Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Srebrenica dan Masa Depan Umat Islam di Eropa



Oleh: Okay Pala (Perwakilan Media Hizbut Tahrir Belanda)

Pada hari ini, 11 Juli 2020, 25 tahun yang lalu militer Serbia melakukan genosida di kota Srebrenica, Bosnia. Kota ini secara resmi di bawah perlindungan batalyon PBB Belanda (Dutchbat). Lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim dipisahkan dari para wanita di bawah pengawasan Belanda Dutchbat III, mereka dideportasi, dieksekusi dengan darah dingin dan kemudian dibuang ke kuburan massal. Wanita dan anak-anak Muslim juga menderita selama perang tiga tahun tersebut, yang berlangsung dari tahun 1992 hingga 1995. Bayi dan anak-anak terbunuh. Wanita Muslim dilecehkan, dihina dan dibunuh dalam skala besar.

Selama bertahun-tahun, banyak yang telah berkomentar dan menulis tentang hal ini, namun sangat penting untuk diketahui bahwa genosida Muslim di Eropa harus menjadi perhatian bagi generasi muda secara berkala. Dengan tujuan agar tidak melupakan banyak orang tak berdosa yang mati, tetapi juga belajar dari nasib umat Islam yang merasa aman di Eropa. Karena itu perlu untuk memahami fakta dan motif di balik genosida. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan cara penanganan ini setelahnya. Sehingga perspektif masa depan yang lebih adil dan lebih realistis bagi generasi Muslim dapat diwujudkan.

Srebrenica: "zona aman"

Sebelum genosida, ribuan Muslim melarikan diri dari militer Serbia yang kejam dan mereka berlindung di daerah kantong Muslim Srebrenica, yang sebelumnya dinyatakan oleh PBB sebagai "zona aman". Dutchbat, yang dipimpin oleh PBB, akan menjamin keamanan mereka. Tapi tidak ada yang membuktikan lebih jauh dari kebenaran tersebut, umat Islam justru diserahkan kepada militer Serbia yang haus darah. Dutchbat bahkan berkontribusi pada evakuasi para pria Muslim, sementara sudah diketahui sebelumnya bahwa mereka akan disiksa atau dibunuh. Kebencian secara terang-terangan yang dimiliki militer terhadap Islam dan kaum Muslim sudah dikenal luas.

Kebencian terhadap Islam dan Muslim

Kebencian yang mendalam dan dendam yang dilakukan sebagian besar orang Serbia terhadap umat Muslim diungkapkan melalui pesan video singkat melalui Jenderal Serbia Ratko Mladic. Pesan video itu disampaikan sebelum ia memerintahkan pembantaian kaum Muslim. Dia kemudian berkata, “Kita di sini, 11 Juli 1995, di kota Srebrenica, di Serbia. Pada malam hari suci Serbia, kami mengembalikan kota ini kepada bangsa Serbia. Untuk mengenang pemberontakan melawan Turki (baca: The Ottoman Khilafah), hari ini telah tiba untuk membalas dendam pada kaum Muslim. ” Rekaman video juga muncul di mana dia berteriak kepada anak-anak Muslim dengan mengatakan, "Di mana Allahmu sekarang, Mladic-lah yang akan menyelamatkanmu." Lebih jauh lagi dari ini tidak bisa mengungkapkan kebencian-nya terhadap Muslim.

Dutchbat yang juga dikenal dengan helm biru Belanda. Terlepas dari tugas mereka untuk melindungi daerah kantong Muslim, justru menyerahkan mereka ke militer Serbia dengan alasan kebencian bersama terhadap umat Islam jika tetap berkuasa. Sekarang ada beberapa pernyataan saksi yang mengkonfirmasi hal ini dan menyatakan bahwa ada pelecehan fisik. Seperti membidik senjata pada Muslim Bosnia yang tidak bersalah bahkan menabrak Muslim dengan tank, tak hanya itu mereka juga menyerang dan memperkosa wanita Muslim! Bahkan coretan-coretan di dinding kompleks militer Belanda menggambarkan kebencian terhadap Muslim Bosnia. Beberapa contoh adalah sebagai berikut: “Keledai saya seperti penduduk setempat. Memiliki bau yang sama." Atau: "Tidak ada gigi...? Sebuah kumis...? Baunya seperti kotoran...? Gadis Bosnia! “Ada penghinaan kuat bagi para pengungsi Muslim di Srebrenica. Misalnya, mereka melemparkan roti di antara ratusan muslim Bosnia yang kelaparan yang kemudian memperebutkannya dan menertawakan mereka. Tetapi perilaku yang ditunjukkan oleh tentara Belanda setelah genosida terhadap Muslim terjadi sangat mengejutkan dan sejalan dengan filosofi ini. Dalam sebuah video yang sudah bocor dan viral, tentara Dutchbat menggelar acara dansa selama beberapa hari setelah genosida, mereka menutup mata dengan menggelar dansa polonaise (dansa yang berasal dari Polandia). Seberapa realistiskah harapan bahwa tentara Belanda akan mengorbankan hidup mereka untuk melindungi kaum Muslim?

