Umat menolak pilihan kaum sekularis di Mesir dan memandang mereka sebagai sumber korupsi di Pakistan dan Bangladesh. Semua rezim sekuler di kawasan bersandar pada kekuatan militer atau keagenan. Dan Amerika Serikat tidak berhasil memasarkan mereka kecuali hanya melalui model Turki, yang mencoba mengenakan jubah Islam atau begitulah yang dilihat oleh para pendukungnya dari kalangan kaum Muslim, dengan anggapan mereka bahwa Turki menempuh tahapan untuk penerapan Islam. Tetapi sekulerisme itu sendiri gagal total. Negara harus memiliki asas intelektual. Ketika barat kafir gagal membentuk asas intelektual ini untuk negara-negara di dunia Islam, maka itu menjadi posisi terpenting di paku peti mati proyeknya untuk menonaktifkan daulah Islam yang tegak di atas pemikiran yang tertanam kuat pada diri umat! “Di antara indikasi yang menunjukkan hal itu bahwa proses mempromosikan dan memasarkan hukum dan ide-ide kufur di negeri-negeri kaum Muslim tidak tercatat adanya keberhasilan jika tidak diwarnai dengan warna Islam, dan jika tidak dipromosikan oleh mereka yang berbusana islami yang menjual agama mereka dijual dengan harga rendah yakni beberapa dirham saja dan mereka merasa tidak tertarik hati padanya.[19]

4- Tidak ada yang lebih kuat daripada gagasan yang telah tiba waktunya.[20] Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Anti-War Foundation pada 23/6/2006 oleh Patrick Buchanan, mantan penasihat senior untuk Presiden Nixon, Ford dan Reagan, yang berjudul “Gagasan yang telah tiba waktunya” berbicara tentang perjuangan unuk menghidupkan kembali Islam berlangsung hari ini, dan bahwa gagasan tentang pemerintahan Islam telah menjadi kuat di kalangan Umat Islam meskipun ada perlawanan kuat dari Barat … Dan Amerika menyerukan untuk mengadopsi kebijakan baru dalam berurusan dengan Muslim. Dalam artikel itu dinyatakan, “Bellock meramalkan, sementara Kristen tampaknya sedang sekarat di Eropa, Islam justru naik untuk mengguncang abad ke-21, seperti yang terjadi beberapa abad yang lalu. Benar. Ketika kita melihat angkatan bersenjata Amerika memerangi Sunni yang memberontak kepada penguasa, mujahidin syiah dan jihadis di Irak, dan Taliban yang dilarang, mereka memuji Allah, hal itu mengingatkan kita kepada kata-kata Victor Hugo: “Kekuatan tentara mana pun tidak sebandaing dengan kebangkitan ide yang telah tiba waktunya”.

Ide yang dimusuhi oleh banyak orang yang menentang adalah ide yang mengharuskan dirinya sendiri. Mereka meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan yaitu Allah SWT, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan bahwa Islam atau tunduk kepada al-Qur’an adalah satu-satunya jalan menuju surga. Juga bahwa masyarakat rabbani harus diatur oleh syari’at yakni hukum Islam. Setelah menguji jalan-jalan lain yang menyebabkan kegagalan, mereka kembali ke tanah air Islam. Kulit iman Islam benar-benar luar biasa.

Islam tetap hidup meskipun sudah berlalu dua abad setelah kekalahan dan kehinaan yang menimpa Khilafah Utsmaniyah dan penghancuran Khilafah pada masa Musthafa Kamal. Islam juga memerintah Barat selama beberapa generasi.

Kemudian penulis menyimpulkan artikelnya sebagai berikut:

Sesuatu yang wajib disadari oleh Amerika adalah sesuatu yang tidak biasa bagi kita: dari Maroko ke Pakistan, mayoritas setelah sekarang ini tidak akan lagi menganggap kita orang baik. Jika pemerintahan Islam adalah ide yang akarnya menguat di antara massa Muslim, lalu bagaimana pasukan paling kuat di dunia akan bisa menghentikannya? Bukankah kita memerlukan kebijakan baru?”[21]

