Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sya'ban Perlahan Pergi





Oleh: Sherly Agustina, M.Ag (Penulis dan pemerhati kebijakan publik)

Aisyah RA yang berkata, “Aku tidak pernah melihat beliau SAW lebih banyak berpuasa sunnah daripada bulan Sya'ban. Beliau berpuasa di bulan Sya'ban seluruh harinya, yaitu beliau berpuasa satu bulan Sya'ban kecuali sedikit (beberapa) hari.” (HR. Muslim no. 1156 dan Ibnu Majah no. 1710)

Tak terasa, Rajab sudah dilewati bulan yang penuh dengan sejarah bahkan di bulan Rajab tepat momen satu abad dunia tanpa khilafah. Bagaimana umat Islam tanpa khilafah? Sangat memilukan, ibarat anak kehilangan induknya tak ada yang mengurus, memperhatikan, menyayangi dan membela saat butuh pembelaan. 

Tentu umat sangat merindukan keberadaan khilafah yang telah Rasul dan Allah janjikan. Karena keberadaannya, menjadi pelayan dan perisai umat terlebih seratus tahun lamanya umat menanti dengan penuh kerinduan. Hanya keyakinan pada-Nya yang terhujam dalam dada, yang membuat umat Islam begitu optimis memperjuangkan dan menyambut kehadirannya.

Ibarat merindukan seseorang yang sangat dinanti, dia akan datang dengan penuh kasih sayang. Begitulah penantian yang tengah dirasakan oleh umat Islam sedunia, yang jika dikumpulkan memiliki potensi demografi luar biasa. Walau sangat disayangkan, kondisi saat ini bagai buih di lautan.

Rajab pergi, Sya'ban datang menjadi penghubung antara Rajab dengan bulan yang sangat mulia yaitu Ramadhan. Di bulan Sya'ban banyak keistimewaan, di antaranya Rasulullah Saw., bersabda:

"Bulan Sya'ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya'ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa." (HR Abu Dawud dan Nasa'i)

Riwayat lain dari Abu Musa Al Asy'ari ra.:

"Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah, At Thabrani, dan dishahihkan Al Albani).

Sya'ban, bulan yang istimewa dan Rasul pun mengistimewakannya dengan banyak melakukan amalan puasa sunah di bulan ini. Bulan yang kadang terlupakan karena umat Islam sudah terbiasa mengenal dan memuliakan bulan Rajab. Padahal, di bulan Sya'ban ini amal manusia diangkat sebagaimana keterangan hadis Baginda Nabi Saw.

Sebagai umat Islam, sudahkah melewati bulan Sya'ban dengan sebaik-baiknya, seperti Baginda Nabi mengisi Sya'ban dengan berpuasa sunah dan amalan lainnya. Bulan latihan menuju bulan Ramadhan, di bulan agung itu umat Islam diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh bagi yang tidak ada hajat syar'i. Bulan Sya'ban  yang hilalnya sangat diperhatikan oleh Nabi Saw., seperti memperhatikan hilal Ramadhan.

Kini, Sya'ban perlahan pergi meninggalkan umat Islam. Karena Sya'ban akan mempertemukan Ramadhan dengan umat Islam. Kepergiannya membuat sedih di satu sisi karena mungkin selama Sya'ban tidak mengisinya seperti Baginda Nabi Saw. Namun, memberi kabar gembira di sisi lain karena pertanda bulan nan istimewa akan segera datang menyapa umat Islam.

Satu tahun umat Islam diuji pandemi, Ramadhan tahun ini pun kemungkinan umat Islam melewati Ramadhan masih dalam kondisi pandemi. Bahagia tak terkira umat Islam menyambut Ramadhan, namun masih sedih karena pandemi tak kunjung hilang. Bagaimanapun keimanan berkata, apapun yang terjadi harus dijalani dan diyakini yang terbaik dari-Nya seburuk apapun dalam pandangan manusia. Insya Allah selalu ada hikmah di balik semua kejadian dan kehendak-Nya.

Semoga, Ramadhan tahun ini bisa dijalani dengan lebih baik oleh umat Islam bahkan pandemi bisa segera hilang di muka bumi. Semoga Ramadhan tahun ini, Ramadhan terakhir tanpa khilafah. Agar umat mendapat keberkahan dan rahmat yang Allah janjikan. Marhaban yaa Ramadhan, marhaban yaa syahru shiam wa mubaarok.

Allahu A'lam bi ash Shawab.

Posting Komentar untuk "Sya'ban Perlahan Pergi"