Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Materi Ajar Khilafah Di Ganti, Akankah Membawa Kebaikan Generasi

Ilustrasi


Oleh: Umi Fia (Aktivis Muslimah Perduli Umat)

Sungguh miris bila kita melihat dunia pendidikan saat ini. Kurikulum dalam mata pelajaran agama Islam semakin tak jelas arah, ajaran dalam Islam sedikit dini sedikit di hapus dan dihilangkan, seperti materi pembelajaran tentang jihad dan khilafah telah di perintahkan untuk di tarik dan diganti.

Direktur kurikulum, sarana, kelembagaan, dan kesiswaan (KSKK) madrasah pada kementrian agama (Kemenag), Umar, menjelaskan yang di hilangkan sebenarnya bukan hanya materi jihad dan khilafah saja, tapi setiap materi ajaran yang berbau tidak mengedepankan kedamaian, keutuhan, dan toleransi juga dihilangkan,"kata Umar kepada Republika.co.id.

Selain itu, Umar juga mengatakan," di Indonesia khilafah di tolak, maka tidak mungkin mengajarkan materi yang konteksnya membangun khilafah yang bertentangan dengan Indonesia, katanya.

Jelas ini adalah penyesatan sistematis terhadap ajaran Islam. Kebijakan yang diambil benar- benar telah menghasilkan kurikulum pendidikan sekuler anti Islam. Kurikulum yang menjadi rujukan menggerakkan anak bangsa memperjuangkan tegaknya Islam diganti dengan materi yang mendorong mereka mengganti Islam dengan sistem buatan manusia.

Inilah fakta dunia pendidikan di negeri ini, ajaran Islam yang berpotensi mengganggu kepentingan rezim akan di hapus. Semakin mengkhawatirkan, bagaimana tidak? Generasi yang seharusnya semakin dikenalkan dengan gambaran - gambaran Islam seutuhnya, justru semakin dijauhkan dari Islam. Padahal jauh sebelum penghapusan materi jihad dan khilafah dunia pendidikan di negeri ini sudah nampak bermasalah. Visi yang tak jelas, membuat pendidikan kian sesat arah. Sejak orde lama, kurikulum pendidikan sudah 11 kali mengalami perubahan, yang mana perubahan itu bukannya semakin membawa kebaikan, tapi justru semakin merusak dan tak jelas ingin mencetak generasi yang kepribadiannya seperti apa.

Wajar jika hari ini tak sedikit generasi terdidik yang mumpuni dalam pengetahuan, namun minus dalam adab dan kesopanan. Bahkan mereka berlaku alay, hedonisme, pergaulan bebas, narkoba dan semacamnya, yang pastinya generasi saat ini semakin dijauhkan dari nilai-nilai Islam.

Buruknya sistem pendidikan saat ini diperparah dengan masifnya proses sekularisasi kurikulum melalui proses marginalisasi agama. Karena dalam doktrin sekulerisme, agama adalah fokus pribadi. Haram turut campur dalam segala urusan kehidupan, termasuk urusan pendidikan.

Dari sini arah pendidikan dalam sistem berparadigma rusak akan menghasilkan generasi yang rusak pula. Negara dengan menerapkan sistem sekuler kapitalis neoliberal memang tak mungkin serius menjadikan pendidikan sebagai jalan kemuliaan mewujudkan peradaban cemerlang. Jadi dengan penerapan sistem pendidikan yang rusak ini, bagaimana mungkin bisa generasi dinegeri ini mampu menjadi motor kebangkitan dan membawa bangsa ini keluar keterpurukan.

Hanya satu solusinya, yaitu satu-satunya jalan untuk mengubah arah dunia pendidikan dinegeri ini. Dengan mencampakkan sistem yang sedang diterapkan saat ini, yaitu sistem pendidikan sekuler berikut sistem pilitiknya, yang kemudian kita ganti dengan sistem pendidikan Islam berikut sistem yang menaunginya, yaitu sistem khilafah.

Sistem pendidikan Islam tegak diatas akidah Islam yang shohih dan kokoh. Dengan akidah ini mengarahkan visi pendidikan Islam sebagai washilah untuk melahirkan profil generasi terbaik yang paham tujuan penciptaan. Yakni sebagai hamba Allah yang berkepribadian Islam cerdas untuk membangun peradaban. Dalam sistem pendidikan Islam para generasi akan mendapatkan gambaran tentang Islam seutuhnya, yang mana selama belasan abad, umat Islam mampu tampil sebagai umat terbaik dalam segala aspek kehidupan. Dan tentunya karena mereka hidup dibawah naungan khilafah. Jadi bagaimana mungkin ajaran tentang khilafah dan jihad ini dihilangkan? Bukankah khilafah membawa kemuliaan...?

Wallahu a'lam bi as-shawabb.

Posting Komentar untuk " Materi Ajar Khilafah Di Ganti, Akankah Membawa Kebaikan Generasi"