5 – Diantara indikasi hal itu bahwa George Bush Sr, pada puncak paranoia keagungan Amerika, ketika dia ingin memerangi Irak, Saddam menyentuh Islam dengan ringan melalui beberapa pernyataannya, ketika ia menunjuk ke tempat-tempat suci di Arab Saudi dan bahwa Amerika sekarang mengendalikan tempat-tempat ini dan mendesak Muslim dan Arab bergerak melawan Amerika, maka tampak kebingungan dan kengerian pada diri Bush. Hal itu mencuat dalam pidato Bush Sr pada 15/8/1990 di Departemen Pertahanan AS. Bush Sr mengatakan, “Tindakan AS di Teluk tidak berkaitan dengan agama, ambisi atau perbedaan budaya seperti yang coba digambarkan oleh Irak”. Bush menambahkan, “Saddam mengklaimnya sebagai Jihad Arab melawan orang-orang kafir … Padahal dia yang menggunakan gas beracun untuk melawan pria, wanita dan anak-anak di negaranya. Dia pula yang menyerang Iran dalam perang yang menelan korban lebih dari setengah juta Muslim”. Bush Sr menambahkan, “Saddam mengubah kaya menjadi miskin disebabkan perang ytang dilancarkannya terhadap kaum Muslim lainnya”. Bush Sr menambahkan, “Saddam menggambarkannya sebagai konflik antara orang Arab dan Amerika. Yang benar, Saddam lah yang mengancam umat Arab sekarang, sementara kita berusaha membantu teman-teman Arab kami”. Bush Sr menambahkan, “Kami tidak sendirian melawan Saddam, tetapi negara-negara Arab dan (Islam) berdiri bersama dan di sekeliling kita”.

Ungkapan-ungkapan dari Bush ini menunjukkan bahwa dia gemetar karena takut berubahnya konfrontasi antara Amerika dan Irak menjadi konfrontasi antara Amerika dan Arab dan jauh lebih takut lagi konfrontasi itu akan berubah menjadi konfrontasi antara Amerika dan kaum Muslim. Karena itu, ia mengulangi kata-kata Arab dan kaum Muslim berkali-kali dan berusaha menggambarkan Amerika sebagai teman orang Arab dan teman kaum Muslim, dan bahwa Irak adalah musuh orang Arab dan musuh kaum Muslim.[22]

6- Orang-orang yang masuk dalam pertarungan berdarah dengan kaum Muslim sepanjang masa, mereka tidak menyadari sejauh mana kekuatan dan pengaruh akidah islamiyah yakni ide terhadap kekuatan materiil. Oleh karena itu mereka mengandalkan peningkatan kekuatan fisik mereka terhadap kekuatan kaum Muslim untuk mengalahkan kaum Muslim. Tetapi meskipun bagaimanapun peningkatan kekuatan itu, kaum Muslim terus saja menang melawan mereka bagaimanapun lemahnya Muslim dan kecilnya jumlah kaum Muslim. Peningkatan kekuatan material itu tidak berguna bagi mereka di berbagai medan perang, dan kemenangan tetap saja ada di pihak kaum Muslim. Begitulah keadaan kaum musyrik dengan Rasulullah saw dan para sahabat beliau. Begitu pula kondisi orang-orang Romawi dan Persia dengan para Sahabat. Sebanyak tiga ribu orang Muslim berhadapan dengan dua ratus ribu orang Romawi di Mutah. Di Yarmuk jumlah kaum Muslim 36 ribu berbanding dengan 240 ribu orang Romawi dengan persenjataan, perisai dan peralatan perang mereka yang jauh melebihi milik kaum Muslim. Jumlah pasukan yang membebaskan Persia adalah 18 ribu Muslim, tidak ada panji-panji yang bertahan terhadap mereka dan kota-kota Persia jatuh satu demi satu. Di Qadisiya, kaum Muslim sekitar 30 ribu orang, sementara Persia sekitar 200 ribu orang. Kaum Muslim meraih kemenangan dan mengalahkan total Kekaisaran Persia antara 11 AH dan 23 H. Kaum Muslim kalah perang hanya dua kali, tidak lebih. Pertama, dalam Perang Salib kaum Muslim awalnya kalah perang tetapi mereka kembali, melanjutkan perang dan memenangkannya. Kedua, pada abad kesembilan belas sampai berakhir dengan kekalahan akhir dalam Perang Dunia Pertama.

