Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ulama Aswaja Tapal Kuda Tegaskan Haramnya Kedzaliman Terhadap Rakyat

 


Tapal Kuda, Visi Muslim- Para ulama dan tokoh masyarakat berkumpul dan bersuara dalam acara Multaqo Ulama Aswaja Tapal Kuda bertajuk ‘Islam Mengharamkan Rezim Zalim, Kriminalisasi Ulama dan Ajaran Islam’. Shohibul Fadhilah Al Mukarrom Kyai Sepuh Zainulloh Muslim yang turut hadir mengungkapkan penguasa saat ini terkesan menjadi rezim yang zalim dan terkesan menjadi musuh Islam dan ulama. (Selasa, 25 Januari 2022)

Menurut Pengasuh Pondok Tahfidz Al Itqon Pasuruan, keberadaan penguasa suatu negara di tengah-tengah rakyat adalah sebagai pelayan. Ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad saw, pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.

“Sebagai pelayan, penguasa atau pemimpin bertanggung jawab terhadap keamanan, keselamatan, kesejahteraan dan keadilan rakyatnya. Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya,” kata beliau.


Penguasa yang baik adalah yang bisa memberikan keamanan, keselamatan, kesejahteraan dan keadilan pada rakyatnya bisa diukur dari hubungannya dengan rakyat. Apabila antara penguasa atau pemimpin dan rakyatnya saling mencintai dan saling mendoakan, maka pertanda bahwa penguasa tersebut adalah baik. Nabi saw bersabda:

”Sebaik-baik pejabat negara kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka.” (HR Muslim)

“Namun, penguasa yang ada saat ini tidak benar-benar menjadi pelayan rakyat. Mereka terkesan memposisikan diri sebagai pedagang dan makelar alias calo, sedangkan rakyat diposisikan sebagai pembeli. Yang mereka inginkan adalah keuntungan dari ‘bisnis’ pelayanan rakyat dan komisi dari ‘pemasaran’ kebutuhan rakyat. Mereka tidak lagi merasa bertanggung jawab terhadap kebutuhan rakyatnya. Karenanya, mereka dibenci bahkan dikutuk dan dilaknat oleh rakyatnya sendiri,” ungkap Kyai Sepuh.


“Penguasa terkesan tidak melakukan evaluasi terhadap kesalahan dalam mengatur negara, kerusakan dalam mengelola sumber daya alam dan kekacauan dalam melayani rakyat. Yang dilakukan justru mencari kambing hitam, mengkriminalisasi agama Islam dan mempersekusi aktivisnya. Agenda yang diprogramkan pun deradikalisasi, moderasi agama, dan lain-lain yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan problem yang dihadapi rakyat, bangsa dan negara”, imbuh Kyai Sepuh.

Melengkapi penjelasan tersebut, Direktur Rumah Inspirasi Perubahan, Shohibul Fadhilah Al Mukarrom Ustadz Indra Fakhruddin mengungkapkan bahwa para ulama Aswaja mensepakati menegakkan Khilafah hukumnya wajib. “Seluruh ulama Aswaja sepakat bahwa adanya Khilafah dan upaya menegakkannya ketika tidak ada hukumnya wajib,” ujarnya.

Beliau menambahkan, keadilan dan Islam satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, oleh karena itu, tidak aneh jika para ulama mendefinisikan keadilan (al-‘adl) sebagai sesuatu yang tidak mungkin terpisah dari Islam.

“Menurut Imam Ibnu Taimiyah, keadilan adalah apa saja yang ditunjukkan oleh al-Kitab dan as-Sunnah (kullu ma dalla ‘alayhi al-Kitab wa as-Sunnah), baik dalam hukum-hukum hudud maupun hukum-hukum yang lainnya (Ibnu Taimiyah, As-Siyasah as-Syar’iyyah, hlm. 15). Disamping memang adil adalah menempatkan sesuatu pada tempat semestinya, yakni sesuai syariah,” pungkasnya.

Di ujung perhelatan kegiatan ditutup dengan Pembacaan Pernyataan Ulama oleh Shohibul Fadhilah Al Mukarrom Gus Fauzan, Pengasuh MT. Bani Salim Pasuruan.[]

Posting Komentar untuk "Ulama Aswaja Tapal Kuda Tegaskan Haramnya Kedzaliman Terhadap Rakyat"