Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alarm Pencipta untuk Kembali pada Syariat-Nya





Oleh: Ismawati


Sejatinya di Indonesia telah terjadi banyak bencana. Bencana yang masih terasa adalah adanya virus covid-19 yang berkepanjangan, disusul dengan bencana alam lainnya. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dari 1 hingga 31 juli 2021 menyebutkan bahwa kejadian bencana tertinggi yaitu banjir sebanyak 53 kali, kebakaran hutan dan laan 53 kali, angina putting beliung 22 kali, tanah longsor 11, gempa dan kekeringan (bnpb.go.id 3/8/2021).

Bencana-bencana yang terjadi ini tak sedikit menimbulkan korban jiwa, banyak yang kehilangan harta benda, dan juga kerugian lainnya. Terbaru ini adalah bencana erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur. Hingga hari Jumat (10/12) dikabarkan sudah ada 45 warga meninggal dunia. Pengungsi tercatat sebanyak 6.573 orang di 126titik pengungsian. Selain itu kerugian material sementara berupa 2.970 rumah daan 33 fasilitas umum (bbcnews.com 4/12).

Sejatinya berbagai bencana yang datang merupakan ketentuan dari Allah Swt yang tak dapat ditolak kedatanganya. Sebagai seorang muslim hendaknya kita senantiasa bersabar, rida dan ikhlas. Allah Swt berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 155, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. Tentu bersabar saat pertama kali ditimpa ujian atau cobaan.

Terlebih, Rasulullah Saw. mengingatkan kita bahwa setiap musibah yang menimpa manusia bisa menghapus dosa-dosa. Rasulullah Saw. bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah (bencana) berupa kesulitan, rasa sakit, kesedihan, kegalauan, kesusahan, hingga tertusuk duri kecil kecuali Allah pasti akan menghapus sebagian dosa-dosanya” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Jika kita senantiasa bersabar dan ikhlas maka Allah Swt. akan menghapus dosa-dosa kita.

Namun, perlu menjadi bahan muhasabah (renungan) bagi manusia, sejatinya manusia itu adalah makhluk yang lemah. Di tengah banyak bencana yang terjadi tak satu pun dari kita yang mampu mencegahnya. Tak satu pun jua dari kita yang mampu lari dari kejadian yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Di mana pun, kapan pun, dan dalam kondisi apapun kita tentu membutuhkan pertolongan dari Allah Swt. Firman Allah, “Apakah kalian merasa aman terhadap (hukuman Allah) yang berkuasa di langit saat Dia menjungkirkbalikkan bumi bersama kalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Ataukah kalian merasa aman dengan azab Allah yang (berkuasa) di langit saat Dia mengirimkan angina disertai debu dan kerikil? Kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku” (TQS. Al-Mulk : 16-17).

Maka, adanya bencana dapat menjadi alarm bagi manusia dari Sang Pencipta yang lalai akan syariat-Nya. Penyebab banjir misalnya, terjadi karena curah hujan di atas normal, sehingga sistem pengairan air yang terdiri dari sungai dan anak sungai meluap karena kanal penampung banjir tidak mampu menampung akumulasi air. Hutan-hutan juga banyak dikapitalisasi, yakni ditebang untuk kebijakan pembangunan infrastruktur. Tentu kita masih ingat bencana banjir bandang yang pernah menimpa Kalimantan Selatan di awal Tahun 2021, Greenpace Indonesia menduka bahwa penyebab banjir ini karena Daerah Aliran Sungai (DAS) yang telah kehilangan sekitar 304.225 hektare tutupan hutan sepanjang 2001-2019.

Semua itu terjadi karena adanya sistem kapitalisme yang diadopsi untuk mengatur kehidupan manusia. Sistem kapitalisme adalah sumber hukum buatan manusia yang menafikkan peran agama mengatur kehidupan, karena landasannya adalah sekularisme. Asal muasal semua kemaksiatan karena manusia diatur dengan sistem ini. Lihatlah, bagaimana kerusakan alam timbul dari manusia, ditambah lagi praktik zina dan riba merajalela.

Kemaksiatan yang terjadi mengakibatkan kerusakan di muka bumi ini. Mengabaikan hukum Allah untuk mengatur kehidupan manusia. Kapitalisme memudahkan para korporat untuk mengeruk kekayaan alam untuk kemaslahatan individu. Sementara rakyat, harus menelan pil pahit lantaran minimnya kesejahteraan. Sehingga, malah memunculkan bencana baru, yakni gizi buruk, kelaparan, kemiskinan, masalah pendidikan, ketimpangan ekonomi, bahkan krisis kesehatan.

Oleh karena itu, alarm keras dari Pencipta ini sinyalnya harus ditangkap dengan baik oleh manusia. Selain memaknai bencana sebagai qadha, juga seharusnya muhasabah untuk kembali pada hukum Allah. Yakni kembali kepada sistem Islam untuk mengatur kehidupan manusia. Sejatinya Islam adalah agama yang sempurna bukan hanya mengatur masalah ibadah ritual, namun seluruhnya baik itu muamalah dan sanksi.

Jika syariat Islam diterapkan di negeri ini, maka keberkahan akan lahir bagi manusia, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an surat Al’A’raf ayat 96 yang artinya, “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit, dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami, maka Kami siksa mereka sesuai apa yang mereka kerjakan”


Wallahu a’lam bishowab. 

Posting Komentar untuk "Alarm Pencipta untuk Kembali pada Syariat-Nya"