7 – Ada satu hakikat, yaitu bahwa Amerika berperang melawan dunia Islam yang telah melelahkan Amerika dan menenggelamkan Amerika dalam kubangan utang. Biaya perang terhadap Irak mencapai tiga triliun dolar. Menurut Joseph Stiglitz peraih Nobel ekonomi, dia mengatakan: “Sekarang menjadi jelas sekali bahwa invasi AS ke Irak adalah sebuah kesalahan serius. Sekitar 4.000 orang tentara Amerika tewas, dan 58.000 lainnya terluka ringan atau berat atau terjangkit sakit parah, belum lagi 7.300 tentara yang terluka, cacat atau sakit parah di Afghanistan. Seratus ribu tentara AS kembali dari perang menderita gangguan mental dan kejiwaan yang serius, kebanyakan dari mereka akan menjadi bencana kronis.[23] Adapun perang terhadap Afghanistan masih menelan biaya Departemen Keuangan AS sekitar $ 45 miliar per tahun. Menurut BBC: Centre for Strategic Studies yang diketuai oleh Anthony Cordsman, biaya langsung perang di Afghanistan, termasuk jumlah yang dialokasikan tahun depan telah mencapai 841 miliar dollar. Sementara estimasi yang lain memperkirakan bahwa perang ini, yang memasuki tahun keenam belas (2017) telah melampaui satu triliun dolar, dengan mempertimbangkan biaya tidak langsung, tanpa ada tanda-tanda yang mengindikasikan perang ini akan segera berakhir. Sebagai contoh, Nita Crawford, koordinator proyek biaya perang di Brown University di Amerika, memperkirakan bahwa biaya perang AS di Irak, Afghanistan dan Pakistan sejak tahun 2001 hampir mencapai $ 5 triliun dollar, termasuk $ 2 triliun dollar biaya perang Afghanistan, termasuk biaya di masa depan.[24]

8 – Ketika Amerika ingin berperang melawan Irak, Amerika merekrut sejumlah besar tentara bayaran, setelah Amerika putus asa merekrut sukarelawan untuk berperang. Amerika merekrut 200 ribu tentara bayaran dalam perang Irak[25] melalui beberapa perusahaan yang diuntungkan oleh situasi itu seperti perusahaan: Blackwater USA, DynCorp, Triple Canopy, Erinys dan ArmorGroup. Amerika tidak memiliki kontrol atas kejahatan mereka, perilaku mereka, dan lebih dari itu, atas loyalitas mereka, terutama jika kita tahu bahwa banyak dari mereka bukan orang Amerika, tetapi imigran yang dijanjikan oleh pemerintah untuk memperbaiki kondisi imigrasi mereka. Dan ketika mereka kembali dari perang itu, Amerika mengingkari terhadap mereka dan melemparkan persoalan kesehatan, kejiwaan dan finansial mereka kepada mereka sendiri.

Menurut beberapa perkiraan dari anggota Senat AS, 40% dari belanja perang Amerika dihabiskan untuk perusahaan swasta yang merekrut tentara bayaran. Ini adalah beban biaya yang besar dan beban besar bagi negara yang utangnya telah mencapai lebih dari $ 20 triliun!

Perang apapun yang dilakukan Amerika melawan dunia Muslim dapat mengurangi kemampuan militer Amerika setidaknya 20%. Hal itu memperpendek jarak antara AS dengan semua pesaingnya di dunia, dari Rusia dan China. Juga menempatkan kemampuan AS untuk tetap menghegemoni sedang diuji. Amerika tidak diragukan lagi akan keluar merugi dari perang terhadap dunia islam bagaimanapun upaya itu. Oleh karena itu, AS meminta bantuan Iran, Rusia dan Turki dalam perang di Suriah. Lalu Rusia membantu AS dalam perang melawan berbagai faksi dan organisasi di Suriah. Rusia membakar tumbuhan dan tanah. Tetapi situasinya tentu berbeda ketika menghadapi negara!

9 – Ketika Amerika berbicara kepada dirinya untuk memukul Iran selama program nuklir Iran, jurnalis terkenal Simon Hersh[26] menyiapkan studi tentang perang itu. Setelah dia berkonsultasi dengan pakar militer dan strategis, bahwa tidak mungkin menuntaskan perang manapun dari udara, dan harus ada konfrontasi darat. Dia menelaah secara mendalam banyak perang, tidak ada yang diselesaikan dengan pemboman udara, bagaimana pun kuatnya. Berikutnya, mengirim tentara darat jauh ke dalam dunia Islam tidak akan menjadi petualangan yang bisa dituntaskan hasilnya untuk kemenangan Amerika!

