Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Angka Covid-19 Terus Melonjak, Pakar Biologi: Ada Konotasi yang Tak Dipahami

 


Jakarta, Visi MuslimSemakin meningkatnya angka orang terinfeksi covid-19 di Indonesia seperti disampaikan Humas BNPB yang mencapai 27.233 kasus (4/7), menurut Pakar Biologi Molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, Ph.D. karena ada konotasi terkait covid-19 yang tidak dipahami rakyat, baik alit (kecil) maupun elite.

“Memang ada satu konotasi yang masih banyak tidak dipahami, kayaknya memang perlu di dalamnya ada TWK Mas Farid (penanya), tes wawasan (k)ovid. Jangankan rakyat jelata, gitu ya, rakyat alit (kecil), di elite pun kadang enggak paham,” ujarnya dalam Fokus: Wabah Semakin Menggila, di Mana Persoalannya? Ahad (04/07/2021) di kanal YouTube UIY Official.

Konotasi yang dimaksud, tentu pentingnya upaya testing dengan jumlah banyak/memadai, serta tracing atau kontak telusur mencari yang positif betul-betul digalakkan, agar treatment yang diberikan bisa tepat. Sebagaimana dikatakan ahli epidemiologi, dengan munculnya varian baru, jumlah kasus terinfeksi saat ini bisa mencapai lima hingga sepuluh kali lipat dari angka sebenarnya.

Sehingga Ahmad pun menekankan, upaya tersebut sangat penting untuk dilakukan. Pasalnya, selama ini otoritas bersikap konservatif atau hanya mencari yang positif pada orang yang bergejala saja. “Tidak disebut dengan apa namanya, forward looking. Jadi kalau kita bicara strategi perang itu Mas Farid, ada dua. Kita ofensif atau kita defensif,” sebutnya.

Secara ofensif dengan upaya mencari orang yang positif tersebut, menurutnya, harus selangkah lebih cepat dari pergerakan si virus. Namun, hal itu bisa menjadi sulit ketika covid-19 disamakan dengan flu biasa masih menjadi pemahaman masyarakat. Padahal secara keilmuan, flu biasa tidak akan menimbulkan pembekuan darah di paru-paru atau orang dengan diabetes bisa hidup lama.

Masalah Besar

Meskipun dari segi jumlah kematian karena covid-19 lebih kecil daripada TBC, demam berdarah atau pun kanker, Ahmad mengingatkan, masalah bisa menjadi besar karena datangnya cenderung serentak. “Kalau dulu yang asli itu, satu orang bisa menginfeksi dua atau tiga, sekarang itu antara lima sampai delapan. Dan masing-masing bisa menularkan lima sampai delapan lagi. Apa yang kita lihat? Akan eksponensial kan itu. Pertumbuhan itu enggak linear tapi eksponensial,” jelasnya.

Apalagi lanjutnya, ketika si virus menginfeksi sebagian orang yang memiliki komorbid, maka hitungannya tidak lagi belasan, tetapi bisa puluhan dengan secara berbarengan masuk rumah sakit. “Dan di situlah bencana terjadi,” tegasnya.

Namun, hal itu, ia nilai, termasuk salah satu konsep konotasi juga yang masih susah dipahami masyarakat. Apalagi dengan pernyataan ilmuwan yang mengatakan virus covid-19 memiliki low pathogenic. “Patogeniknya rendah, betul memang, tapi ini ada konteks. Konteksnya adalah ketika dia bisa menyerang, katakan sebagian kecil orang saja, itu akan menyebabkan bisa kolapsnya faskes,” tegasnya.

Ditambah pula dengan pola penyebaran covid-19 saat ini yang sudah bisa ditularkan oleh orang yang tidak bergejala. Sedangkan, masih banyak masyarakat yang takut ‘dicovidkan’ serta tidak tahu cara melakukan isolasi mandiri. Bahkan, karantina untuk orang dari luar negeri saja banyak yang bocor dengan menyuap petugas.

Sehingga, sebagaimana strategi peperangan, yang sebelumnya ia sebut ofensif dengan forward looking, mencari yang positif harus benar-benar digalakkan. Dengan dukungan banyaknya jumlah laboratorium, semestinya bisa dilakukan testing dengan jumlah banyak. Itu pun dengan cara yang terbaik, yaitu PCR, bukan tes antibodi.

Itulah alasan mengapa, lanjut Ahmad, forward looking juga telah dilakukan Amerika serikat maupun India hingga mampu mencapai dua juta testing sehari untuk mencari yang betul-betul positif ketika penyebaran dalam kondisi parah.

Defensif

Mungkin karena ketidakberdayaan pemerintah melakukan tracing dan testing dengan jumlah memadai, ia khawatir kondisi di Indonesia saat ini justru sedang menuju tahapan upaya defensif dengan istilah yang ia sebut door to door. Sebagaimana ketika merasa akan mengalami kekalahan perang, Jerman membuka perbatasannya dan membiarkan sekutu masuk menyelesaikan peperangan.

“Berarti yang kuat dengan imunnya optimal, dia akan survive. Tapi yang tidak tidak optimal, dia akan meninggal ya. Berita bagusnya, pandemi akan selesai, insyaAllah akan selesai. Itu saya yakin itu secara keilmuan ya,” terangnya, “Hanya saja, tambahnya, sampai berapa banyak kematian yang akan dijadikan toleransi dari upaya tersebut.”

Namun demikian, terlepas upaya penanganan dari pemerintah baik ofensif maupun defensif, ia menegaskan, kunci penentu keberhasilan pada akhirnya terletak pada perilaku manusianya sendiri. Ibarat kendaraan cepat, tidak akan bisa melesat tanpa tersedia jalan bebas hambatan oleh manusianya.

Begitu pun covid-19, yang menurutnya, akan menyebar cepat lewat kerumunan manusia tanpa prokes/5 M memadai. “Jadi sebetulnya kalau dikatakan telah nampak begitu banyak ya, kerusakan di muka bumi, covid di mana-mana itu aidinnas, itu ada benarnya, kita sendiri,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Posting Komentar untuk "Angka Covid-19 Terus Melonjak, Pakar Biologi: Ada Konotasi yang Tak Dipahami"