Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lockdown Berat Karena Ekonomi Lokal Lemah


Oleh : Arief Shidiq

Lockdown mungkin jadi pilihan terbaik untuk meminimalisir masuknya pembawa virus baru. Beberapa negara yang asli maju sudah melakukan kebijakan tersebut. Tapi tampaknya berat untuk kelas “negara maju fresh graduate”, alasan utamanya pasti ekonomi, ketahanan ekonomi nasionalnya belum sanggup berdikari walau cuma untuk beberapa pekan. Padahal antara negara yang asli maju dan “negara maju fresh graduate” ekonominya sama-sama berbasis industrialisasi dan modal alias negara kapitalis.

Perbedaan dua negara kapitalis beda kasta ini ada pada cadangan keuangan negara dan pendapatan warganya, apakah cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok dan masih ada sisa pendapatan untuk ditabung?. Saat datang situasi genting dan harus melakukan lockdown, warganya masih punya simpanan untuk bertahan beberapa pekan atau beberapa bulan?. Negaranya kuat meng-backup sampai berapa lama?.

Dengan basis industrialisasi dan modal, stabilnya kondisi ekonomi bisa diukur dengan lancarnya produksi yang dilakoni oleh segelintir elit, dan warga negara secara umum terserap menjadi tenaga kerjanya. Kedua indikator ini membuat baik elit maupun warga umum bisa punya penghasilan, punya daya beli, dan bisa bayar pajak untuk perputaran ekonomi. Siklus ekonomi kapitalis seperti ini sangat rentan untuk negara dengan ketahanan nasional yang lemah, gampang ambruk kalau tiba-tiba situasi genting seperti wabah pandemi sekarang ini. Untuk urusan makanan pokok saja sudah masuk daftar komoditi industri, untuk mendapatkannya harus dengan membeli.

Bukan cuma soal makanan, hampir semua kebutuhan warga negara hari ini tersedia dari hasil produksi industri. Ini potret siklus ekonomi kapitalis yang berpusat pada produksi yang dilakukan oleh hanya segelintir elit. Warga secara umum cuma kebagian kesempatan punya daya beli bukan punya daya produksi kebutuhan secara mandiri. Ini bisa terjadi karena sebab yang kompleks, diantaranya karena distribusi negara atas faktor-faktor produksi seperti kepemilikan tanah yang tidak adil dan merata, akses pendidikan yang mahal dan budaya ekonomi yang tidak mandiri dengan menjadi pekerja.

Ketahanan lokal akan berdampak pada ketahanan nasional. Potensi lokal tiap daerah akan maksimal bermanfaat jika terintegrasi dengan kegiatan ekonomi. Potensi lokal yang utama adalah berupa tanaman pangan lokal dan sumber energi lokal. Tidak perlu politik beras untuk menyeragamkan komoditi konsumsi di daerah-daerah yang tanaman lokalnya bukan beras. Jangan paksa orang yang makan sagu, jagung, ubi, singkong untuk makan beras. Maka negara bisa memberi akses rumah sekaligus tanah yang cukup, pendidikan pertanian yang memadai dan kebijakan yang mendorong warga menanam tanaman pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan pokok juga sebagai sumber penghasilan, bukan sawit.

Bagi yang tidak ingin menjalani profesi petani tetap didorong memanfaatkan tanah pekarangannya untuk menanam tanaman pangan atau obat. Siapa saja individu yang mampu mengelola tanah maka punya hak atas tanah itu, ini senada dengan hadits riwayat Bukhari tentang ketetapan Rasulullah SAW atas kepelikan tanah bagi individu yang bisa menghidupkan tanah mati.

Untuk kebutuhan energi jangan lagi ada indutrialisasi energi dan monopoli perusahaan-perusahaan listrik swasta terlebih asing yang dimiliki elit kroni penguasa. Kembalikan sumber energi kepada potensi lokal daerahnya seperti matahari, angin dan air. Negara bisa memberi kredit ringan tanpa bunga untuk setiap warga yang mau memiliki panel surya yang daerahnya kaya dengan sinar matahari. Negara bisa mengkreasi teknologi kincir angin pembangkit listrik dan generator mikrohidro untuk skala satu kampung atau satu desa yang dilimpahi angin atau aliran air. Intinya kembalikan kegiatan ekonomi pada potensi lokal untuk kemandirian dan daya tahan warga menghadapi krisis. Ini bisa meminimalisir mendapatkan kebutuhan dengan cara membeli. Negara cukup mendistribusikan fasilitas penunjangnya dan membuat kebijakan yang tidak pro pada pemodal.

Tapi ketahanan negara kembali pada keberpihakannya. Negara berdiri untuk memperkaya elit kroni atau menguatkan ekonomi warga negara. Kehidupan bisa lurus dan baik jika penguasanya bertaqwa dan bisa membuat rakyatnya juga mau ikut bertaqwa.[www.visimuslim.org]

Posting Komentar untuk "Lockdown Berat Karena Ekonomi Lokal Lemah"