Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengamat Politik: Bukan Penegakan Khilafah Yang Berdarah-darah Tetapi…



Jakarta, Visi MuslimMenjawab tuduhan atas perjuangan penegakan khilafah yang seolah-olah menimbulkan huru-hara, bencana bahkan pertumpahan darah, Pengamat Politik Lutfhi Affandi menegaskan, justru yang memakan jutaan korban jiwa bukan dari sistem khilafah.

“Jelas secara historis, faktual, empirik, memakan korban jutaan orang bukan sistem khilafah. Tolong catat itu, bukan sistem khilafah, melainkan sistem selain khilafah, (yakni) sistem politik demokrasi, sistem sosialisme-komunis,” ujarnya dalam Kajian Politik Islam: Menegakkan Khilafah Tanpa Darah, Mungkinkah? di kanal YouTube Khilafah Channel Reborn, Sabtu (15/01/2022).

Lagi pula, lanjut Lutfhi, jalannya perubahan melalui tegaknya khilafah, sebagaimana dicontohkan Nabi SAW adalah jalan dakwah. “Bagaimana bisa jalan dakwah itu akan menimbulkan korban nyawa?” tanyanya.

“Bagaimana bisa? Yang terjadi perubahan pemikiran iya. Perubahan sikap dan perilaku iya. Tetapi tidak akan terjadi perubahan yang menimbulkan korban nyawa, tidak,” tegasnya sekali lagi.

Malah stigma yang menurut Luthfi hendak dilekatkan pada perjuangan syariat Islam yang akan memakan banyak korban hingga berdarah-darah sama sekali tak memiliki dasar dan juga ahistoris.

Ia juga mengatakan, fitnah yang sangat berbahaya bagi umat Islam serta ajaran Islam, khilafah, keluar dari mulut orang-orang yang dipenuhi kebencian terhadap Islam.

Terlebih, katanya lagi, ide khilafah yang termasuk sebuah gagasan Islam, semestinya dilawan dengan gagasan. “(Tetapi) mereka tidak mampu melawan gagasan dengan gagasan,” tukasnya.

Sehingga ia menekankan, pertanyaan relevan terkait ‘memakan korban jiwa’ atau bahkan ‘berdarah-darah’ semestinya adalah sistem politik apa yang telah menyebabkan korban jiwa yang bahkan hingga jutaan orang kehilangan nyawa?

Terkait itu ia menyampaikan, di tahun 1789-1799 silam, di masa Revolusi Prancis, justru kehidupan dari kurang lebih 40 ribu rakyat di sana termasuk di antaranya Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette sendiri, harus berakhir dengan cara dieksekusi dengan guillotine, alat pancung yang sangat terkenal kala itu.

“Kita tahu ya, Revolusi Prancis itulah yang kemudian melahirkan sistem politik demokrasi modern,” terangnya.

Kemudian Revolusi Bolshevik. “Revolusi Bolshevik 1917 itu juga memakan korban juga enggak sedikit. Ada yang mengatakan itu sampai jutaan orang,” ungkapnya.

Bahkan sejak 2001 pun, imbuh Lutfhi, Amerika Serikat (AS) telah melakukan agresi militer atas Afghanistan, serta menewaskan lebih 363 ribu jiwa. Sementara, di tahun 2003, agresi tersebut berlanjut ke Irak yang juga memakan korban hampir setengah juta jiwa. “Ini dilakukan oleh negara yang mengklaim sebagai negara demokrasi,” timpalnya.

Lantas, ketika muncul pertanyaan benarkah perjuangan penegakan khilafah akan berdarah-darah? Luthfi menjawab tidak. “Jawaban singkatnya saya katakan tidak,” tegasnya.

Wajib

Khilafah, kata Lutfhi, termasuk perkara sangat penting yang harus diyakini serta menegakkannya adalah kewajiban bagi umat Islam. “Para ulama sepakat bahwa wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang khalifah dan kewajibannya mengangkat khalifah itu berdasarkan syariah,” tuturnya mengutip pernyataan Imam Zakaria an-Nawawi as-Syafi’i dalam Syarah Sahih Muslim.

Lantas ia menyimpulkan bahwa wajibnya keberadaan khilafah merupakan tajul furudh (mahkotanya kewajiban). “Keberadaan khilafah itu menyebabkan sekian banyak hukum Islam bisa diterapkan, dan ketiadaan khilafah itu mengakibatkan ribuan hukum Allah SWT tidak bisa diterapkan,” tuturnya.

Maka itu, dengan merefleksi dakwah Nabi SAW, Lutfhi berharap di tengah-tengah kaum Muslim ada generasi berikut kelompok-kelompok dakwah yang bersifat politis.

Sebabnya, daulah Islam atau khilafah Islam adalah institusi politik. Maka aktivitas atau gerakan yang harus ada di tengah-tengah umat juga bukan sekadar gerakan dakwah, tetapi gerakan dakwah yang politis.

Maksudnya, setiap generasi Muslim setidaknya memiliki kepribadian (syakhsiyah) Islam, perencanaan yang sahih, rinci dan detail, serta peta jalan dengan metode dakwah yang juga sahih dan dilakukan secara konsisten.

Sebagaimana ketika Rasulullah SAW pertama kali mendapatkan wahyu di usia ke-40 tahun, beliau lantas diperintahkan berdakwah kepada orang-orang terdekat serta kerabat dengan melakukan tatsqif atau proses pembinaan.

“Yang tadinya kafir, diajak Rasulullah masuk Islam kemudian dibina oleh Rasulullah di rumahnya Arqam bin Abi al-Arqam,” terangnya.

Kemudian, melakukan dakwah secara terbuka setelah turunnya Firman Allah SWT yang artinya, ‘Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik’ (QS al-Hijr: 94).

“Inilah disebut dengan interaksi dengan umat, interaksi dengan masyarakat,” paparnya dengan mengatakan dakwah demikian memiliki konsekuensi munculnya berbagai macam reaksi masyarakat, termasuk dari orang-orang kafir Quraisy pada saat itu.

Lalu Rasulullah SAW melakukan aktivitas dakwah politik dalam rangka meraih kekuasaan untuk menerapkan Islam. “Ini yang disebut dengan thalab an-nushrah. Yakni Bagaimana upaya untuk meraih dukungan pihak yang punya kekuatan riil untuk menegakkan daulah Islam,” jelasnya.

Dengan demikian, dari serangkaian aktivitas dakwah tersebut, diharapkan akan muncul opini umum berkenaan dengan pentingnya kembali pada aturan Islam dengan penerapannya secara totalitas. “Jadi metodenya adalah dakwah,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Posting Komentar untuk "Pengamat Politik: Bukan Penegakan Khilafah Yang Berdarah-darah Tetapi…"