Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Framing Bubarkan MUI, Narasi Sesat kukuhkan Kapitalisme?




Oleh: Ulfatun Ni'mah (Pegiat Literasi Komunitas Rindu Islam)


Pasca penangkapan Ustadz Ahmad Zain An Najah, pengurus Komisi Fatwa MUI beserta dua ulama lainnya Ustadz Farid Okbah dan Ustadz Hanung al Hamat oleh Densus 88 Antiteror terkait kasus terorisme pada selasa (16/11/2021) menyusul tagar #BubarkanMUI (AKURAT.co 19/11/2021).

Terkait Tagar pembubaran MUI yang menjadi trending di dunia jagat maya, membuat para tokoh umat Islam gerah bereaksi. Wakil Ketua MPR RI Dr Hidayat Nur Wahid (HNW) mengingatkan umat Islam dan negara agar waspada terhadap gerakan yang bisa menunggangi isu terorisme sehingga berimbas muncul wacana pembubaran Majelis Ulama Indonesia (Republika.Co.Id 19/11/2021).

Pernyataan senada juga muncul dari ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia(KNPI), Haris Pertama, menolak wacana segelintir orang untuk membubarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Haris mengungkapkan wacana tersebut merupakan pola pemikiran yang sesat dan berlebihan, karena MUI adalah salah satu benteng pemersatu umat dan penting umat Islam untuk menjaga persatuan, kesatuan dan keislaman umat (SINDOnews. (20/12/2021).

Mencermati "framing" yang dijadikan trending topic pembubaran MUI pasca penangkapan pimpinan MUI Ahmad Zain An Najah oleh Densus 88 jelas akal-akalan, dan menjadi agenda politik tersistematis kerja rezim saat ini. Yang menjadi pertanyaan, bukankah jamak diketahui MUI adalah organisasi legal dan formal menjadi wadah musyawarah para ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim se-Indonesia, baik individual maupun yang terhimpun dalam ormas-ormas Islam, mengapa getol ingin dibubarkan? 

Framing Bubarkan MUI, Bukti Rezim Islamophobia

Terang saja, penangkapan Akhmad Zain beserta dua rekannya yaitu Ustadz Farid Okbah Ketua Umum Partai Dakwah Rakyat Indonesia (PDRI) dan Ustadz Anung Al Hamat di waktu subuh mengundang banyak tanya. Mengapa mereka dituduh tersangka teroris? Padahal mereka dikenal pendakwah anti kekerasan. 

Hingga detik ini, berbagai pihak terus menyuarakan suara ketidaksetujuannya, pasalnya ketiga sosok ulama tersebut dikenal sebagai penceramah yang sangat ramah dan anti kekerasan. 

Sebagaimana Mualaf muda Felix Siauw saja merasa heran, atas alasan apa pemerintah menangkap Ustadz Farid Okbah? Sosok Ustadz Farid yang sangat ramah dengan isi ceramah yang anti kekerasan, ilmiah dan sangat santun dalam tuturnya mustahil kalau disematkan sebagai pelaku teroris. Jelas ini merupakan tuduhan yang sangat keji. Felix juga menuturkan sikap aparat yang membiarkan orang-orang yang jelas menistakan agama Islam, mengolok-olok Islam, malah dibiarkan oleh penegak hukum. Bukankah ini sebuah dagelan ketidak adilan yang dituntun dan dipertontonkan kepada masyarakat yang tidak baik?

Begitu pula, Hidayat Nur Wahid ikut memberikan pernyataan mengapa densus 88 tidak bertindak cepat terhadap KKB di Papua yang saat ini jelas-jelas melakukan penantangan terhadap aparat, membuat teror, dan memberikan ancaman kepada rakyat Papua. Namun sampai detik ini, tidak tersentuh oleh hukum bahkan terkesan dibiarkan. 

Berdasarkan fakta di atas jelas penangkapan tiga ulama oleh Densus 88 terkait dugaan terorisme padahal tidak didasarkan bukti kuat, menegaskan sikap aparat, Densus 88 yang tendensius, provokatif dan menyudutkan Islam.

Ditambah lagi, meski ada hari toleransi Internasional, intoleransi kerap terus menimpa Islam, ajarannya dan umat Islam. Buktinya tepat di Hari peringatan toleransi Internasional densus 88 justru bertindak intoleransi. Menangkap tanpa bukti kuat, memasuki paksa pondok pesantren putri yang jelas nyata ada kehidupan khusus para santri dan mengacak acak kamar pribadi Ustadz tanpa izin dari sang pemilik, seperti yang diungkap oleh Irny, istri Ustadz Zain An Najah pada konferensi pers sehari setelah penangkapan Ustadz Zain An Najah. Bukankah ini tindakan intoleransi densus 88? Untuk apa ada hari toleransi dibuat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat global tentang sikap toleran. Sementara sikap intoleran justru ditontonkan nyata di hari ceremonial toleransi. Lantas sikap siapa yang sebetulnya tidak toleran, teriak sebarkan toleransi namun faktanya justru masyarakat dipertontonkan arogansi dan intoleransi.