10- Ketika Amerika memasuki perang melawan Irak, Amerika merekrut  23 negara untuk melakukan itu. Butuh waktu enam bulan untuk mempersiapkannya. Dan semua itu tidak akan berhasil tanpa dukungan logistik dan titik tolak pangkalan-pangkalan di dunia Islam, seperti Arab Saudi dan Kuwait. Semua itu berkat agen-agen Barat dari kalangan penguasa kaum Muslim. Tetapi, ketiga Khilafah tegak, atas kehendak Allah, maka rezim-rezim boneka itu akan runtuh seperti kartu domino. Mereka adalah rezim yang sangat rapuh, dan tidak punya perluasan di dunia Islam. Oleh karena itu, akan sulit bagi Amerika untuk menemukan titik tolak untuk perang vital seperti yang akan dicoba untuk menggugurkan daulah Islam.

11- Negara-negara kecil dhirar itu membalanjakan dana fantastis untuk mempersenjatai diri. Juga ada negara-negara yang memiliki kekuatan sangat besar yang hakiki seperti Turki dan Pakistan. Dan di antara sifat tentara adalah bahwa mereka telah dididik untuk patuh kepada perintah. Oleh karena itu, jika kita dapat bekerja untuk menghilangkan kelas agen dalam komando pasukan, dan bekerja untuk meminta bantuan kelas orang-orang mukhlis di antara para perwira yang berafiliasi kepada umat ini yang meyakini akidah Islam, maka perubahan tentara untuk kemenangan umat ini lebih mudah daripada perubahan orang biasa. Sebab tentu saja mereka akan memenuhi perintah yang berasal dari kelas yang mukhlis. Dan negara yang memiliki anti rudal dan pesawat, dan para perwira terlatih dengan keahlian militer, sulit untuk dikalahkan dengan pemboman dari dari udara. Juga sulit untuk mendudukinya. Pendudukan kota-kota utama di dunia Islam seperti Baghdad, Kairo, Istanbul dan Islamabad bukanlah perjalanan tamasya yang mudah! Sekali lagi, tidak bisa diperbandingkan antara apa yang terjadi pada rezim usang dengan daulah Islam yang mukhlis!

12 – Umat Islam memiliki kekayaan yang sangat besar yang tidak bisa ditinggalkan oleh dunia. Misalnya, cadangan energi yang sangat besar. Jika khilafah tegak dan ada upaya untuk berperang melawannya, maka khilafah bisa memutus suplay energi itu dari seluruh dunia. Maka krisis ekonomi akan makin kritis, kehidupan di barat akan terlantar di mana Pemerintahannya akan berada di bawah tekanan rakyat yang luar biasa. Lalu daulah al-Khilafah mengulurkan tangannya untuk mendirikan aliansi strategis yang penting untuk mereka mendapatkan energi itu. Kubu yang berseberangan akan terpecah dan membuat tugas bagian yang bermusuhan menjadi sangat sulit. Dijalin kontrak dengan para ilmuwan dan perusahaan multi nasional untuk mendirikan industri dan pusat penelitian atau untuk membeli peralatan yang diperlukan, dan memulai perjalanan industrialisasi berat dan transfer teknologi.

13- Bangsa-bangsa Islam akan terbakar untuk membebaskan diri dari para penguasa dan rezim mereka yang telah menimpakan bencana. Bangsa-bangsa Islam akan terbakar untuk membebaskan diri dari situasi bencana yang mereka alami. Mereka sedang mengintai rezim-rezim ini dan sangat ingin menyerang mereka. Mereka menunggu perubahan dengan penuh rindu dan harap. Mereka melihat persatuan mereka adalah sumber kekuatan mereka. Ketika rezim-rezim ini jatuh maka tidak akan ada orang yang berjuang untuk mengembalikannya. Dan Anda akan menemukan umat mengelilinginya untuk mencegahnya balik ke belakang mengikuti kafir Barat. Dan harus dipertimbangkan bahwa rezim ini sebenarnya sangat rapuh dan lemah, dan mudah jatuh. Oleh karena itu penyebaran dan perluasan daulah islam ketika berdiri akan memberinya wilayah yang luas dan dimensi strategis yang sangat besar. Pada waktunya, daulah Khilafah tidak hanya berupa ibu kota suatu negara yang dapat diserang, tetapi menjadi negara yang sangat luas. Dan perang terhadap negara semacam ini tidak akan berjalan cepat, atau berupa perang kilat. Kaum Muslim sekarang ini tidak bersimpati dengan rezim yang ada di negara mereka, karena rezim itu dipaksakan terhadap mereka tanpa kehendak mereka. Rezim itu bertentangan dengan akidah dan syariah mereka. Alih-alih rezim mengurus urusan mereka, sebaliknya rezim justru memakan mereka. Bukannya rezim itu menjaga mereka, sebaliknya justru menzalimi mereka, menghinakan mereka dan membungkam mulut mereka. Maka tidaklah benar kita bandingkan sikap Umat Islam terhadap daulah islam mereka dengan sikap mereka terhadap neagra-negara kafir dan kezaliman yang sedang terjadi serang. Sikap itu pasti akan ada pada waktu yaitu setelah tegaknya daulah. Negara, yang ada tidak akan menjadi daulah Islam meskipun menamakan diri dengan nama Islam! Ketika itu akan menjadi negara polisi yang membutuhkan perlindungan dari rakyatnya sendiri, bukan hanya dari luar negeri.

