Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Only One Earth, Mungkinkah dalam Industrialisasi Kapitalis?



Oleh: Alfisyah Ummu Arifah, S.Pd (Pegiat Literasi Islam)


Hari lingkungan hidup sedunia telah diperingati pada 5 Juni 2022. Indonesia pun bergerak dengan menebar ribuan benih, menanam ratusan pohon dan menggalakkan infrastruktur hijau.

Hal ini dilakukan untuk mendukung tema hari lingkungan hidup yang diusung yaitu "Only One earth". 

Satu dunia untuk masa depan.

Ya, melihat tema itu kita menjadi tenang, adem dan nyaman. Namun faktanya justru yang tampak di hadapan kita adalah hal yang sebaliknya. Gundukan sampah berbau di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah. Belum lagi gunungan sampah plastik di dasar laut negeri ini. Bahkan seekor ikan paus mati karena isi perutnya berisikan sampah plastik.

Tidak cukup hal di atas. Beberapa bencana di negeri ini juga disebabkan oleh berkurangnya area resapan air di pegunungan. Tentu akibat penebangan yang jor-joran. Lalu, berkurangnya daerah resapan air karena disulap menjadi area pemukiman. Bencana-bencana itu melanda sebagai kompensasi atas kerusakan lingkungan hidup di dunia ini termasuk di Indonesia.

Kini, saat hari lingkungan hidup itu diperingati. Sayangnya hanya diberikan solusi yang tidak tepat arahnya. Solusinya justru solusi

cabang karena solusi utamanya tidak menyentuh akar masalahnya. Apakah akar masalahnya?

Akar masalahnya adalah industrialisasi era kapitalis yang tidak memperhatikan lingkungan hidup. Jauh dari kata ramah linkungan.

Lihatlah pengelolaan sampah, lalu sampah plastik yang menggunung adalah dampak dari rakusnya ambisi kapitalisme global. Semua itu mengejawantah dalam dunia industri yang merusak alam.

Lalu dimana hubungan berbanding lurus yang akan kita lihat jika solusinya hanyalah solusi cabang?

Penyebaran ribuan benih nila, penanaman pohon dan kegiatan ramah lingkungan lainnya memang baik.

Namun sistem industrialisasi kapitalisme penyebab rusaknya alam tetap diberlakukan. Ambisi para investor mengeruk kekayaan untuk kepentingan mereka para kapital itu menzalimi masyarakat. Mengambil haknya dan merusak kelestariannya.

Inilah memang yang tampak. Saat kapitalisme berkuasa. Perlindungan terhadap alam jauh dari kata baik. Tak bisa dipungkiri kepentingan menguasai aset masyarakat secara ugal-ugalan itu telah merugikan orang banyak. Dibutuhkan solusi yang komprehensif untuk menghentikan dominasi para kapital yang merusak alam ini. Jika tidak maka "only one earth" hanyalah omong kosong belaka.

Gambaran perbandingan lingkungan hidup yang lestari hanya bisa kita saksikan saat pengaturannya itu berdasarkan aturan islam. Sepanjang 13 abad penerapan islam di dunia islam dahulu. Lingkungan hidup, kekayaan alam di permukaan dan perut bumi senantiasa terjaga. Alam pun asri karena pengelolaannya sesuai syariat dan ramah lingkungan.

Andaipun ada pembangunan infrastruktur, tetap dilakukan dengan cara yang ramah lingkungan. Islam memiliki kaidah yang unik dalam pelestarian bumi ini.

Al-Qur'an pun sering sekali mengingatkan manusia agar tidak merusak alam. Hadis terkait penggunaan air yang benar meskipun sedang berada di atas sungai menjadi panduan. Panduan menggunakan alam secara baik diajarkan dan diterapkan oleh penguasa negara islam kala itu. 

Saat sungai Nil mengering di Mesir, Kholifah Umar memerintahkan masyarakat agar introspeksi diri dan memohon ampun dari dosa dan maksiat yang dilakukan.

Demikianlah, sebuah sistem dunia yang damai, asri dan lestari butuh pada pengaturan negara yang benar. Pengaturan sesuai kehendak Allah SWt. Bukan pengaturan yang mencampakkan eksistensi tuhan dan aturannya di dunia. Only one earth sesuatu yang tak mustahil terwujud jika diterapkan oleh negara yang bersistem islam rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a'lam bish-showaab. 

Posting Komentar untuk "Only One Earth, Mungkinkah dalam Industrialisasi Kapitalis?"