Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Latma Garuda Shield Indonesia-AS, Perkuat Hegemoni AS di Indonesia

 


Oleh: Ainul Mizan (Peneliti LANSKAP) 


Pada tanggal 1-14 Agustus 2021 akan diselenggarakan Latma (Latihan Militer Bersama) Indonesia-AS. Sebanyak 330 personal tentara AS telah mendarat di Bandara Palembang (24/7). Rencananya latma ini akan diikuti pasukan Indonesia sebanyak 2.246 personal dan pasukan AS sebanyak 2.282 personel. Inilah gelaran terbesar dalam program Latma Garuda Shield ke-15.

Jenderal Andika Perkasa menjelaskan tujuan program ini adalah mempererat hubungan antara kedua negara. Di samping itu, bisa digunakan sebagai ajang peningkatan kompetensi personel militer kedua negara. Program latihannya meliputi materi lapangan, menembak, medis dan penerbangan. Latma ini akan dipusatkan di daerah Baturaja, Makalisung dan Amborawang, di Sumatera Selatan.

Bagi AS sendiri, Garuda Shield merupakan wujud komitmennya dalam mendukung dan menjamin keamanan negara-negara sekutu dan teman di kawasan. Tentunya di kawasan Asia Tenggara. Apalagi dalam 5 tahun terakhir kedekatan Indonesia dengan China cenderung menguat. 

China memandang Indonesia mempunyai posisi strategis di kawasan Asia Tenggara. China mulai menggarap proyek insfrastruktur Indonesia. Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang memakan biaya Rp 83,2 trilyun, 75 persennya diback-up China. Walaupun proyek tersebut akhirnya terbengkalai.

Termasuk pula, Indonesia masuk dalam jaringan investasi raksasa China melalui jalur sutera OBOR. Volume perdagangan Indonesia-China makin menguat hingga 5,4 persen yakni senilai 69 milyar US dollar (Januari-Nopember 2020). Volume ekspor Indonesia ke China meningkat sampai 33,1 milyar US dollar dibandingkan tahun 2019.

Adapun realisasi investasi China di Indonesia hingga September 2020 senilai 3,5 milyar US dollar. Jadi China termasuk investor terbesar Indonesia mengalahkan Jepang dan Korea.

Oleh karena itu penting bagi AS guna memastikan bila Indonesia masih berada dalam orbit kepentingannya. Melalui Latma ini, AS seolah berpesan kepada China agar memenuhi komitmennya hanya di bidang ekonomi. China berambisi menjadi raksasa ekonomi di kawasan Laut China Selatan. Jangan sampai China menjadi saingan politik dan ideologinya di kemudian hari.

Sedangkan bagi Indonesia, sangatlah kecil manfaatnya dari Latma Garuda Shield ini. Boleh dikatakan ada peningkatan kompetensi TNI, hanya saja semuanya dalam kontrol AS sebagai negara adidaya. Tentunya perwira-perwira AS dapat mengukur kompetensi dan titik kelemahan militer Indonesia. Apalagi bila mereka menjadi pelatihnya. 

Yang lebih berbahaya lagi adalah pada latma ini ada materi terkait PPKT (Proses Pengambilan Keputusan Taktis) sebuah operasi militer. Artinya militer Indonesia didesain untuk tunduk di bawah kontrol militer AS.

Analisis dalam artikel ini bermula tidak seimbangnya posisi kedua negara yang menggelar latihan militer bersama. AS sebagai negara utama dan pengemban ideologi. Sebagai negara utama, tentunya ia memiliki power menekan negara-negara lain untuk sesuai dengan rancangannya. Apalagi Indonesia berposisi sebagai negara dunia ketiga yang mayoritasnya miskin dan terbelakang. Atau istilah halusnya adalah negara berkembang. 

