Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lisanmu Adalah Surgamu atau Nerakamu


Oleh: Muzayyanah (Indramayu)

Lisan atau kemampuan bicara adalah salah satu anugerah Allah untuk manusia. Dengannya manusia bisa berkomunikasi dengan sesamanya. Menyampaikan gagasan, maksud, atau apapun yang diinginkan.

Namun manusia perlu waspada. Lisan ini selain bisa mendatangkan kebaikan baginya, ia bisa mendatangkan bahaya bagi manusia. Lisan bisa mendatangkan kegembiraan, kehangatan, suka cita. Tapi juga bisa mendatangkan malapetaka. Lisan bisa menghasilkan kedamaian, pun juga permusuhan. 

Dengan lisannya manusia bisa menyampaikan nasihat. Mengajarkan ilmu yang dimilikinya. Karena lisan, manusia bisa melantunkan ayat-ayat suci kalam Ilahi. Dengan lisan pula seorang ibu bisa mendongeng untuk anak-anaknya, mengenalkan Sang Pencipta pada buah hatinya, menanamkan nilai-nilai luhur sesuai tuntunan Rabbnya. Yah, banyak kebaikan diraih melalui lisannya.

Tapi, dari lisan juga bisa dihasilkan beragam keburukan. Tak sedikit terjadi tawuran antar remaja misalnya, gara-gara lisan. Ucapan saling ejek, bahkan awalnya bercanda. Ucapan yang awalnya dimaksudkan candaan, jika salah satu pihak tak terima, berubah jadi permusuhan.

Berbagai penipuan, bisa juga diawali dengan terpikat lisan. Janji-janji menggiurkan yang ternyata hanya pepesan kosong. Bujuk rayu yang menipu. Bersilat lidah yang ujungnya ingkar janji. Bahkan sampai berani bersilat lidah demi manipulasi ayat-ayat suci Sang Ilahi.

Kata orang, lidah tak bertulang. Sehingga mudah diputar-putar, dibolak-balik hingga tercipta ucapan, ujaran, mantra-mantra, rayuan, gombalan, pujian, cacian, makian dst. Awalnya memuji akhirnya mencaci. Depannya rayuan ujungnya ingkar janji. 

Maka waspadalah terhadap bahaya lisan. Ia bisa mengantar manusia ke surga, atau malah ke neraka. 

Islam sebagai suatu jalan hidup yang berasal dari Allah Sang Pencipta dan Pengatur, telah menjelaskan kepada manusia bagaimana memperlakukan lisannya.

Beberapa tuntunan berkaitan dengan lisan antara lain: Pertama, perintah untuk berkata yang baik-baik saja, bila tidak bisa, diam itu lebih baik. Hadits Rasulullah menyatakan:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”

 Kedua, memperingatkan bahwa setiap ucapan dan tindakan manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah kelak di yaumil hisab. 

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Isra': 36)

Ketiga, sebaik-baik ucapan adalah menyeru ke jalan Allah. 

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Fushshilat: 33)

Keempat, menggunakan lisan untuk mencegah kemungkaran. 
Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, "Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman." (HR. Muslim)

Kelima, menghiasi lisan dengan dzikrullah.
"Ada dua orang Arab (badui) mendatangi Rasulullah SAW, lantas salah satu dari mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, manusia bagaimanakah yang baik?" "Yang panjang umurnya dan baik amalannya", jawab beliau. Salah satunya lagi bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam amat banyak. Perintahkan padaku suatu amalan yang bisa kubergantung padanya." "Hendaklah lisanmu selalu basah untuk berdzikir kepada Allah", jawab beliau. (HR. Ahmad)

Maka sebagai seorang muslim cukuplah baginya ayat-ayat Allah dan sunnah Rasulullah menjadi panduan dalam setiap urusan hidup. Yang akan memandunya meniti jalan menuju surga-Nya. Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar untuk "Lisanmu Adalah Surgamu atau Nerakamu"