Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Urgenkah Kalung Anti Corona?



Oleh: Afiyah Rasyad (Aktivis Peduli Ummat)

Pandemi covid-19 belum jua ada tanda-tanda akan berakhir. Zona merah masih menyala di beberapa wilayah di negeri ini, bahkan masih ada yang masuk zona hitam, yakni zona darurat corona. 

Sejak diumumkannya pandemi, vaksin yang diharapkan tak  jua ditemukan. Padahal berbagai lembaga kesehatan dan swasta sudah melakukan penelitian ilmiah. Sehingga penularan tak kunjung bisa diredam. Sampai-sampai Menteri Pertanian meluncurkan terobosan kalung antivirus corona.

Tentu saja kalung antivirus corona ala Kementan menuai kontroversi. Bahkan, kalung yang belum diuji secara ilmiah ini ditolak secara halus oleh berbagai kalangan. Penolakan bahkan bergulir di jajaran dewan.

Sebagaimana permintaan Wakil Ketua Komisi IV dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Daniel Johan meminta agar MenterinPertanian Syahrul Yasin Limpo untuk fokus mengamankan ketersediaan pangan Indonesia ketimbang membuat kalung penawar covid-19 yang berbasis pohon kayu putih. Daniel juga menyatakan bahwa kalung tersebut diuji secara klinis terlebih dahulu (CNN Indonesia, 06/07/2020).

Semakin panjang masalah kebijakan menteri yang di luar nalar. Bukan perkara bahan apa kalung tersebut, namun uji klinis saja belum dilakukan, sudah diklaim antivirus corona. Bagaimana rakyat bisa percaya?

Vaksin virus corona memang sangat urgen, mengingat korban positif terus meningkat. Peningkatan ini kian merajalela saat new normal dicanangkan dan digalakkan. Namun, kalung antivirus corona tidak dibutuhkan masyarakat jika belum teruji secara klinis.

Dengan diluncurkannya kalung oleh Kementan menunjukkan betapa lemahnya keseriusan negara dalam menangani penularan covid-19. Negara yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam memutus rantai penyebaran virus justru memberikan kebijakan penerapan new normal dalam grafik yang masih meningkat.

Kementan yang seharusnya menyediakan ketersediaan pangan bagi rakyat yang terdampak penyebaran virus corona, justru membuat kalung antivirus yang belum teruji klinis. Negara justru terkesan mengamini kalung tersebut, tanpa ada klarifikasi atau pun edukasi terhadap masyarakat terkait urgensi kalung tersebut.

Negara seolah tak mau ambil pusing dalam menjaga keselamatan rakyat dari kasus pandemi ini. Justru perhatian negara lebih pada perputaran roda ekonomi yang tak boleh merugi, meski pada faktanya dipenuhi dengan utang yang merugikan. Inilah ciri khas ideologi kapitalisme yang memandang rakyat itu hanyalah beban negara.

Wajar saja negara cenderung menahan diri untuk menyediakan alkes, obat-obatan dan APD sejak negeri ini dinyatakan darurat corona. Karantina wilayah tak dijadikan sebagai pilihan, hanya PSBB dan social distancing saja disertai protokol kesehatan tanpa edukasi secara fundamental sehingga diabaikan oleh mayoritas rakyat yang awam.

Bagi negara yang manganut ideologi kapitalisme, rakyat tak boleh menjadi beban. Pelayanan terhadap rakyat bukan urusan negara, sehingga rakyat berjuang sekuat tenaga memenuhi kebutuhan pokoknya di tengah intaian corona saat di luar rumah. 

Melihat tabiat sistem kapitalisme, maka kemunculan kalung antivirus menjadi peluang pasar dan diharapkan bisa menangkal rakyat yang berinteraksi sosial agar tak terpapar corona. Lagi-lagi peluang pasar ini akan menjadikan rakyat sebagai objek, sangat aneh jika kemudian kalung tersebut dibagikan gratis tanpa kompensasi.

Sebenarnya rakyat sudah merasa jumud dengan kondisi yang terhimpit. Jangankan untuk membeli kalung antivirus corona nantinya jika memang jadi dilempar ke pasar, untuk tes rapid saja yang jelas lebih ilmiah, rakyat sudah tak menjangkaunya.

Kondisi semacam ini berbeda jauh jika dibanding dengan kondisi khilafah yang terserang wabah saat menerapkan sistem Islam. Sudah masyhur bahwa kholifah adalah pelayan dan perisai rakyat dari marabahaya, termasuk dari wabah yang menimpa.

Rosulullah SAW pernah mengkarantina wilayah yang terserang wabah, agar tak seorang pun keluar dari wilayah terdampak wabah. Sebaliknya, Rosulullah SAW juga melarang rakyat yang di luar untuk masuk dalam wilayah yang dikarantina. Tabib didatangkan dan obat-obatan dipenuhi, termasuk kebutuhan pokok individu rakyat juga dipenuhi. Dengan demikian, penyebaran wabah tak merajalela ke seantero negeri.

Di masa Kholifah Umar bin Khoththob penanganan wabah juga dilakukan dengan serius. Pemenuhan sarana prasarana kesehatan dipenuhi dengan cepat, tabib profesional juga didatangkan dan gaji mereka dipenuhi. Bahkan beliau rela hidup dengan lapar dan kekurangan sampai diketahui seluruh rakyatnya hidup sejahtera.

Maka kontroversi kalung antivirus atau alat kesehatan lainnya tak akan bergulir dalam kehidupan rakyat saat wabah melanda. Negaralah yang akan bertanggung jawab untuk pelayanan kesehatan agara rakyat tidak terpapar wabah atau negara akan memberikan pelayanan terbaik bagi rakyat yang sakit sampai sembuh total.

Potret kesejahteraan yang dicapai oleh khilafah adalah bukti rahmat yang Allah berikan karena menerapkan sistem Islam dalam sistem pemerintahan. Islam mewajibkan negara melayani dan mensejahterakan rakyat, memberikan pembinaan dan pendidikan berbasis aqidah Islam gratis, menyediakan fasilitas kesehatan gratis, menciptakan keamanan, dan menyediakan fasilitas umum yang memadai.

Islam akan menjadi rahmat bagi seluruh alam saat diterapkan. Islam bukan sebatas agama ritual saja, tetapi merupakan ideologi atau pandangan hidup yang memuat aturan paripurna. Saatnya rakyat dan negara kembali pada aturan Islam. 

Wallahu A'lam

Posting Komentar untuk "Urgenkah Kalung Anti Corona?"