Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penyebab Utama Ujaran Kebencian (Hate speech) Adalah Kapitalisme Sekuler, Bukan Islam



 Istilah ujaran kebencian (hate speech) menyebar dan digunakan untuk mencapai keuntungan politik bagi negara-negara Barat, bahkan Barat berjanji untuk menekankan penyebab kebencian melalui hukum Mahkamah Internasional. Namun, ironisnya justru mereka adalah penjahat dan penghasut terbesar kebencian, di mana perang mereka yang menyebabkan genosida di seluruh dunia membuktikan hal ini. Jika memang benar demikian, maka dunia harus bergerak untuk menghilangkan semua penyebab kejahatan internasional terhadap kaum Muslim, di setiap tempat di mana mereka dibantai, bahwa yang hidup dan yang sudah mati pun disiksa, kekayaan mereka dijarah, juga perdagangan senjata yang menguntungkan padahal itu menjadi pemicu perang yang korbannya adalah ribuan kaum Muslim.

Barat juga yang mendorong terjadinya ujaran kebencian (hate speech) terhadap kaum Muslim dan Islam sebagai sistem politik, yang dengan sengaja memaksakan sudut pandangnya untuk memisahkan Islam dari kehidupan melalui perjanjian internasional, dan mewajibkan negara-negara Islam untuk memberlakukan konstitusi yang memisahkan agama dari kehidupan, bahkan Barat melangkah lebih jauh dari itu dengan mengobarkan perang terhadap Islam.

Penyebab utama ujaran kebencian (hate speech) adalah kapitalisme sekuler dengan ideologi dan sistemnya, yang setiap hari gagal memenuhi hak masyarakat yang telah mereka jajah dengan pasukan atau pengaruhnya. Sebab yang didapati masyarakat hanyalah ketidakadilan, serta pemaksaan keyakinan dan cara hidup mereka.

Di sisi lain, di bawah naungan negara Khilafah, masyarakat dari berbagai agama dan afiliasi etnis hidup dalam harmoni yang disaksikan oleh sejarah. Kehidupan harmoni seperti itu yang akan segera kita saksikan, insya Allah, ketika Khilafah Rasyidah kedua ‘ala minhājin nubuwah sudah tegak kembali (alraiah.net, 13/7/2022).

Posting Komentar untuk "Penyebab Utama Ujaran Kebencian (Hate speech) Adalah Kapitalisme Sekuler, Bukan Islam"