Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Game Online dalam Perspektif Islam



Oleh: Alfi Ummu Arifah (Guru dan Pegiat Literasi Islam)


Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga-bangga di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan,

seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.

Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. (Al Hadid : 20)

Sesungguhnya tidaklah kehidupan dunia itu kecuali hanyalah permainan dan senda gurau. Permainan dan senda gurau itulah yang dianggap manusia sebagai upaya untuk mencapai kebahagiaannya. Malangnya saat manusia itu terlalu sekali berkutat pada permainan itu hingga melupakan yang lainnya maka manusia akan merasakam mudaratnya.

Beberapa waktu lalu sejumlah anak yang sakit karena kecanduan game online terpaksa dilarikan ke rumah sakit jiwa di daerah Jawa Barat (cnnindonesia.com, 16/3/21). Beberapa anak lainnya menjalani rawat jalan karena kasus serupa.

Indonesia benar-benar sudah masuk dalam zona darurat game online. Menyedihkan saat para generasi muda itu terpapar game online sejak dini. Mereka kehilangan kehidupannya yang alami sebagaimana anak-anak di masa  lalu yang menorehkan banyak prestasi. 

Namun apa mau dikata, semua ini akibat persepsi yang ada di pemikiran mereka yang sebelumnya sudah terpapar sistem hidup  sekuler dan liberal. Kebebasan berperilaku dan berfikir mengantarkan mereka pada keadaan yang mengenaskan ini. Orang tua pun kelabakan mengatasi problem ini. Sebab permainan itu telah mengakibatkan kecanduan pada anaknya. Memang sulit mengobati orang yang sudah kecanduan, baik game online, narkoba dan yang lainnya.

Inilah buah dari penerapan sistem kapitalisme sekuler itu. Setiap orang akan teracuni dengan pemikiran bahwa hidup di dunia ini harus diraih dengan sesuatu yang bersifat materi. Tidak dikatakan bahagia jika belum mendapatkan kebahagian materi, harta dan senda gurau. Seakan materi itulah tujuan dari kehidupan ini. Padahal dunia ini sementara, senda dan gurau juga permainan itu hanya mengecoh agar manusia lalai dan tidak maksimal dalam menjalankan ibadah. 

Cara pandang ini telah meracuni orang tua sekaligus anak-anak. Jika seperti ini keadaaanya maka ke depan sulit dicari pemimpin yang berkualitas. 

Ini harus dihentikan. Kita harus memberikan pencerahan kepada anak-anak agar menyadari bahwa itu akan menjerumuskan mereka pads bahaya. Mereka harus sadar mereka sudah terpapar pemahaman dan pemikiran yang berbahaya.

Mereka harus memahami jika mereka itu adalah agent of charge (agen perubahan). Pada mereka bangsa ini berharap dan menyandarkan hara pan kebangkitan islam dan kaum muslimin.

Memang benar kesalahan pola asuh orang tua, perhatian orang tua menentukan apakah anak memiliki peluang terpapar atau tidak. Namun faktor yang lebih besar lagi ada di tangan negara. Sebab seberapa kuat pun orang tua memperbaiki pola asuh anak itu tidak akan menghalangi anak bermain game. Karena jika negara tetap memberikan akses besar dalam meluaskan game online yang merupakan kepentingan kapital. 

Jadi negara memiliki andil dan wewenang besar dalam memblok masuknya game online dan konten berbahaya di wilayahnya.

Andaikan Negara itu berbasis syariah yang mandiri, tentu negara itu akan memblok konten tersebut. Negara memiliki satu institusi yang mengurusi bidang media, game dan konten agar tetap baik. Institusi itu akan melaramg masuknya konten yang berbahaya apakah game online,  pornografi, pornoaksi dan pemikiran berbahaya lainnya.

Maka dibutuhkan sebuah negara yang peduli pada masyarakat. Peduli pada anak dan semua tingkatan usia agar tidak rusak kecanduan game online. Tentu sistem itu harus kompatibel dengan sistem pemerintahannya yang juga berbasis syariah Islam. Niscaya kasus anak sakit karena kecanduan game online tak akan ada lagi.Insya Allah.

Posting Komentar untuk "Game Online dalam Perspektif Islam"