Parahnya lagi didunia jagat maya, ramai-ramai framing dan trending bubarkan MUI sengaja dihembuskan untuk menggiring umat agar mengamini pembubaran Majelis Ulama Indonesia lantaran MUI telah tersusupi oleh salah satu pelaku terorisme. Padahal selama ini, MUI telah mengambil sikap menolak terorisme dan mendukung pemberantasan terorisme. Bahkan sikap kebangsaan MUI selama ini jelas mendorong Islam moderat dan kerukunan antar umat beragama.

Mencermati rangkaian peristiwa yang terjadi, dari penangkapan tiga ulama tepat di hari peringatan toleransi Internasional sampai muncul tagar#bubarkanMUI, sebetulnya menegaskan framing digunakan untuk menekan MUI secara sistematis kearah mana kompas MUI dibawa ke depan. Ya, tentu saja kian menguatkan arus moderasi Islam dan memuluskan war on terorisme/war on Islam, yang semuanya merupakan bagian agenda pengukuhan sistem kapitalis sekulerisme di negeri mayoritas muslim. Dengan demikian umat Islam menjadi semakin lemah dan pesakitan hingga betul betul hanya kapitalisme yang menjadi satu satunya sistem yang berkuasa dan ini adalah ancaman nyata bagi umat Islam, juga umat manusia secara keseluruhan. 

Hanya pada Khilafah Dunia Berharap

Terorisme bukan ajaran Islam. Definisi terorisme secara resmi juga sampai saat ini masih abu-abu. Amerika yang notabene telah melakukan banyak pembantaian, invasi ke negeri negeri muslim, menghancurkan seluruh isi baghdad dan menewaskan lebih dari satu juta nyawa, tidak pernah disematkan sebagai negara teroris. Masih sangat lekat juga bagaimana pembantaian umat Islam olah umat Hindu di India dan muslim Burma oleh umat Budha di Burma. Tragedi tersebut menewaskan banyak nyawa umat Islam, namun tidak pernah label teroris disematkan pada umat Hindu di India dan umat Budha di Burma.

Untuk itu, umat sejatinya berpikir untuk mewaspadai dan tidak terprovokasi oleh framing yang dibuat oleh musuh Islam dan terjebak agenda war on Islam. 

Setali tiga uang, moderasi Islam dan terorisme adalah ide yang dihembuskan barat dalam pengukuhan sistem kapitalismenya. Sementara Islam dengan tegas menempatkan yang haq dan bathil, seluruh ajarannya adalah rahmat bagi seluruh alam. Sehingga tidak layak barat mengkriminalisasi ajaran Islam yang mereka sebut ekstrim, dan menggantinya dengan paham moderat. Sudah sepatutnya umat berpikir dan bersikap jernih dalam memandang kasus apapun yang menimpa umat, terutama kasus terorisme, agar tidak terjebak pada rekayasa Barat.

Islam juga mengajarkan toleransi terbaik yang tidak pernah diajarkan sistem mana pun.

Sejarah mencatat, pada masa Daulah Khilafah, toleransi sesuai syariat Islam mampu menjadikan kaum muslim dan pemeluk agama lainnya bisa hidup berdampingan secara damai, selama berabad-abad lamanya. Dunia mengakui hal tersebut. T.W. Arnold, dalam buku The Preaching of Islam, menyebutkan bahwa nonmuslim yang hidup di bawah pemerintahan Khilafah Utsmaniyah menerima perlakuan baik dan toleran. Ia menyatakan, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan pada mereka, dan perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen.” 

Selanjutnya, Arnold menjelaskan, “Perlakuan pada warga Kristen oleh pemerintahan Ottoman—selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani—telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.”

Berbeda halnya dengan kapitalisme justru sebaliknya. Sekalipun negara-negara kapitalis menyerukan toleransi dan mengklaim sebagai negara paling toleran, faktanya jauh panggang dari api. Mereka justru mencontohkan buruknya praktik toleransi. Terhadap negara-negara muslim mayoritas seperti Indonesia, mereka (negara-negara kapitalis) berteriak lantang menyeru toleransi. Mereka memaksa umat Islam untuk mengakui kebenaran agama-agama lainnya demi toleransi, padahal hal itu menyalahi akidah mereka. Sedangkan di negara-negara yang muslim minoritas, mereka memaksa umat Islam keluar dari agamanya (muslim Uighur di Cina); mengusir dari tanah dan rumahnya (muslim Rohingya di Myanmar dan Palestina), meninggalkan keyakinan terhadap syariatnya (larangan memakai cadar di sebagian negara-negara Eropa), penistaan agama (seperti penghinaan kepada Nabi saw. yang sering terjadi dan dibiarkan), dan seterusnya. 

Dengan demikian telah jelas, kita perlu terus memahamkan umat bahwa terorisme, radikalisme, moderasi Islam adalah alat barat untuk menghancurkan Islam, dan sebetulnya kapitalisme adalah ancaman nyata bagi umat Islam, juga umat manusia secara keseluruhan. Hanya dengan tegaknya Khilafah yang akan menerapkan hukum-hukum Allah secara kafah, dunia akan selamat dari segala bentuk keburukan dan penderitaan akibat kapitalisme. Wallahu 'alam. 

Posting Komentar untuk "Framing Bubarkan MUI, Narasi Sesat kukuhkan Kapitalisme?"