Negara yang dekap (dilindungi) oleh rakyatnya tidak dapat dijatuhkan semata dengan penguasanya dijatuhkan. Sebab setiap orang di dalamnya merasa bertanggung jawab dan mempertahankannya dari situasi yang dialami untuk merealisasi sabda Rasul saw:

«أَنْتَ عَلَى ثَغْرَةٍ مِنْ ثُغَرِ الإِسْلَامِ فَلَا يُؤْتَيَنَّ مِنْ قِبَلِكَ»

"Engkau bertanggungjawab atas perbatasan di antara perbatasan Islam maka jangan sampai musuh bisa masuk dari sisimu".

Hal itu seperti seorang tentara di pertempuran, jika pembawa panji jatuh maka denagn cepat prajutir yang lain akan mengangkatnya supaya panji itu tetap tegak berkibar. Berkumpulnya umat di sekeliling negaranya, dan rasa tanggungjawab terhadapnya, dan desain yang indah untuk mempertahankannya yang sampai pada tingkat menjadikannya sebagai masalah yang menentukan hidup dan mati: Inilah yang membuat daulah Islam terus berlanjut meskipun ada banyak musuh.

Mantan presiden AS Richard Nixon dalam bukunya tahun 1992 “America and the Historical Opportunity” mengarahkan perhatian Barat dengan ucapannya: “Hanya ada dua elemen umum di dunia Islam: agama Islam, dan masalah kekacauan politik. Islam bukan hanya agama tetapi juga dasar peradaban besar. Kita berbicara tentang dunia Islam sebagai entitas tunggal, bukan karena ada pusat politik yang mengarahkan politiknya, tetapi karena bangsa-bangsa yang membentuknya berbagi arus politik dan budaya yang bersumber pada peradaban Islam. Pergerakan-pergerakan politik di berbagai negara di dunia Islam dilakukan menurut satu ritme terlepas dari perbedaan antara negara-negara ini. Kesatuan dalam keyakinan dan politik ini memberi solidaritas yang tidak solid tetapi nyata: ketika sebuah peristiwa berbahaya terjadi di bagian dunia Islam maka akan terdengar gema dukungan di seluruh bagian dunia Islam”.

14 – Ada fakta yang mengatakan: “bangsa-bangsa tidak bergerak kecuali digerakkan”. Dan berdasarkan itu, pelaksana negara yang baru tegak harus menggerakkan umat sekuat dan secepat mungkin. Sebelum tegaknya khilafah, media massa dan media untuk menggerakkan tidak ada di tangan para penyeru khilafah. Oleh karena itu, pengaruh mereka di bidang ini terbatas. Adapun ketika khilafah tegak dan sarana-sarana ini menjadi berada di tangan para pelaksana khilafah, maka hal wajib mengharuskan mereka untuk menggunakan sarana-sarana ini dan semua sarana untuk memobilisasi umat dan menggelorakan jiwa mereka. Sbab tidak ada waktu tidur atau istirahat setelah hari itu sampai Allah melakukan suatu urusan yang mesti dilakukan. Umat Islam dengan negaranya yang sedang bangkit berpacu melawan waktu.

15 – Ketika Amerika bersama sekutu dan agen-agennya melakukan intervensi secara militer untuk menghancurkan khilafah, maka perlawanan terhadapnya tidak hanya oleh tentara reguler saja, tetapi umat harus berpartisipasi dengan tentara reguler dalam memukul mundur agresi. Tentara reguler dan umat akan memerangi mereka dengan perang rakyat dan perang gerilya.