AS sadar walaupun Indonesia masih berkembang, akan tetapi menyimpan potensi ancaman yang besar. Sebagai negara muslim terbesar, di Indonesia bisa menjadi benih dan genderang perang bagi ideologi barat. Menguatnya Islam Ideologi akan menguatkan daya lawan Indonesia. Belum pula bila Khilafah bisa tegak di Indonesia. Maka harapan besarnya, Indonesia harus tetap menjadi partner yang Setia dengan AS dan Kapitalismenya.

Pandangan Islam

Rasulullah Saw pernah bersabda:

كنا لا نضيع بنار المشركين

Kami tidak pernah meminta api dari kaum musyrikin. 

Dalam hadits tersebut telah dijelaskan bahwa haram kaum muslimin meminta perlindungan dari institusi negara-negara kafir. Tentu dalam perwujudannya akan ada dua kepentingan yang saling bertolak belakang. Satu sisi kaum muslimin ingin menyebarkan Islam ke seluruh dunia melalui berbagai penaklukan tersebut. Sedangkan institusi lain lebih kepada nasional interesnya. Bahkan bisa jadi menjadi penghambat penaklukan oleh kaum muslimin.

Pelajaran berharga dari perang khandaq telah menunjukkan hal tersebut. Koalisi pasukan Quraisy bisa diporak-porandakan oleh seorang Nu'aim bin Abdillah. Akhirnya Yahudi berpisah dari koalisi. Mereka lebih mementingkan national interesnya. Yahudi kuatir bila pasukan koalisi kalah, mereka tidak akan selamat dari Madinah. Yahudi letaknya berdekatan dengan Madinah. Sedangkan Quraisy letaknya jauh dari Madinah.

Jadi Islam mengharamkan koalisi yang justru merugikan bagi kepentingan Islam dan kaum muslimin. Apatah lagi koalisi tersebut berpeluang menjadi jalan bagi dikuasainya kaum muslimin oleh orang-orang kafir.

Koalisi negara Islam dengan institusi lain itu menegasikan mereka sebagai institusi politik tersendiri. Mereka dibolehkan sebagai institusi lain di luar politik dan pemerintahan. Sebagai suku, kabilah, bangsa maupun kelompok yang membantu pasukan kaum muslimin. Mereka membawa local wisdomnya masing-masing. Mereka berada dalam satu komando politik dan kepemimpinan kaum muslimin. Mereka mendapatkan ujroh dari bantuan yang mereka berikan, berupa bagian ghanimah (rampasan perang). Itupun sesuai kadar yang ditetapkan oleh pemimpin Islam.

Kalau memang dibutuhkan upgrade kemampuan militer pasukan Islam, maka negara akan segera melakukan kontrak dengan tenaga ahli militer. Hal demikian bisa kita pahami dari kisah penggalian parit saat perang Khandaq. Adalah Salman Al-Farisi sebagai ahli siasat perang dari bangsa Persia. Setelah masuk Islam, Salman al-farisi mengupgrade kaum muslimin untuk membuat pertahanan berupa parit. 

Begitu pula Sultan Muhammad al-fatih yang mengontrak Orban, ahli meriam. Orban tidak berada di bawah kendali kekuatan politik manapun. Akhirnya dengan sumber ekonominya yang memadai, negara mampu membiayai proyek pembuatan meriam tercanggih di jamannya. Selanjutnya di bawah lisensinya, pasukan Islam dilatih kemampuan militernya dalam mengoperasikan meriam tersebut.

Dengan menggunakan arahan Islam sedemikian, rahasia kekuatan dan kelemahan militer kaum muslimin akan mampu terjaga dengan baik. Di sisi yang lain seraya melakukan peningkatan kemampuan militer pasukan. Dan yang lebih penting lagi, negeri-negeri kaum muslimin harus segera bertransformasi menjadi negara industri. Industri yang dibangunnya adalah industri perang dan peralatan. Dengan demikian, negeri-negeri Islam bisa mandiri. 

Posting Komentar untuk "Latma Garuda Shield Indonesia-AS, Perkuat Hegemoni AS di Indonesia"