Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Waduh, Definisi New Normal Jokowi Berbeda dengan Profesor Hermanto J Siregar


Jakarta, Visi Muslim- Perbedaan definisi new normal antara pemerintah dengan kalangan akademisi terlihat dari berbedanya pandangan antara Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dengan Profesor Hermanto J Siregar.

Dalam paparannya, Profesor Hermanto J Siregar yang merupakan Profesir Ekonomi IPB menjelaskan new normal merupakan titik keseimbangan baru dalam kurva pandemi covid-19.

Titik keseimbangan yang dipaparkannya muncul ketika kurva pandemi covid-19 mencapai puncaknya dan menurun.

Sehingga membentuk garis sejajar dengan garis normal sebelum covid-19 mewabah di Indonesia.

Namun, berbeda dengan Profesor Hermanto J Siregar, pemerintah justru menyimpulkan new normal merupakan upaya penyelamatan ekonomi sekaligus pencegahan penyebaran virus corona.

Sehingga, sejalan dengan membaiknya roda perekonomian, kurva pandemi covid-19 di Indonesia pun semakin menurun.

Turunkan Kurva

Harapan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang meminta jajarannya untuk melakukan sosialisasi secara masif mengenai new normal di tengah pandemi Covid-19.

"Saya minta protokol beradaptasi dengan tatanan normal baru yang sudah disiapkan oleh Kemenkes ini disosialisasikan secara masif kepada masyarakat," kata Jokowi dikutip dari Kompas.com pada Rabu (27/5/2020).

Jokowi menyebutkan, sosialisasi yang masif akan membuat masyarakat lebih memahami apa yang harus dilakukan saat beraktivitas di luar rumah.

Misalnya, mulai dari menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, hingga soal larangan berkerumun.

Hal itu untuk menghindari penularan virus corona atau Covid-19.

"Kalau sosialisasi ini betul-betul bisa kita lakukan secara masif, saya yakin kurva betul-betul bisa kita turunkan. Dan ini sudah kita lihat di beberapa provinsi bisa kita kerjakan," kata Jokowi.

Sementara itu, menurut Jokowi, pemerintah akan menempatkan personel TNI dan Polri di tempat-tempat umum.

Hal itu untuk memastikan masyarakat mengikuti protokol kesehatan dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Untuk saat ini, gelar pasukan dilakukan di 4 provinsi dan 25 kabupaten/kota.

Namun, menurut Jokowi, nantinya jumlah wilayah yang menerapkan new normal bisa bertambah.

Adapun penerapan new normal ini dilakukan agar masyarakat bisa tetap produktif, tetapi aman dari Covid-19.

New Normal Versi Profesor Ekonomi Universitas IPB Hermanto J Siregar

New Normal yang disampaikan Jokowi dibantah oleh Profesor Ekonomi Universitas IPB Hermanto J Siregar.

Menurutnya, Indonesia kini belum dapat dikatakan new normal, sebab kurva tren kasus positif virus corona atau covid-19 masih terus meninggi.

Hal tersebut diungkapkan Hermanto J Siregar lewat status twitternya @hermantoregar; pada Selasa (26/5/2020).

Dalam postingannya, Hermanto J Siregar menggambarkan secara sederhana definisi new normal dalam pandemi.

Dirinya menggambarkan sebuah kurva yang sebelumnya menggambarkan kondisi Indonesia normal tanpa virus corona.

Selanjutnya, garis horizontal yang dinamakan garis normal itu berubah menjadi diagonal seiring dengan temuan adanya kasus virus corona di Indonesia.

Garis tersebut diungkapkannya menggambarkan pertambahan jumlah kasus virus corona di Indonesia.

"Kita jelasin pengertian new normal ya, dengan bantuan grafik di mana sumbu datar ini adalah waktu, sumbu tegak ini adalah kasus positif," papar Hermanto J Siregar.

"Sebelum adanya covid, yaitu waktu sama dengan nol, kita berada di situasi normal, karena tidak ada yang positif kena covid. Jadi gambarnya adalah garis horizontal seperti ini," tambahnya.

"Kemudian, masuk corona ke Indonesia, ada yang positif, ini mulai naik nih," ungkapnya menggambarkan garis diagonal sejajar dengan kasus positif covid-19.

Seiring dengan bertambahnya kasus positif virus corona di Indonesia, garis diagonal tesebut terus naik hingga mencapai titik tertinggi dan kemudian melambat.

Puncak dari kurva atau delta tersebut katanya akan menjadi puncak pandemi di Indonesia.

Selanjutnya, apabila telah mengalami pelambatan, kurva akan menurun khingga mencapai garis new normal.

"Naik secara eksponensial, saat ini kasus positif itu juga masih eksponensial seperti ini. Sampai nanti suatu saat diharapkan dia akan melambat pertambahan atau deltanya mencapai titik maksimum di sini, lalu dia menurun," ungkap Hermanto J Siregar.

"Kalau kurvanya itu sudah menurun, artinya pertambahannya (kasus) itu makin lama makin kecil, sehingga katakanlah di sini (titik tertentu) dia melandai," paparnya.

"Kalau di sini dia sudah melandai, tetapi dia tidak sampai pada sumbu horizontal (titik normal), inilah yang kita sebut sebagai new normal," jelasnya menggambarkan garis horizontal beda tinggi yang sejajar dengan garis normal sebelum adanya covid-19.

Garis new normal tersebut katanya berbeda dengan garis normal sebelum adanya covid-19.

Walau masih ditemukannya ada kasus covid-19 baru, kurva katanya tidak naik dan cenderung melandai.

"Sebab apa? Sebab normalnya itu adalah tidak adanya covid, setelah adanya covid kita ke sini (new normal), cuma jumlah kasus barunya sudah tidak ada lagi," jelas Hermanto J Siregar.

"Ada yang terkena positif, tapi jumlahnya tertentu, makanya di sini dia horizontal sejajar dengan garis normal (awal)," tambahnya.

"Posisi kita saat ini kira-kira masih di sini," ungkapnya menggoreskan titik sebelum puncak kasus virus corona.

"Jadi bila kita dikatakan sudah new normal itu belum pas, kita akan bisa new normal kalau kita sudah mencapai posisi di sini (garis new normal)," tutupnya diakhir tayangan. [] Sumber: Tribunnews

Posting Komentar untuk "Waduh, Definisi New Normal Jokowi Berbeda dengan Profesor Hermanto J Siregar"