Imajinasi ini wajib bagi para punggawa daulah Khilafah untuk memulainya sejak detik khilafah berdiri sampai:

a- Memanggil semua orang di tengah umat yang mampu memanggul senjata untuk melatih mereka atas cara-cara perang rakyat dan perang gerilya, dan untuk menempatkan mereka di dalam daurah intensif dan cepat di mana di dalamnya mereka dipanaskan dengan keimanan, ide kesabaran, pengorbanan, mencari syahid dan tidak lari. Sebagaimana juga melatih mereka dalam berbagai cara dan senjata yang diperlukan untuk perang rakyat.

b- Mendistribusikan senjata kepada semua orang yang telah dilatih, dan bahwa setiap kelompok dihubungkan dengan seorang komandan dari para pemimpin populer.

c- Menundukkan seluruh tentara reguler ke daurah intelektual –keimanan- mencari ksyahidan, yang kuat dan cepat, sehingga membuat nafsiyah dan kesiapannya pada tingkat yang diperlukan oleh mujahidin mukmin.

d- Menyeru anak-anak umat yang tidak berada di bawah pemerintahan khilafah agar menjadi sukarelawan dan datang ke khilafah untuk mendapatkan pelatihan dan disiapkan guna melakukan aktivitas-aktivitas untuk menolong khilafah baik di dalam khilafah atau di tempat-tempat lain di dunia.

e- Melatih kelompok-kelompok yang memiliki kualifikasi yang tepat untuk dikerahkan segera di seluruh dunia islami dan di seluruh dunia untuk melakukan berbagai aktivitas tekanan yang sesuai untuk mendukung al-khilafah.

Dalam semua ini, daulah berpacu dengan waktu sebelum terjadinya intervensi militer oleh musuh.

16- Dalam atmosfer ini, perhatian dunia difokuskan pada al-khilafah dan sikap dunia terhadapnya. Perasaan Umat Islam di dunia akan bersama khilafah mereka dan mereka siap berkorban untuk mendukungnya. Ini mewajibkan khilafah memanfat dengan sebaik mungkin gelombang emosional Islami yang besar ini. Kita telah melihat reaksi keras Umat Islam ketika terjadi krisis kartun dari Denmark dan Prancis, dan berkobarnya kemarahan di dunia islami.  Dan ini tidak diragukan lagi mengancam kepentingan Barat di bagian dunia islami yang tidak diperkirakan oleh Barat.

17- Tidak dapat dibayangkan bahwa individu, gerakan atau kelompok di dalam daulah Islamiyah dapat bersikap netral dalam pertempuran menentukan antara Islam dan tidak kufur ini. Bahkan di luar daulah Islam pun sulit untuk terbayang adanya cendekiawan Muslim yang terang-terangan menampakkan subordinasi mereka ke Amerika atau agen-agen Amerika dan Barat, seperti yang terjadi selama Perang Teluk. Oleh karena itu, dan ketika Amerika dan sekutunya melihat sikap Umat Islam yang sama layaknya sikap satu orang dan siap mati dalam membela agama dan negaranya, Amerika bisa jadi beralih dari intervensi ke embargo ekonomi dan sejenisnya.  Tidak mudah untuk menerapkan blokade pada saat daulah Islamiyah mengendalikan sumber daya energi besar yang dibutuhkan oleh seluruh dunia. Dengan dmeikian, umat ini telah meraih kemenangan sebelum terjun ke pertempuran militer. Jika Amerika menunggangi kepala khilafah, maka khilafah tidak akan jatuh. Dan ketegaran umat akan mengalahkan negara-negara agresor dan mengalahkan agen-agen mereka yang coba mereka nobatkan. Umat tidak akan bekerjasama dengan agen manapun yang dinobatkan oleh kaum kafir sebagai penguasa untuk kaum Muslim. Sampai-sampai, para pengawal agen itu akan melikuidasi agen itu. Dan jika Amerika ingin menempatkan pasukannya sebagai pengawal, maka umat akan menangkap agen dan pengawalnya seperti memburu burung, dan orang-orang kafir pada akhirnya akan keluar dengan tertunduk.

18 – Sungguh berlangsung sunnah Allah Yang Mahakuasa, sunnah ilahiyah, Allah menolong orang yang menolong agama-Nya. Allah SWT telah menjanjikan, dan janji-Nya adalah hak, untuk menolong orang-orang mukmin dan memberikan kekuasaan kepada mereka serta meneguhkan agama-Nya. Dan siapa yang Allah menjadi penolongnya niscaya tidak ada yang bisa mengalahkannya!

