Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ancaman Pandemi Flu Babi, Dunia Butuh Islam sebagai Solusi



Oleh : dr. Ifa Mufida (Praktisi Kesehatan dan Pemerhati Kabijakan Publik)


Sebuah jurnal ilmiah yang diterbitkan PNAS (Proceedings of the National Academy of Science) pada tanggal 29 Juni 2020 cukup mengejutkan dunia. Jurnal ini berjudul "Prevalent Eurasian Avian-Like H1N1 Swine Influenza Virus with 2009 Pandemic Viral Genes Vacilitating Human Infection". Para ilmuwan China melalui jurnal ini mengingatkan dunia akan adanya ancaman flu babi sebagai pandemi baru. Diketahui,  flu babi merupakan virus H1N1 jenis baru yakni virus G4 EA H1N1.  Jurnal tersebut juga menyebutkan alasan kuat mengapa virus ini sangat berpotensi menimbulkan pandemi baru.

Beberapa hari sesudahnya, Cina merespon temuan para peneliti tersebut. Cina mengatakan penelitian itu tidak representatif. Dilansir dari AFP, Kementerian Luar Negeri Cina bergerak cepat untuk meredam kekhawatiran tersebut.  Padahal berdasarkan penelitian, 10,4 persen orang yang bekerja di peternakan babi sudah terinfeksi flu tersebut. Hal ini yang menjadi benang  merah para ilmuwan yang menyerukan kepada dunia untuk segera bergerak. Salah satunya adalah Prof Kin-Chow Chang yang menyampaikan responnya kepada BBC (CNNindonesia.com).

Belajar dari Pandemi Sebelumnya

Harusnya dunia mau belajar, bagaimana virus H1N1 pernah menorehkan catatan kelam bagi umat manusia. Tahun 2009, H1N1 telah menyebabkan  pandemi yang menewaskan 575.400 orang di seluruh dunia. Begitu juga flu Spanyol adalah masih strain dari H1N1. Sejarah mencatat flu spanyol tahun 1918 telah menginfeksi 500 juta orang di seluruh dunia dan menewaskan kurang lebih 50 juta korban. Dalam riset jurnalis BBC World Service Fernando Duarte menuliskan bahwa flu spanyol menelan korban lebih banyak orang daripada Perang Dunia I. 

Belajar dari potret bahwa H1N1 memiliki potensi menjadi pandemi yang cukup besar, harusnya dunia mau waspada sedari awal. Semua tak menginginkan ada pandemi baru, terlebih pandemi covid-19 saja belum berlalu. Masih menjadi ancaman dan belum menunjukkan tanda berakhir. Di awal muncul wabah corona, lembaga otoritas kesehatan dunia juga menunjukkan sikap yang begitu nyantai. Terlalu memandang remeh virus corona. Padahal, para ilmuwan sudah mengingatkan sedari awal berkenaan dengan ancaman pandemi karena virus corona. WHO juga tidak mengambil keputusan Lockdown sebagai langkah strategis mencegah penyabaran covid-19. Di awal muncul wabah, jalur penerbangan dari berbagai negara ke Cina yang saat itu sebagai episentrum juga masih dilonggarkan. 

Hingga akhirnya, virus ini menyebar ke seluruh dunia. Status pandemi pun ditetapkan.  Tak ada satupun negara yang luput dari perang melawan virus corona. Bahkan, negara sebesar USA pun dibuat tak berdaya. Hingga kini, virus ini masih menjadi ancaman nyata. Belum juga grafik pendemi melandai sebagai tanda akan berakhirnya pandemi, ternyata PBB justru menghimbau untuk memberlakukan "new normal". 

"New normal" sebagai kebijakan prematur akhinya dipaksakan. Sebuah kebijakan yang sejatinya adalah tanda bahwa dunia menyerah menghadapi wabah. Karena mereka sedang dikejar ancaman lain yakni resesi perekonomian dunia. Alhasil, dunia saat ini semakin pontang-panting. "New Normal" yang abnormal akhinya semakin banyak menjatuhkan korban, termasuk di Indonesia. Lonjakan jumlah pasien pun tak bisa dihindarkan.

Kapitalisme  Gagal Menanggulangi Pandemi

Kapitalisme-sekuler memandang terlalu murah nyawa manusia. Karena secara konsep, ideologi ini sejatinya tidak menjamin perlindungan terhadap jiwa manusia, berikut kerusakan yang mengancamnya. Semua dikembalikan kepada Hak Asasi Manusia (HAM). Begitu juga negara yang menerapkan ideologi ini tidak pernah menempatkan diri sebagai periayah bagi rakyatnya. 

Pemerintah dalam negara kapitalis bahkan tidak pernah menjamin kebutuhan pokok rakyatnya individu per individu. Hal ini pula yang menjadikan negara enggan menerapkan lockdown ketika terjadi wabah. Tersebab, ketika negara menetapkan lockdown maka negara yang harus menjamin kebutuhan pokok masyarakat di daerah yang diberlakukan karantina. Mereka lebih takut kehilangan harta negara untuk mengurusi rakyat dibandingkan untuk menyelamatkan para pengusaha besar dari kerugian akibat wabah.

