Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Praktik Syirik hingga Dukun Bersertifikat Tumbuh Subur, Negara Abai?




Oleh: Sherly Agustina, M.Ag. (Penulis dan pemerhati kebijakan publik)

Allah Swt. berfirman dalam surat An Nisa ayat 48, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa lainnya bagi siapa yang Ia kehendaki"

Bagi siapa pun yang beriman, tentu bergetar hatinya jika membaca firman-Nya berkaitan dengan dosa syirik yang tidak akan pernah diampuni oleh Allah. Karena bagi seorang mukmin yang benar, apa pun yang dilakukan semata hanya ingin mendapat rida dan pahala di sisi Allah. Apabila Allah murka, sebuah bencana yang membut hati remuk redam dan luluh lantak. Maka sebisa mungkin jangan pernah melakukan sesuatu yang mengundang murka-Nya.

Tampaknya, di negeri ini krisis keimanan semakin akut. Bahkan, praktik syirik dan perdukunan kian merajalela. Dipertontonkan di sosial media tanpa ada rasa bersalah dan dosa. Bahkan, sengaja agar viral dan dikenal, sehingga bisa menambah modal. 

Dunia jagat maya dihebohkan dengan video viral seorang dukun yang melakukan ritual meminta kekuatan gaib. Kabarnya, hal itu dilakukan untuk melawan pesulap merah Marcel Radhival. Tampak di dalam video yang diunggah akun tiktok menampilkan sang dukun melakukan ritual dengan foto Pesulap Merah dan gambar sertifikat dukun tersebut. Dukun tersebut ingin melawan Pesulap Merah, karena geram dengan pernyataannya yang dinilai menghina profesi dukun (Pikiranrakyat.com, 8/8/2022).

Negara Abai 

Inilah fakta yang terjadi, miris di negeri mayoritas muslim praktik syirik bisa berkeliaran bebas. Negara pun tampak abai dengan hal ini, karena sistem sekuler yang diterapkan memang tak menghendaki agama mengatur sistem kehidupan. Semua dikembalikan pada hak asasi warga negara meski bertentangan dengan syara' (syariat). 

Dalam sistem sekularisme-kapitalisme, negara akan meilirik jika ada keuntungan bagi negara secara materi. Kapitalisme hanya memandang materi saja bukan yang lain. Ditambah sekuler tak ingin agama terlibat dalam aspek kehidupan dan negara. Maka wajar jika kemusyrikan merajalela dan dibiarkan begitu saja. 

Sekularisme telah membiarkan umat semakin jauh dari syariat dan merusak akidah. Memang ini yang diinginkan oleh musuh Islam, umat Islam jauh dari keislamannya tidak berpegang teguh pada syariat. Agar kaum muslim tak pernah bangkit dan menguasai dunia seperti yang mereka takutkan. Musuh Islam tahu, jika umat berpegang teguh pada syariat maka kebangkitan dan kemenangan umat di depan mata. Ancaman untuk mereka.

Kemurnian Akidah Sangat Berharga

Dalam Islam, akidah atau keimanan adalah hal yang paling berharga bagi seorang muslim dan mukmin. Modal agar suatu saat nanti bisa bertemu dengan Allah. Kalimat laa Ilaha Illa Allah sangat berharga, bahkan keutamaannya bisa mengalahkan apa pun. Dalam sebuah riwayat, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. Setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat zholim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Sehingga kamu tidak termasuk orang zalim pada hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosulullah’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya.Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tadi. (HR. Ibnu Majah no. 4300, Tirmidzi no. 2639 dan Ahmad 2: 213. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy yaitu kuat dan perowinya tsoiqoh termasuk perowi kitab shahih selain Ibrahim bin Ishaq Ath Thoqoni. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). (rumaysho.com)

Jika seseorang melalukan praktik syirik lalu orang lain mempercayainya dan bersandar pada dukun tersebut, di mana pertanggungjawaban kalimat tauhid yang selama ini sering dibaca. Bahwa tak ada ilah (tuhan) lain tempat bergantung, meminta pertolongan, perlindungan dan penjagaan selain Allah. Bersekutu dengan jin atau makhluk gaib lainnya telah mengotori akidah seseorang. Seolah tak percaya pada ketetapan Allah yang baik atau pun buruk.

Padahal, bagi seorang mukmin harus yakin pada ketetapan Allah apa pun itu. Yakin bahwa qada atau ketetapan Allah pasti yang terbaik karena Allah Sang Maha Pengatur kehidupan. Konsekuensi keimanan akan menerima dan tunduk patuh pada Sang Pencipta karena begitulah sunnatullah nya seorang hamba.

Dalam Islam Negara Menjaga Akidah Umat 

Negara yang menerapkan Islam sangat menjaga akidah umat, tak akan dibiarkan ada celah sedikit pun yang bisa merusak akidah. Jika praktik syirik karena dorongan ekonomi, negara menjamin kebutuhan dasar setiap warga negara per kepala. Menjamin kebutuhan kolektif pendidikan dan kesehatan karena itu hak warga negara.

Jika dorongannya karena ketidaktahuan maka negara akan menjamin pendidikan yang berkualitas agar warga negara tak terjerumus pada praktik syirik. Jika karena ada gangguan bawaan sejak lahir, maka negara akan mengobatinya dengan rukyah syar'iyyah hingga sembuh. Apa pun menjadi tanggung jawab negara agar warga negaranya tak terpeleset ke jurang kemaksiatan akidah. 

Mengapa demikian, karena akidah ini sangat penting bagi seorang mukmin. Berjalannya sebuah sistem dalam Islam pun berdasar pada akidah Islam bukan yang lain. Kekuatan akidah Islam ini yang membuat Islam pernah memimpin dunia di masa dulu, hingga menguasai dua pertiga belahan dunia. Menjadi negara adi daya yang tak terkalahkan, negara lain silau dan gentar jika mendengar nama daulah Islam. 

Betapa akidah Islam sangat berharga dalam Islam, pancaran akidah Islam ini dari kalimat laa Ilaha Illa Allah. Satu kalimat yang mewakili bahwa hanya kepada Allah saja tempat meminta segalanya. Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Siapa pun yang akhir ucapannya (ketika menjelang ajal) kalimat La ilaha illallah maka ia masuk surga’.”

Allahualam bishawab. 

Posting Komentar untuk "Praktik Syirik hingga Dukun Bersertifikat Tumbuh Subur, Negara Abai?"