Sistem Demokrasi vs Sistem Islam, Manakah yang Lebih Manusiawi ?


Oleh : Mela Ummu Nafiz (Pemerhati Generasi)

Demokrasi mengajarkan jika kekuasaan adalah milik rakyat. Dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, demikian jargon yang seringkali diperdengarkan. Banyak pihak berharap demokrasi bisa mengantarkan pada kondisi damai aman tentram. Demokrasi bisa mengantarkan pada keadilan. 

Nyatanya, sistem demokrasi yang diciptakan oleh manusia sendiri seringkali kebingungan manakala menghadapi banyak masalah, berupa tuntutan keadilan oleh mayoritas masyarakat. Akhirnya konsep dasar demokrasi itu sendiri seringkali dilanggar oleh para pejuang dan pecinta demokrasi itu sendiri. Sebuah kewajaran, tersebab demokrasi adalah sebuah konsep sistem yang dikarang dan dibuat oleh hasil berpikir manusia semata yang memiliki banyak keterbatasan kemampuan dalam memahami hakekat permasalahan manusia. Karenanya banyak solusi yang salah yang ditawarkan oleh sistem demokrasi, solusi yang seringkali bertentangan dengan fitrah penciptaan manusia, tidak mampu memuaskan akal bahkan tidak bisa memberi ketentraman pada jiwa manusia.

Lihatlah berapa banyak kasus hukum yang lolos akibat penerapan konsep demokrasi. Ketika suara mayoritas menginginkan lokalisasi sebagai solusi maraknya pergaulan bebas, maka akan dibuatlah lokalisasi legal, dimana aktivitas kemaksiatan dan sumber berbagai macam tindak kejahatan tersebut direstui oleh demokrasi atas dasar hasil voting suara mayoritas. Maka tidaklah heran jika didalam sebuah negeri yang diatur oleh sistem demokrasi pergaulan bebas akan tetap tumbuh subur, bisnis narkoba dan berbagai macam candu berbentuk pornografi dan pornoaksi akan tetap eksis, selama suara mayoritas masih menginginkannya. Entah karena alasan kemanusiaan ataupun motif ekonomi dan pajak pendapatan. Semua hal yang haram akan baik-baik saja dijalankan, tanpa beban salah dan dosa. Semua berlindung dibawah kata magic demokrasi, suara terbanyak, suara rakyat.

Demokrasi akan memberikan banyaknya peluang lepasnya aset-aset vital milik negara dan masyarakat, jika mayoritas suara menginginkannya. Padahal melepaskan sejumlah aset vital milik negara dan masyarakat akan berpeluang meruntuhkan kemandirian dan kedaulatan negara dan menjebak negara dalam kubangan lilitan utang. Fakta hari ini membuktikannya, negara terjebak dalam lilitan utang yang sulit untuk dilunasi.

Maka adalah wajar jika sebagian kalangan memberi label demokrasi sebagai sistem kufur, tersebab demokrasi dapat memberi restu terhadap berbagai macam jenis aktivitas kekufuran. Yaitu aktivitas yang mampu menjauhkan manusia dari rasa syukur sebagai manusia dan aktivitas yang mampu membuat manusia kufur dan mengingkari eksistensi kemanusiaannya yang butuh diatur oleh pencipta manusia, Allah SWT, Tuhan semesta alam.

Karenanya adalah wajar jika demokrasi sistem kufur wajib dikubur, artinya demokrasi sebagai biang kerok timbulnya berbagai macam aktivitas kemaksiatan sudah saatnya dihilangkan, dikubur dan tidak dijadikan sebagai sistem hidup.

Jika demokrasi adalah sistem kufur, maka tentu ada sistem yang tidak kufur, sistem yang baik yang dapat mengantarkan kebaikan. Sistem itu adalah sistem Islam. 

Sekilas banyak pihak yang menyamakan antara sistem demokrasi dengan sistem Islam, utamanya dilihat dari konsep musyawarah untuk mufakat. Padahal sejatinya musyawarah dalam sistem demokrasi dengan sistem Islam sangatlah jauh berbeda.

Musyawarah dalam sistem demokrasi adalah musyawarah untuk segala macam urusan. Termasuk urusan halal dan haram. Karenanya, musyawarah dalam sistem demokrasi akan memberi peluang yang halal bisa jadi haram, yang haram bisa jadi halal, tergantung berapa mayoritas suara menginginkannya. Yang penting semuanya mufakat, urusan halal-haram urusan belakangan.

Sedangkan musyawarah untuk mufakat dalam sistem Islam, hanya berkaitan dengan memusyawarahkan hal-hal mubah yang bersifat teknis. Tidak memusyawarahkan hal-hal yang sudah jelas kehalalan dan keharaman suatu urusan. Maka dalam sistem Islam, tidak akan ada musyawarah tentang perlu ada atau tidaknya lokalisasi perjudian dan yang sejenisnya. Sistem Islam hanya akan memusyawarahkan hal-hal yang bersifat teknis terkait dengan pelaksanaan hal-hal yang diwajibkan oleh syariat, misalkan tentang teknis pemberian subsidi untuk rakyat dan yang sejenisnya. Sistem Islam tidak akan menggelar musyawarah untuk menjual aset milik negara dan masyarakat, tersebab menjual aset milik negara dan masyarakat adalah haram.

Maka, sangatlah jelas perbedaan antara sistem demokrasi dan sistem Islam. Walaupun dalam kedua sistem yang berbeda tadi dikenal konsep musyawarah untuk mufakat. Tersebab asas dasar digelarnya musyawarah untuk mufakatnya sangat berbeda.

Jikapun ada sebagian kalangan yang tetap ngotot bahwa demokrasi itu sistem modern. Maka cukuplah direnungkan, tentang sejarah lahirnya demokrasi, jika demokrasi lahir dari rasa ketidakpuasan masyarakat Barat terhadap tata nilai kediktatoran, kerajaan, kasta dan dinasti yang penuh kezaliman, yang mereka menuntut persamaan yang sebetulnya sangatlah sulit untuk dipenuhi dari tata nilai demokrasi yang mereka karang-karang sendiri. Karena fakta kehidupan hari ini menjadi bukti keutopiaannya dalam meraih persamaan yang diidam-idamkan. Jauh panggang dari api.

Maka berkaca dari realitas fakta kehidupan yang terjadi dalam tutur sejarah. Hanya sistem Islam sajalah yang mampu memenuhi segala rasa yang diinginkan oleh manusia. Islam telah merealisasikan persamaan hak diantara manusia. Sebagai contoh bagaimana Islam dan sistemnya mampu dengan elegan memerdekakan para budak, hingga mampu duduk sejajar dengan dengan para sahabat Rasul SAW yang dari lahirnya berasal dari keturunan bangsawan dan manusia merdeka. Sebut saja Bilal bin Rabah ra sang mantan budak yang dimerdekakan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, yang kedudukannya mampu disejajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dengan sahabat Rasul SAW sekelas  Abu Bakar Ash-Ashshiddiq ra dan yang lainnya karena ketaqwaannya.

Maka, memang sudah saatnya manusia mengubur demokrasi sistem kufur, yang sangat menyesatkan, menyesakkan dan membuat sempit kehidupan manusia. Dan beralih ke sistem Islam yang ajarannya pasti akan selalu sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan jiwa. Wallahualam. [vm]

Belum ada Komentar untuk "Sistem Demokrasi vs Sistem Islam, Manakah yang Lebih Manusiawi ?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...