Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Khilafah Solusi Pandemi dan Krisis Multidimensi



Oleh: Anggun Mustanir

Hanya dalam hitungan bulan, covid-19 sukses melumpuhkan dunia, termasuk Indonesia. Tidak hanya menyerang kesehatan masyarakat, sektor ekonomi dibuat lesu tidak berdaya. Semua upaya telah dilakukan, namun sampai saat ini belum tampak tanda-tanda virus mematikan itu angkat kaki dari bumi para wali. 

Menurut kepala ekonom CIMB Niaga, Adrian Panggabean bahwa krisis ekonomi global yang terjadi saat ini memiliki karakteristik yang berbeda jika dibandingkan krisis 1997-1998 maupun krisis ekonomi 2008. Dia menuturkan, Solusi global diperlukan guna mengatasi krisis ekonomi  2020 yang terjadi akibat pandemi covid-19. (Republika.co.id., 27 April 2020) 

Berdasarkan catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), vaksin untuk menangani pandemi covid-19 diperkirakan baru bisa dilakukan 12-18 bulan ke depan. Artinya, solusi paripurna terhadap krisis ekonomi sekarang baru akan terjadi pada pertengahan 2021 atau pertengahan tahun depan. Terjadinya polarisasi di dunia seperti terjadinya persaingan antara Rusia dengan OPEC, rivalitas antara China dan Amerika Serikat, Eropa versus Eropa,  negara kaya dan negara miskin membuat penyelesaian pandemi cukup terkendala. (Republika.co.id., 27 April 2020) 

Kewalahan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan para penguasa menghadapi serangan covid-19. Kelalaian dan sikap meremehkan di awal pandemi membuat kondisi rakyat semakin semrawut. Ketidaksiapan sangat terlihat dari gagapnya pemerintah merespon laju kontaminasi yang kian tidak terbendung.

Para penguasa yang sebagian besar menghamba pada sistem sekuler kapitalis dan sosial kapitalis seolah kehabisan akal. Mereka mengambinghitamkan sektor ekonomi atas segala kebijakan salah kaprah yang diambil. Padahal, sejak sebelum corona datang, kondisi perekonomian dunia sudah terpuruk. Tentunya semua disebabkan sistem ekonomi ribawi yang kian menggurita. 

Selama hampir 6 bulan, makin tampak  betapa sistem politik, ekonomi dan kesehatan yang berjalan di berbagai negara gagal untuk segera mengatasi pandemi. Gali lobang tutup lubang, jual aset sana-sini mewarnai berita baik cetak maupun elektronik. Pemerintah saat ini melebarkan batas defisit anggaran tahun berjalan di 2020 ini hingga mencapai 5,07% dari produk domestik bruto (PDB), atau setara dengan Rp 853 triliun, (Warta kota, 2/5/2020). Pelonggaran defisit ini sebagai dalih merupakan solusi pemerintah dalam menanggulangi dampak corona yang menyasar perekonomian dalam negeri.

Kebijakan inkonsistensi juga mendominasi aturan untuk menyudahi masa pagebluk. Bahkan, dari aturan yang berubah-ubah itu rakyatlah yang dibuat bingung dan menjadi korban. Fakta di lapangan, pemerintah melakukan pelonggaran PSBB dan membuka fasilitas publik seperti Mall dan pusat rekreasi. Tapi, di jalan raya banyak pengendara yang dirugikan karena harus putar balik atau putar arah. Beberapa dianggap melanggar yang berujung pada pemberian sanksi. 

Pastinya penguasa yang minim iman dan takwa seperti tidak punya pegangan untuk berjalan maju. Kepercayaan diri dan keadaan baik yang ditampilkan, tidak lebih karena hasil gencarnya pencitraan. Tentunya, penguasa model seperti ini lahir dari sistem rusak sekuler kapitalisme. Sistem ini mencetak pemimpin berwatak "matre". Kekuasaan tidak dipandang sebagai amanah tapi aji mumpung memperbaiki nasib. Kebijakan yang diambil tidak pro rakyat, malah menyusahkan. Tidak heran, sudah setengah tahun berlalu tapi pandemi belum juga bisa diatasi. 