Juga, persembunyian di balik "force majeure" Serbia untuk membenarkan penyerahan militer kepada Serbia tanpa perlawanan signifikan lemah. Lalu, apa tugas personil militer terlatih jika mereka tidak melakukan segala upaya untuk melindungi warga sipil yang tidak bersenjata? Bukankah melawan dengan akhir yang terhormat merupakan bagian dari pekerjaan mereka? Selain itu, dua minggu kemudian, selama penaklukan Kroasia atas Krajina, Inggris melindungi ribuan warga sipil Serbia di markas mereka. Apa pun situasinya, apa yang sebenarnya terjadi adalah bahwa kaum Muslim sangat mudah diekstradisi menjadi penyerang.

Sikap Belanda Pasca Genosida

Begitu banyak tindakan skandal Dutchbat, yang tidak hanya tidak mengambil tanggung jawabnya, tetapi juga membantu agresor. Anda akan mengatakan cacat mutlak dan rasa malu yang setidaknya harus diakui untuk mengurangi penderitaan. Tetapi pemerintah Belanda bersikap apatis sejak awal dan mereka menjaga rahasia ini hingga hari ini.

Laporan Srebrenica pertama NIOD yang diterbitkan pada tahun 2002, 7 tahun setelah genosida. Kesimpulannya adalah bahwa misi tersebut dipersiapkan dengan buruk dan Dutchbat tidak dapat disalahkan atas drama yang telah terjadi di Srebrenica. Sebelumnya pada tahun 1999, PBB juga menyimpulkan bahwa helm biru Belanda tidak bisa disalahkan atas genosida tersebut.

Kerabat korban yang masih hidup: "Para Ibu Srebrenica", setelah 15 tahun, tidak melihat klaim yang adil dan memutuskan untuk melaporkan genosida dan kejahatan perang tersebut ke Layanan Penuntut Umum. Antara lain mereka menuntut Thom Karreman, dimana ia adalah komandan batalyon PBB Belanda Dutchbat. Namun, tiga tahun kemudian Layanan Penuntut Umum memutuskan untuk tidak memproses tuntutan atau menghentikan laporan atas Karreman tersebut.

Pada tahun 2014, pengadilan di Den Haag memutuskan bahwa Belanda tidak bertanggung jawab atas korban pembantaian lebih dari 8.000 Muslim Bosnia, tetapi sebagian bertanggung jawab atas deportasi lebih dari tiga ratus pria. Dengan kata lain, |: Dutchbat tidak bertanggung jawab atas nasib 7.500 korban.

Pada 2017, pengadilan di Den Haag mengkonfirmasi putusan sebelumnya bahwa negara bertanggung jawab atas kematian 350 pria Muslim, tetapi hanya 30 persen yang akan diberikan ganti rugi atau kompensasi atas kerusakan yang diderita. Tentara Belanda dari Dutchbat, yang bertugas melindungi daerah kantong Muslim, juga tidak disertakan. Menurut pengadilan, pemerintah Belanda hanya bertanggung jawab atas 30%, untuk "hanya" 350 korban yang berada di dalam kompleks Belanda. Begitu juga dalam menentukan kompensasi untuk kasus yang diakui dan dikonfirmasi (karena kelalaian pemerintah Belanda) hanya 30% dibayarkan.

Pada tahun 2019, Mahkamah Agung memutuskan bahwa negara ikut bertanggung jawab atas kematian lebih dari 300 Muslim, namun tidak 30 persen, tetapi hanya 10 persen, kompensasi yang dapat dibayarkan kepada keluarga korban. Dengan kata lain; kewajiban dan hutang negara Belanda dikurangi menjadi hanya 10 persen.

Apa penilaian yang akan dibuat selanjutnya? Tidak ada kompensasi atau pembebasan?

Intinya adalah bahwa Belanda, Eropa dan seluruh anggota PBB belum mampu melindungi Muslim di Barat dari kebencian. Selain itu, mereka telah gagal untuk bertanggung jawab atas genosida dan memberikan kompensasi yang adil terhadap para kerabat korban.

Kita juga melihat perilaku ini berkenaan dengan kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda terhadap koloni-koloni sebelumnya seperti Indonesia, tetapi juga, misalnya, selama serangan udara Belanda di Irak, di mana area perumahan di Hawija dihancurkan oleh F16 Belanda. Lebih dari tujuh puluh warga sipil tewas. Bahkan saat itu, pemerintah Belanda ingin mencuci tangan dengan merasa tidak bersalah, dan mengajukan berbagai alasan.

Pertanyaannya adalah bagaimana Belanda dan seluruh Eropa ingin melindungi komunitas Muslim di masa depan dari sentimen anti-Islam yang terus meningkat. Itu tidak terlihat cerah dengan rekam jejak dan pola pikir seperti itu. []


Alih Bahasa: Gesang Ginanjar Raharjo

Posting Komentar untuk "Srebrenica dan Masa Depan Umat Islam di Eropa"