﴿وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بِنَصْرِ اللَّهِ يَنصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ﴾

“Pada hari (kemenangan) itu, bergembiralah orang-orang yang berimak karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang” (TQS ar-Rum [30]: 4-5).[27]

Wallâh a’lam bi ash-shawâb. [vm]

Ditulis untuk Central Media Office Hizbut Tahrir




[1] Di Turki, misalnya, selama satu setengah dekade, hukuman penjara terhadap syabab Hizbut Tahrir totalnya 1.621 tahun penjara (lihat siaran pers) “Hukuman berat bagi syabab Hizbut Tahrir hanya akan meningkatkan iman dan penyerahan diri kepada Allah” Jumat, 08 Maret 2013.

[2] Mahmud Mumtaz.

[3] (Reuters) – Jajak pendapat secara luas yang baru, memperlihatkan bahwa mayoritas besar di dunia Muslim menginginkan agar syariah Islamiyah menjadi UU resmi di negara mereka. Islamis dan pemerintahan .. Melihat dari perspektif jajak pendapat.

[4]    https://news.gallup.com/poll/109072/Many-Turks-Iranians-Egyptians-Link-Sharia-Justice.aspx

[5]    https://news.gallup.com/poll/103129/Turks-Odds-Over-Islamic-Law.aspx

[6]    https://www.gallup.com/press/178982/muslims-democracy-theocracy.aspx

[7]    http://www.pewglobal.org

[8]    “Islamis dan pemerintahan … Pandangan dari sudut pandang survei –الإسلاميون والحكم.. رؤية من منظور استطلاعات الرأي”.

[9]    http://www.pewglobal.org/2012/07/10/chapter-3-role-of-islam-in-politics/

[10] http://www.pewforum.org/2013/04/30/the-worlds-muslims-religion-politics-society-beliefs-about-sharia/

[11] http://www.pewforum.org/2013/04/30/the-worlds-muslims-religion-politics-society-beliefs-about-sharia/

[12] http://www.pewforum.org/2013/04/30/the-worlds-muslims-religion-politics-society-beliefs-about-sharia/



[13] Misalnya, dengan judul “Eropa – perbedaan pendapat yang baru” surat kabar “Valeurs Actuelles” menerbitkan artikel berbahasa Prancis pada 19/11/90 yang berbicara tentang “Konferensi Keamanan dan Kerjasama di Eropa” dan perannya dalam menghadapi Islam. Di antara yang diungkapkan adalah ucapan dengan sangat gamblang bahwa “Konferensi Keamanan dan Kerjasama di Eropa (CSCE) adalah rancangan awal untuk persatuan Eropa-Amerika dari San Francisco ke Vladivostok, alat yang sesuai dengan abad ke-21 untuk melawan kebangkitan Asia dan Islam”.

[14] Tren opini publik di dunia Islam, Dr. Maher Abdul Jawad majalah al-Waie arab no. 93 Januari 1994 (اتجاه الرأي العام في العالم الإسلامي د. ماهر عبد الجواد، الوعي العدد 93 كانون الثاني 1994).

[15] Opini yang terpancar dari kesadaran tidak selalu berarti bahwa hal itu mendorong pemiliknya untuk mengembannya atau bahkan terikat dengannya. Tidakkah Anda melihat bahwa banyak orang yang sadar, mereka rela bersama dengan orang-orang yang tertinggal? Oleh karena itu, di sini tidak ditanyakan bahwa selama opini umum yang terpancar dari kesadaran umum telah terrealisir keberadaannya di tengah umat dan masyarakat secara riil, lalu kenapa umat tidak bergerak untuk menjatuhkan sistem kufur yang dipaksakan terhadap umat dan menegakkan Daulah al-Khilafah menggantikannya, dan mengapa umat tidak bergerak padahal umat menyaksikan para penguasanya bersegera untuk mengikat perjanjian penyerahan dan pemberian konsesi dari Palestina kepada musuh-musuh Allah yakni Yahudi?