Hal ini, sudah menjadi keniscayaan. Bahkan para ahli kesehatan dan epidemiologi tak diberi ruang. Selain itu, lembaga otoritas terpercaya yang ditempatkan sebagai rujukan permasalahan dunia, nyatanya tidak mampu untuk menangani wabah. Mereka adalah Lembaga Kesehatan Dunia World Health Organization (WHO) dan lembaga dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mereka berkilah memiliki instrumen politik untuk menanggulangi wabah. Sebut saja International Health Regulation 2005 (IHR-2005). Namun, rumusan itu nyata telah gagal membendung penyebaran penyakit secara global.

Inilah bukti, bahwa sebuah konsep yang terlahir dari hawa nafsu pikiran manusia tidak akan pernah bisa menjadi solusi problematika. Tersebab, mereka telah mencampur aduk antara aspek kebenaran sains-ilmu kedokteran dan aspek batil ideologi sekularisme-kapitalisme. Maka, pertimbangan ideologi mereka akhirnya lebih diutamakan. Kapital pun akhirnya bertahta di atas setiap keputusan. Hingga nyawa manusia mereka korbankan.

Otoritas Islam sebagai Solusi

Tidak ada keraguan bahwa peradaban Islam pernah berjaya di dunia selama hampir 14 abad lamanya. Di sepanjang sejarah, Islam telah menorehkan tinta emas keberhasilannya di dalam menanggulangi segala macam problematika. Termasuk ketika wabah melanda negeri adidaya ini. Sejarah mencatat dengan tinta emasnya bagaimana Islam sukses menangani sebuah pandemi. 

Setidaknya ada tiga wabah yang cukup besar melanda khilafah Islam. Wabah tersebut adalah wabah Tha'un di masa Khalifah Umar bin Khattab, wabah pes  dan smallpox di masa kekhilafahan Turki Utsmani. Dalam penggalan masa tersebut, Islam dengan kesempurnaan ajaranya dipakai sebagai rujukan untuk menanggulangi wabah. Konsep tersebut berasal dari sumber hukum Islam. 

Sebuah konsep yang bersumber dari ideologi Islam. Sebuah ideologi yang hadir untuk menjaga jiwa manusia, sebagai rahmat bagi seluruh alam. Di dalam Islam, nyawa manusia ditempatkan dengan penghargaan tertinggi. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (TQS Al Maidah [5]:3).  Begitu juga di dalam hadist Rasulullah Saw, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR Nasa’i).

Dengan dasar ini, maka Islam akan mengupayakan segala upaya agar wabah tidak menyebabkan korban yang banyak. Jika ada wabah, Islam menuntun untuk melakukan Lockdown secara cepat. Hal tersebut ditegaskan oleh Rasulullah saw, “Apabila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.” (HR Imam Muslim).

Setelah ada karantina wilayah episentrum munculnya wabah, maka Islam akan melakukan isolasi terhadap mereka yang sakit dengan perawatan yang optimal. Sebagaimama sabda Rasulullah saw, “Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menular mendekati yang sehat.”(HR Imam Bukhari). Begitu juga upaya memberikan pengobatan yang terbaik. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan diadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya maka berobatlah kamu, tetapi janganlah berobat dengan yang haram.”

Begitu juga, Islam akan menjamin orang yang terdampak di dalam wilayah yang ditetapkan Lockdown. Karena konsep Islam, negara harus menjamin kebutuhan pokok rakyat individu per individu. Hal ini wajib untuk dipastikan oleh penguasa, ada atau tidak adanya wabah. Pengobatan untuk pasien juga diberikan secara gratis, diambilkan dari dana baitulmal yang bersifat mutlak. Selain itu, negara akan mendorong adanya riset untuk menemukan obat untuk terapi preventif (vaksinasi) ataupun yang bersifat kuratif. Dorongan ini untuk umat manusia, bukan untuk kapitalisasi perusahaan swasta, sebagaimama era kapitalisme sekarang.

Dengan demikian, konsep "trace, test, dan treat" bukanlah sekedar konsep kosong seperti saat ini. Konsep yang akhirnya dikalahkan dengan berbagai kepentingan. Maka, hadirnya otoritas Islam dalam sebuah khilafah adalah menjadi kebutuhan yang mendesak bagi umat manusia. Tersebab, kerusakan akibat kapitalisme-sekuler telah nyata membuat dunia ini berada di ambang kehancuran. Semoga, Islam segera hadir untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, untuk menjadi solusi terhadap segala problematika. Hadanallahu wa iyyakum.

Posting Komentar untuk "Ancaman Pandemi Flu Babi, Dunia Butuh Islam sebagai Solusi"