Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Remaja Krisis Mental Serta Moral


Oleh : Nining Tri Satria, S.Si (*)

Berbicara mengenai remaja tak ada habisnya. Masa remaja merupakan periode transisi dari anak menuju dewasa. Pada usia ini kerap ditemukan perilaku berisiko yang bisa jadi mengarah ke tindakan kriminal kenakalan remaja disebabkan oleh dua faktor yaitu subjektif (dari diri sendiri) dan objektif (dari lingkungan). Jika di dalam diri remaja tidak ditanamkan rasa keimanan yang kuat, maka akan dengan mudah terbaru arus kekinian. Masa remaja masa yang sangat sensitif bahkan sangat rawan jika tidak dapat mengendalikan hati dengan iman. Hingga saat ini, berbagai krisis moral maupun mental ibarat fenomena gunung es. Di berbagai media tiada hari tanpa berita miring yang menerpa para remaja. Remaja-remaji yang terbuai dengan dunia “cinta monyetnya” yang berujung sengsara, remaja yang memperlakukan orang tua seperti tuan terhadap budaknya, remaja yang rela menengguk racun demi cinta yang kandas dengan pasangan yang belum halal baginya, remaja yang rela menghilangkan jati diri sebagai penerus generasi dengan mengikuti trendi masa kini yang dilampiaskan dengan berbagai cara yang keliru, seperti: pergaulan bebas, pesta sabu, minuman keras, nge-lem, bacok membacok antar teman yang dilatarbelakangi masalah yag tiada berarti dan terlibat kedalam penyakit menyimpang LGBT. Miris. Sangat miris!

Sedikit informasi, murid SD yang masih tergolong masih anak-anak telah terkontaminasi perilaku seks bebas remaja, dan bahkan remaja pelaku seks bebas meningkat. Hampir 100% remaja Indonesia pernah akses video film porno. 2,3 juta kasus aborsi per tahun, 30 persen oleh ramaja. Astagfirullah, banyak remaja SMP menjadi Gay gara-gara sosmed. Dalam setahun, 976 pelajar Yogyakarta hamil di luar nikah. 200 remaja ajukan dispensasi nikah muda, karena hamil duluan (hamdu). Bagaikan fenomena gunung es yang menyeramkan. Fakta diatas hanya kelihatan kulit luarnya , artinya masih banyak fakta kebobrokan mental dan moral dari para remaja di negeri yang katanya menjunjung tinggi moralitas dan senantiasa membanggakan adat ketimurannya ini. Jika faktanya sudah seperti ini, apa mungkin masih bisa mengelak untuk menolak bahwa negeri ini sebenarnya lebih menganut ideologi sekuler-liberal? sungguh sayang seribu sayang generasi ini tergadaikan atas nama modernitas. Semua yang dari barat kepalang menjadi syarat kekinian. Pendidikan agama yang diberikan di rumah dan di sekolah seakan masih kurang mampu membentuk derasnya arus liberalisme yang menerjang para remaja. Karena apa? iya, karena faktor eksternal yang ternyata lebih mendominasi pembentukan karakter remaja kita, yaitu lingkungan pertemanan dan pergaulan baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Terlebih sebagian besar remaja adalah pengguna aktif smartphone yang menjadikan mudahnya promosi dan provokasi ide dan budaya barat, yang menyebabkan bebas masuk ke dalam diri remaja tanpa perlu mengetuk pintu.

Saat ini, seks bebas telah dianggap sudah lumrah, gaul bebas sudah biasa, hamil diluar nikah telah menjadi trendi. Bahkan aborsi menjadi hal yang biasa dengan dalih ingin menikmati masa muda yang bebas tanpa terikat tanpa sedikitpun rasa bersalah ataupun dosa. Naudzubillah !  Perilaku tanpa batas telah merasuk kedalam diri dan benak para remaja saat ini, tanpa kendali adat ataupun norma agama. Suatu sikap kebablasan telah merusak generasi yang mana dipundaknyalah nasib bangsa ini. Nasehat dari orang tua maupun teman sudah tak ada lagi harganya dan dengan dalih HAM semua bebas dilakukan asal tidak mengganggu dan merugikan orang lain. Persepsi inilah yang telah berhasil dengan cemerlang merusak nilai moral generasi remaja saat ini. Kenakalan remaja yang semakin hari semakin menjadi. 

Wahai sahabat remaja, masa depan bangsa. Bangun, sadarlah dari tidurmu, lalu bawa perubahan ! sampaikan juga kepada sahabat-sahabat remaja bahwa liberalisme itu monster jahat yang akan “membunuh” akalmu, melemahkan jiwamu, merusak akhlakmu, mengeraskan hatimu, menghancurkan hidupmu, menyuramkan masa depanmu dan menyengsarakan akheratmu. Kita mesti ingat, kemasan manis propagandanya hanya menutupi kebusukan niat dan tujuan monster liberalisme ini. Hanya dengan satu kata “gaul” saja remaja terhipnotis mengikuti segala yang dari barat. tidak menutup aurat nanti dibilang tidak gaul. Padahal, Rasulullah tercita mengingatkan kita untuk berpegang teguh pada ajaran (islam) yang dibawa Rasul betapapun sulit dan beratnya terlebih di kondisi sekarang. Islam mulia telah begitu indah memberikan paket aturan agar kita bisa menjalani masa remaja dengan indah dan mulia. Rasa suka dan rasa cinta adalah augerah dari Allah kepada semua manusia, namun ekspresi cinta yang indah dan mulia adalah dalam ketaatan kepadaNya bukan cinta yang diumbar sembarang terlebih dengan jalan yang Allah benci. Jangan pernah malu atau merasa terasing saat kita berpegang teguh dengan aturan Allah di tengah kebanyakan remaja yang belum sadar dengan memilih hidup dengan aturan manusia, karena Rasul bahagiakan kita melalui sabdanya “Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulanya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut” Para sahabat berkata, “wahai Rasulullah, siapa orang-rang yang terasng ini? “Rasulullah bersabda “Mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia sudah rusak”. (HR. Ath-Thabrani). Oleh karena itu, bangkitlah wahai remaja, bawa perubahan agar kita pun dapat merasakan bahwa hidup akan terarah dengan mematuhi aturan agama sehingga menyelamatkan generasi dari kehancuran, dengan itu terealisasilah Islam sebagai rahmatan lil a’lamin. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [VM]

(*) Ko. Media Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Dewan Pimpinan Daerah I Provinsi Bengkulu

Posting Komentar untuk "Remaja Krisis Mental Serta Moral "

close