Benar, hal itu tidak ditanyakan di sini, karena bergeraknya umat melakukan aktivitas yang menyebabkan terjadinya kudeta politik di masyarakat tidak lain hanya ketika umat mengadopsi agenda vital Islam sebagai agenda vital umat. Jadi topik “opini umum” berbeda dengan topik “pengadopsian agenda vital Islam” dan berbeda dengan topik “keterikatan umat untuk mengemban dakwah ke arah perealisasian agenda vital Islam”. Topik pertama (toik opini umum) menyangkut opini dan topik kedua, menyangkut pelaksanaan aktivitas. Hal itu sebagaimana aktivitas mengemban dakwah yang mengantarkan kepada terwujudnya opini juga berbeda dari aktivitas yang mengantarkan diadopsinya opini ini dan keterikatan untuk mengemban opini ini. “Tren Opini Umum di Dunia Islam, Dr. Maher Abdul Jawad, majalah al-Wa’ie arab No. 93 Januari 1994 (اتجاه الرأي العام في العالم الإسلامي د. ماهر عبد الجواد، الوعي العدد 93 كانون الثاني 1994).

[16] “Tren Opini Umum di Dunia Islam”, Dr. Maher Abdul Jawad, majalah al-Wa’ie arab no. 93 Januari 1994 (اتجاه الرأي العام في العالم الإسلامي د. ماهر عبد الجواد، الوعي العدد 93 كانون الثاني 1994.).

[17] “Apakah sudah tiba waktunya bagi Hizbut Tahrir untuk mengatakan pendapatnya?!! (هل حان الوقت ليقول حزب التحرير كلمته!!؟) Hassan al-Hassan, website Al Jazeera, dengan ringkasan.

[18] Pengantar buku: Sistem ekonomi dalam Islam (Nizhâm al-Iqtishâdî fî al-Islâm) karya al-‘allamah asy-syaikh Taqiyuddin an-Nabhani.

[19]          “Demokrasi, misalnya, tidak dipromosikan “sekarang” di negeri-negeri kaum Muslim dengan makna: Berikan kepada Kaisar apa yang menjadi milik Kaesar dan berikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan. Juga tidak dipromosikan dengan makna bahwa yang membuat hukum itu adalah manusia dan bukan Allah Yang Maha Kuasa. Melainkan, demokrasi dipromosikan di negeri-negeri kaum Muslim dengan arti menghilangkan hukum-hukum otorites yang dipaksakan oleh rezim polisi yang mencengkeram nasib kaum Muslim, dan dengan anggapan bahwa demokrasi itu adalah syura. Atas dasar hal itu, propaganda untuk mempromosikan dan memasarkan demokrasi di negeri kaum Muslim tidak lain secara lafazh tanpa makna hakiki yang ditunjukkannya. Berikutnya, penerimaan kaum Muslim terhadap istilah demokrasi, jika ada penerimaan itu, maka itu merupakan penerimaan untuk lafazh yang dikaitkan dengan konotasi islami, dan bukan yang lain”. (“Kecenderungan opini publik di dunia Islam”, Dr. Maher Abdul Jawad, majalah al-Wa’ie arab no. 93 Januari 1994 – اتجاه الرأي العام في العالم الإسلامي د. ماهر عبد الجواد، الوعي العدد 93 كانون الثاني 1994).

[20] “Ketahuilah Musuh Anda: Gagasan Pemerintahan Islam Akarnya Menjadi Kuat di tengah kaum Muslim”, majalah al-Wa’ie no. 234-235 (إعرف عدوك: فكرة الحكم الإسلام تتوطد عراها بين المسلمين، مجلة الوعي العدد 234-235).

[21] An Idea Whose Time Has Come؟ Patrick J. Buchanan

[22] Editorial Majalah al-Wa’ie arab no. 41 : Amerika takut kembalinya Islam ( كلمة الوعي: أمريكا ترتعب من الإسلام ).

[23] Perang Tiga Triliun Dollar, Beban Yang Sebenarnya Untuk Perang Irak, Joseph Stiglitz, hal. 11

[24] Biaya Selangit Perang Amerika di Afganistan, BBC, 23 Agustus 2017.

[25] The Mercenary Revolution: Flush with Profits from the Iraq War,

[26] The Iran Plans, Our Men in Iran؟, Iran And the Bomb, Shifting Targets, the next act, last stand.

[27] Diringkas dari “Sampai di mana Umat dalam perjalanan kembalinya al-Khilafah –أين وصلت الأمة في رحلة العودة إلى الخلافة؟– Majalah al-Wa’ie (arab) no. 75.

Belum ada Komentar untuk "Bagaimana Daulah Khilafah Menggagalkan Upaya Mengaborsinya Pada Saat Berdiri?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...