Sesungguhnya, andai saja penguasa mau mendengar dan duduk bersama menyesaikan segala problematika negeri. Tentu, jalan keluar terbaik adalah menyadari kebutuhan terhadap sistem alternatif. Bagi muslim adalah dengan kembali pada sistem yang berasal dari ilahi Rabbi. Sistem Khilafah Islamiyyah.

Sayangnya, kala pandemi seperti saat ini masih ada saja orang-orang yang menyebarkan narasi sesat dan jahat. Khilafah dianggap sebagai ancaman. Khilafah dituturkan sebagai pemecah belah. Padahal, sejarah telah menorehkan tinta emas. Khilafah telah mampu menyatukan kaum muslimin, berpijak gagah memimpin peradaban selama 13 abad. Sistem khilafah sejatinya adalah solusi pandemi yang sedang melanda negeri dan krisis multidimensi buah dari penerapan sistem sekuler demokrasi kapitalis. 

Sistem khilafah adalah perwujudan nyata berlakunya sistem ilahi. Memperjuangkan tegaknya adalah jalan menjemput pertolongan Allah. Semua aturan di dalamnya tidak melenceng dari Al Quran dan Assunnah. Sejarah juga banyak memberi pelajaran bagaimana Daulah Islam kala itu mengatasi serangan wabah. Rasulullah Saw. dan Khalifah Umar Bin Khattab Ra. memberikan ilmu tentang apa itu karantina wilayah wabah secara total atau lockdown. Sehingga, dengan penuh wibawa dan tanggung jawab wabah tidak menyebar ke negeri yang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tha’un (wabah penyakit menular) adalah suatu peringatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya dari kalangan manusia. Maka apabila kamu mendengar penyakit itu berjangkit di suatu negeri, janganlah kamu masuk ke negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, jangan pula kamu lari daripadanya.” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).

Pada tahun 17 Hijriyah Madinah dilanda paceklik. Amirul Mukminin Umar Bin Khattab Ra. mengucapkan sumpah untuk tidak makan daging dan samin. Umar memegang teguh sumpahnya hingga musim paceklik berakhir. Jika dulu dia terbiasa menyantap susu, samin, dan daging, sejak musim paceklik Umar hanya menyantap minyak zaitun, bahkan sering mengalami kelaparan.

Sistem pemerintahan dan politiknya sangat mengedepankan wibawa dan kehormatan kaum muslimin. Daulah Islam adalah negara yang menjaga integritas. Syariat Islam melarang melakukan utang-piutang dengan negara kafir harbi fi'lan yang jelas-jelas memerangi kaum muslimin. Sehingga kedaulatan akan utuh. Daulah Islam tidak menjadi negera pembebek apalagi negara yang mudah disetir asing. 

Syariat Islam juga memelihara harta umat dan melarang privatisasi. Sehingga hasil sumber daya alam akan didistribusikan secara merata. Kebutuhan dasar rakyat wajib dipenuhi negara. Dengan demikian rakyat sejahtera dan bahagia. Pemimpin dan rakyat saling menyayangi dan mendoakan. Sehingga tercipta rasa saling percaya satu sama lain.

Dari semua fakta di atas, sungguh mengherankan apabila masih ada orang yang menganggap khilafah ancaman. Khilafah ajaran Islam. Khilafah adalah janji Allah Swt. dan Rasulullah Saw. So, tunggu apa lagi wahai kaum pembenci mari berbalik arah sama-sama berjuang mengembalikan kehormatan dan kebahagiaan kaum Muslim. Mari mewujudkannya dengan menghadirkan kepemimpinan shahih khilafah islamiyyah. Wallahualam

Posting Komentar untuk "Khilafah Solusi Pandemi dan Krisis Multidimensi"